Setelah dibantai dimana-mana di dataran Eropa, kaum Yahudi ditolong dan hidup nyaman di Turki Utsmani. Belakangan, mereka justru ikut menumbangkan Turki Utsmani. Di antara empat perwakilan National Assembly yang menyerahkan surat pencopotan Sultan Abdul Hamid adalah Emmanuel Carasso (Yahudi).

Bangsa Yahudi memang unik. Bangsa mungil ini begitu banyak dipaparkan sejarah, sifat, dan perilakunya dalam al-Quran. Bangsa ini diselamatkan oleh Nabi Musa a.s. dari pembantaian Firaun. Tapi, hanya dalam tempo 40 hari, mereka sudah mengkhianati Nabi Musa, dengan menyembah patung anak sapi. Al-Quran surat al-Baqarah berkisah tentang sifat dan perilaku Yahudi yang bandel, “ngeyel”  dan banyak bertanya untuk tidak mentaati perintah Allah SWT.

Belum lagi sifat serakahnya kepada dunia (QS 2:96); sifat rasisnya karena merasa sebagai satu-satunya “kekasih Tuhan” (QS 62:6), dan berbagai sifat lain yang digambarkan dalam al-Quran. Sampai-sampai Nabi Musa a.s. bersedih hati dengan kelakuan kaumnya (QS 61:5).

Untuk lebih mempertajam pemahaman terhadap sifat bangsa Yahudi, menarik untuk mengkaji sepenggal sejarah perjalanan mereka di Turki Utsmani. Ratusan tahun, Turki Utsmani menjadi tempat yang nyaman bagi orang-orang Yahudi. Tapi, kemudian kaum Yahudi pula yang menikam Turki Utsmani dari dalam.

Sebelumnya, selama hampir 800 tahun, Yahudi menikmati zaman keemasan di wilayah Muslim Andalusia.  Kejayaan Yahudi di bawah Islam ditulis banyak penulis Yahudi dan Kristen. Karen Armstrong, dalam bukunya, A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, (London: Harper Collins Publishers, 1997). menulis: “Under Islam, the Jews had enjoyed a golden age in al-Andalus.”

Pada saat yang sama, selama ratusan tahun, kaum Yahudi menjadi korban persekusi kaum di Eropa. Misal,  pada 17 Juli 1555, hanya dua bulan setelah pengangkatannya, Paus Paulus IV, mengeluarkan dokumen (Papal Bull) bernama Cum nimis absurdum, yang menekankan, para pembunuh Kristus, yaitu kaum Yahudi, pada hakekatnya adalah budak dan seharusnya diperlakukan sebagai budak. (Lihat, Encyclopaedia Judaica, Vol. 2;  Peter de Rosa, Vicars of Christ: The dark Side of the Papacy, (London: Bantam Press, 1991).

Pujian dan tikaman

Di masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II (1876-1909), organisasi Yahudi The Central Committee of the Alliance Israelite Universelle in Paris mengirimkan ucapan selamat kepada Sultan Abdulhamid II.

Begini isi suratnya: “Pada musim semi tahun 1492,  kaum Yahudi yang diusir dari Spanyol menemukan perlindungan di Turki. Sementara mereka ditindas di belahan dunia lainnya, mereka tidak pernah berhenti menikmati perlindungan di negeri-negeri leluhur Tuan yang jaya. Mereka mengizinkan Yahudi hidup dalam keamanan, untuk bekerja dan untuk membangun … The Alliance Israelite Universelle bersama dengan Yahudi Turki; dan seluruh pemeluk agama lain dari semua negeri, bergabung dengan kami untuk merayakan ulang tahun ke-400 bertempatnya Yahudi di Turki.” (Lihat, Avigdor Levy, “Introduction” , dalam Avigdor Levy (ed.), The Jews of The Ottoman Empire, (Princeton: The Darwin Press, 1994).

Selama ratusan tahun Yahudi menikmati kehidupan harmonis di Turki Utsmani. Bahkan mereka diberikan jabatan chief-rabbi (semacam mufti Yahudi). Mereka menduduki jabatan-jabatan di pemerintahan dan parlemen. Tetapi, pujian Yahudi itu tak berlangsung lama. Sultan Abdul Hamid II yang gigih menentang Zionisme kemudian justru menjadi target utama cacian dan pendongkelan Yahudi Zionis.

Mulanya, gerakan Zionis berharap mendapatkan wilayah Palestina secara sukarela dari penguasa Utsmani, yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II.  Usai menerbitkan bukunya, Der Judenstaat, dan memimpin Kongres Zionis, 1897, Herzl ke Istambul menemui Perdana Menteri Utsmani dan mempresentasikan rencana pendirian Palestina sebagai tanah air kaum Yahudi. Ia menawarkan bantuan untuk melunasi utang negara Utsmani. Herzl juga melobi Kaisar Austria Wilhelm II yang berhubungan baik dengan Sultan Abdul Hamid II. Kaisar Austria setuju dengan gagasan Herzl dan merekomendasikan rencana Herzl kepada Sultan.

Tetapi Sultan Abdul Hamid menolak rencana Herzl. Ia menulis surat yang sangat tajam isinya  kepada Herzl. “Saya tidak dapat menjual walau sejengkal pun dari tanah Palestina, karena ini bukan milikku, tapi milik rakyatku.” (I can not sell even a foot step of land, for it does not belong to me but to my people). (Stanford J. Shaw, The Jews of the Ottoman Empire and the Turkish Republic, (Houndmilld: MacMillan Academic and Professional Ltd, 1991).

Sikap tegas Sultan Abdul Hamid terhadap program Zionis dilihat sebagai penghalang utama ambisi untuk mendirikan negara Israel. Adalah menarik cara kerja kaum Yahudi Zionis dalam menumbangkan Sultan dan mendirikan negara Yahudi.  Metode yang mereka gunakan adalah semacam “smart rebellion” dan berpola klendestin.

Sultan mulai diposisikan sebagai bagian dari masa lalu, dengan jargon-jargon kebebasan, “freedom”, “liberation”, dan sebagainya. Mereka menyebut pemerintahan Abdul Hamid II sebagai “Hamidian Absolutism”, dan sebagainya.  Gerakan Zionis di Turki Utsmani mencapai sukses yang sangat signifikan menyusul pencopotan Sultan pada bulan April 1909. Di antara empat perwakilan National Assembly yang menyerahkan surat pencopotan Sultan itu adalah Emmanuel Carasso (Yahudi) dan Aram (Armenia). (Lihat, Mehmed Maksudoglu, Osmanli History 1289-1922, Kuala Lumpur: IIUM, 1999).

Penyebaran paham kebebasan (liberalisme) model Barat oleh Gerakan Turki Muda akhirnya berhasil menumbangkan Turki Utsmani. Sultan Abdul Hamid II memandang, kebebasan yang digalakkan oleh Turki Muda adalah suatu senjata penghancur bagi Turki Utsmani. Ia menuturkan dalam kata-katanya, “Memberikan kebebasan sama halnya memberikan senjata kepada seseorang yang tidak tahu bagaimana menggunakannya. Dengan senjata tersebut, orang itu bisa saja membunuh ayahnya, ibunya, bahkan dirinya sendiri.” (Mehmed Maksudoglu, Osmanli History, hlm. 234).

Sebaliknya, bagi para pemimpin CUP, Barat adalah segala-galanya. Dalam kata-kata Abdullah Cevdet, seorang pendiri CUP: “Hanya ada satu peradaban, dan itu adalah peradaban Eropa. Karenanya, kita harus meminjam dari peradaban Barat, baik mawarnya maupun durinya.” Abdullah Cevdet juda dikenal sebagai simpatisan Judaisme dan gerakan Zionis. (Lihat, Ilber Ortayli, Ottomanism and Zionism During the Second Constituional Period, dalam Avigdor Levy (ed.), The Jews…  hlm. 534).

Hikmahnya,  sebuah imperium besar seperti Turki Utsmani bisa digulung dari dalam, melalui sebuah gerakan pemikiran. Saat generasi tua gagal di-Barat-kan (westernized) atau disekularkan, maka mereka siapkan “Generasi Muda” yang sudah tersekularkan. Generasi inilah yang akhirnya tampil dalam berbagai lini kepemimpinan masyarakat dan negara.

Maka ingatlah peringatan Nabi saw: “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta; bahkan jika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Maka siapa lagi?” (HR. Muslim).

Ini pelajaran dari sejarah. Jangan hanya menuding keluar. Lihatlah, ke dalam diri kita, umat Islam. Pasti ada yang salah dengan kita!

***********

Depok, 13-11-2019

Penulis: Dr. Adian Husaini

(Pendiri INSISTS, Ketua Program Doktor UIKA Bogor, Penulis Buku dan Pendiri Pesantren At-Takwa Depok)

Demikian Semoga Bermamfaat…

@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

_______________________________

@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here