Pasca Reuni 212 di Monas, 2 Desember 2019, teman saya – saat menjadi wartawan di Harian Republika – Hersubeno Arief menulis artikel berjudul: “Alumni 212, Setelah Reuni Lantas Apa?”

Kita harus menulis sebagian besar tulisan Hersubeno Arief yang sangat penting itu: “ditolak -” sesuai namanya “- ada tanda-tanda kegiatan kolosal yang tersangkut ke romantisme dan hanya menjadi sentimental. Kumpul-kumpul. Kangen-kangenan. Atau paling banter melampiaskan pemulihan bersama. Setelah itu massa kembali ke daerah masing-masing. Kembali dalam rutinitas sehari-hari, sambil menunggu menunggu tahun berikutnya.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, reuni berarti pertemuan kembali (bekas teman sekolah, seperjuangan, dan lain sebagainya) setelah berpisah cukup lama. Tidak ada agenda kerja besar yang terencana. Mimpi memberdayakan ekonomi umat. Membangun kekuatan politik yang solid, menguap begitu saja.

Inilah ironi umat Islam Indonesia. Besar statistik, namun gagal melakukan kapitalisasi ekonomi dan politik. Mayoritas tetapi marjinal. Kalah segalanya dari kelompok minoritas. ”

Salah satu yang mendukung Hersubeno Arief adalah pembangunan ekonomi yang benar-benar sempurna. Sebab, kerja membangun ekonomi dan politik perlu ketekunan, kesabaran, keuletan, kelenturan, stamina yang panjang, dan kekompakan. Tidak bisa hanya hangat-hangat tai ayam. (Lihat: https://mujahiddakwah.com/2019/12/alumni-212-setelah-reuni-lantas-apa/).

- Advertisement -

*****

Usulan memanggil senior Hersubeno Arief untuk para Alumni 212 itu penting dipikirkan. Agenda ini diterbitkan dan direncanakan matang. Penyelesaian masalah umat Islam tidak bisa dilakukan di ujung atau hilirnya saja. Tapi, kesuksesan semua program itu bergantung pada siapa saja yang melaksanakannya.

Di sinilah akar persetujuan: Kualitas SDM! Dan ini produk pendidikan! Di awal abad ke-20, Syeikh Basyuni Imran, mufti Kalimantan, berkirim surat kepada Syeikh Amir Syakib Arsalan di Suriah. Judul suratnya: Limaadzaa ta-akhkharal Muslimuun wa-limaadza Taqaddama ghairuhum (Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Mengapa Umat Lain Maju? ).

Surat Syeikh Basyuni Imran dijawab dengan panjang lebar oleh Syeikh Syakib Arsalan, dengan judul yang sama. Jawaban Syeikh Arsalan yang kemudian menjadi buku bacaan banyak kaum Muslimin di Indonesia.

Dunia Islam pun terpukul dengan berdirinya negara Yahudi Israel tahun 1948. Dalam Perang satu tahun kemudian, bangsa Yahudi yang berkemampuan kecil berhasil mengalahkan bangsa Arab. Dunia Islam meminta keras. Tahun 1955, Bung Karno memelopori Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, yang salah satu jiwanya – menurut Menlu RI di masa Orde Lama, Roeslan Abdulgani – adalah semangat anti-Zionisme. Zionisme dipandang sebagai imperialisme pagar Jahat ( imperialisme paling hitam ) di Abad ke-20.

Dalam rentetan peristiwa yang menimpa dunia Islam, maka Kemerdekaan RI tahun 1945 memiliki makna yang penting. Sekutu – sebagai pemenang Perang Dunia II – gagal memaksakan kehendaknya bagi Indonesia.

Fatwa Jihad Kyai Hasyim Asy’ari tahun 1945 – yang mewajibkan kaum muslimin Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan – membutuhkan jutaan kaum Muslimin Indonesia. Satu koran di Yogyakarta. Berita utama dengan judul: “ 60 Miljoen Kaum Moeslimin Indonesia Siap Berjihad Fi Sabilillah! ”

KH. Ahmad Dahlan. Untuk menyetujui Beliau mengumpulkan Muhammadiyah. Mohammad Natsir juga membahas dan merespons masalah umat Islam yang berakar dari masalah-masalah dan pendidikan. Natsir mengingatkan Umat Islam akan pernyataan Prof. Snouck Hurgronje Yang PERNAH menulis hearts bukunya, Nederland en de Islam: “Opvoeding en Onderwijs zijn di staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.”  (Pendidikan dan Pelajaran DAPAT melepaskan kaum Muslimin Dari genggaman Islam) .

Tahun 1973, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas – yang merupakan cucu Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas (Habib Kramat Empang Bogor) – menulis buku ” Risalah untuk Kaum Muslimin”. Isinya menjelaskan tantangan terberat kaum muslimin demi hegemoni Peradaban Barat modern.

Lebih jelas lagi, dalam Konferensi Pendidikan Islam Internasional Pertama di Mekkah tahun 1977, Prof. Naquib al-Attas menjawab: krisis sentral muslim saat ini adalah hilangnya adab! (Akar masalah yang dialami umat Islam saat ini hilang adab). Dan itu berakar pada masalah pengetahuan ( kebingungan pengetahuan ), akibat infiltrasi yang masif ilmu-ilmu sekuler Barat ke dalam tubuh kaum muslimin. (Lihat buku Syed Muhammad Naquib al-Attas (ed.), ” Tujuan dan Tujuan Pendidikan Islam” (Jeddah: Universitas King Abdul Aziz, 1979).

Prof. al-Attas merumuskan masalah mendasar umat Islam dalam bukunya: Islam dan Sekularisme . Buku ini telah diterjemahkan ke dalam edisi bahasa. Di Indonesia, pertama kali diterjemahkan tahun 1981 oleh Pustaka Salman ITB. Solusi masalah umat Islam adalah perumusan konsep sains dan pendidikan yang benar, khususnya pada peringkat Pendidikan Tinggi!

Menurut Prof. Naquib al-Attas, masalah umat Islam saat ini, secara mendasar sama dengan yang berkaitan dengan masa Imam al-Ghazali. Peran al-Ghazali dalam pembukaan Islam juga sudah ditulis oleh Dr. Majid Irsan al-Kilani dalam bukunya : Haakadzaa Dhahara Jiilu Shalahuddin wa Haakadzaa ‘aadat al-Quds. (Tahun 2019 ini diterjemahkan oleh Ustad Asep Sobari Lc dari INSISTS dengan judul “Model Kebangkitan Umat Islam ”.)

Jika ditelaah, masalah utama umat Islam di Indonesia masih sama dengan zaman penjajahan. Lagi, bisa lebih parah lagi! Sebab, hati umat Islam – keluarga dan lembaga pendidikan Islam – sudah terinfiltrasi sains-sains sekuler yang melisensi tubuh umat Islam, sehingga menghasilkan banyak alumni yang “dihapus adab” dan “cinta dunia” ( hubbud-dunya )!

Maka, pada tahun 2003, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad tidak pernah memberikan resep kepada dunia Islam, agar bisa mengalahkan Yahudi: “ Sudah saatnya kita berhenti dan berpikir. Jika kita berhenti sejenak untuk berpikir, daripada kita bisa menyusun rencana, strategi yang dapat memenangkan kita kemenangan terakhir. ” Jadi saran Mahathir Mohammad!

***********

(Depok, 4 Desember 2019)

Penulis: Dr. Adian Husaini

(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku dan Pendiri Pesantren At-Takwa Depok)

Demikian Semoga Bermamfaat…

@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

_______________________________

@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here