Sudah 70 tahun berlalu, apa yang kita namakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun sebaliknya dengan proklamasi ini, masih juga mengganjal dihati -bagi sebagian umat yang mencapai-kesepakatan yang tidak tertunaikan. Sebuah perjuangan yang digugurkan sebelum pertempuran. Perjanjian Gentlemantbernama Piagam Jakarta. Sebuah persetujuan yang dikeluarkan untuk umat Islam, yang disetujui oleh negara untuk menegakkan syariat Islam. Sebuah pernyataan yang sepantasnya juga kita pertanyakan kembali yang diajukannya. Karena dibangun di atas dasar negara yang ditunjuk Pancasila bukan hadir dengan kata bulat yang disetujui belaka. Melainkan proses panjang yang tak kunjung usai mulai dari sidang BPUPKI, disetujui bersama untuk sementara, disetujui pada sidang konstituante hingga diputus paksa oleh dekrit Presiden Soekarno 1959. Awal perjalanan panjang, penegakan syariat Islam sesuai dengan harapan, diwarnai oleh para ulama besar Indonesia, pemimpin Muhammadiyah kala itu, bernama Ki Bagus Hadikusumo. Menjadi lebih baik daripada yang sekarang, jadi semakin cerah, kompilasi sejarah yang diperoleh adalah salah satu yang paling teguh, memperjuangkan Islam dalam mengisi bangsa ini. Dan kalimat putus darinya pula, yang diganti sementara perjuangan syariat Islam, dengan dibatalkankannya tujuh kalimat yang berarti itu.

Lahir di Yogyakarta tahun 1890, Ki Bagus Hadikoesoemo, lahir dari keluarga Islami. Ayahnya seorang Lurah Kraton bernama Haji Hasjim Ismail. Tinggal di Yogyakarta, disebelah utara pekarangan, dekat rumah KH Ahmad Dahlan. Haji Hasjim Ismail adalah termasuk yang pertama-tama menorehkan namanya, dalam sejarah pergerakan Islam di Indonesia. Anak Haji Hasjim yang disebut bernama Daniyalin, kemudian dikenal sebagai Haji Syuja. Beliaulah yang menjadi ketua pertama HoofdbesturMuhammadiyah, Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Kemudian adiknya bernama Dzajuli, yang kelak kemudian dikenal sebagai Haji Fachrodin. Seorang pemimpin pergerakan Islam, pemimpin dalam surat kabar, pemimpin kaum buruh, yang kemudian terjun pula menjadi tokoh Sarekat Islam. Dan adik Haji Fachrodin, bernama Hidayat, kelak dikenal sebagai pemimpin Muhammadiyah, bernama Ki Bagus Hadikusumo. [1] Nama Ki Bagus Hadikusumo bukan baru muncul, namun telah lama jatuh ke bidang dakwah Islam dan memegang beberapa jabatan penting. [2] Peran Penting pula yang kelak diundang ke Sidang BPUPKI (Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Sebuah Badan yang menyusun untuk menyiapkan kemerdekaan Indonesia termasuk pula menentukan dasar negaranya.

BPUPKI bersidang mulai 28 Mei 1945. Persidangan tentang dasar negara membentuk dua kubu yang saling berseberangan paham dan berpikirnya, yaitu nasionalis sekular dan nasionalis Islami. Hal ini membahas dari pidato Supomo,

“Sungguh disini terlihat ada dua faham, adalah: paham dari anggota-anggota penganut agama, yang mengijinkan Indonesia mendirikan Negara Islam, dan anjuran lain, sebagai telah didukung oleh Tuan Moh. Hatta, negara persatuan nasional yang mengatur urusan negara dan urusan Islam, dengan negara perkataan lain: bukan negara Islam. ” [3]

Di dalam Naskah disusun Undang-Undang Dasar 1945 Jilid 1 yang disusun oleh Muhammad Yamin, dicantumkan tiga pidato yang mewakili nasionalis sekuler, yaitu pidato M. Yamin sendiri, Supomo, dan Soekarno. Kelak, pidato 1 Juni 1945, oleh Soekarno ini, yang disebut sebagai lahirnya Pancasila. Namun yang mengherankan dalam buku ini, tidak ada pembicaraan dari para anggota nasionalis Islami. [4] Hal ini menjadi pertanyaan yang tak terjawab hingga detik ini. Ke mana rimbanya naskah pidato dari pihak Islam ini? Padahal Ki Bagus Hadikusumo termasuk salah satu tokoh nasionalis Islami yang berpidato saat itu, tentang dasar negara. Pidato Ki Bagus Hadikusumo dibuka oleh belakang, Djarnawi Hadikusumo, kemudian dibukukan dengan judul Islam Sebagai Dasar Negara. [5] Sebuah judul yang sama, kelak dibacakan oleh Muhammad Natsir dalam sidang konstituante 12 tahun kemudian. [6]

Ki Bagus Hadikusumo menekankan pada bagian awal pidatonya, yaitu manusia yang hidup bermasyarakat. TIdak bisa hidup, jika tidak menerima pertolongan orang lain. Dan Allah mengirimkan para Nabi agar pindah masyarakat. Menurut Ki Bagus Hadikusumo, wakil rakyat dalam bermusyawarah, harus dapat mengajukan permohonan sebagai waris para Nabi dan segala tindakan harus berdasarkan keikhlasan, suci dari sifat tamak dan mementingkan diri dan golongan sendiri.

Begitu penting sidang BPUPKI karena menentukan dasar negara, sehingga ditengah pidatonya, Ki Bagus Hadikusumo mendoakan para peserta sidang,

“Ya Allah memberi kami petunjuk ke jalan yang benar, yaitu jalan yang telah mendapat nikmat dan bukan jalan orang-orang yang membawa murkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”

Menurut beliau dalam membuat negara harus mengikuti cara Nabi dan belajar dari sejarah. Mengetahui penyebab ‘kekusutan’ (dapat diminta istilahnya) dapat terjadi dan harus dicari penyebabnya. Menurutnya, penyebab kekusutan tadi timbul dari jiwa yang kusut, didorong oleh hawa nafsu jahat dalam dada manusia. Maka menurut beliau, setiap orang harus dibenahi dan mendapat ajaran Islam.

Dia kemudian melanjutkan, “Bagaimanaakah dan Dengan Apakah Para Nabi Itu Mengajar Dan Bagaimana Memahami Orang Dengan Baik?” Tunjukkan saya terangkan dengan tegas dan jelas, ada dengan bersendi agama. ”

Dia menerangkan, Islam mengajarkan empat perkara, yaitu Iman, ibadah kepada Allah, amal sholeh dan berjihad di Jalan Allah. Menurutnya, jika ini adalah ajaran klasik, maka akan “… alangkah sentausanya, bahagianya, makmur, dan sejahteranya negara kita ini.”

Ki Bagus kemudian menyambungnya, dengan meminta, “… bangunkanlah negara berdasarkan ajaran Islam.” Sebagai dasar, ia mengutip surar Ali Imron ayat 103 dan Al Maidah ayat 3. Menurutnya, agama yang diangkat menjadi tali pengikat yang kuat, bukan malah menjadi pangkal percekcokan dan takut untuk dibicarakan.

“Agama adalah pangkal persatuan, janganlah takut di mana pun mengemukakan dan mengetengahkan agama.”

Ia menyindir orang yang takut sekali dan berhati-hati jika ingin membentangkan dan mengetengahkan agama, karena takut terjadi perselisihan. Ia memutuskan, padahal bukan perkara agama saja, yang jika dibicarakan dengan tidak jujur, suci dan ikhlas, akan menimbulkan konsekuensi demikian. Republik, monarki, sarekat atau kesatuan dapat menyebabkan hal itu. Menurutnya, semua ini terjadi sebagai akibat dari politik penjajahan yang memecah belah.

Ki Bagus Hadikusumo kemudian mengetengahkan berbagai negara, yang diberikan solusinya oleh Islam. Dalam hal ekonomi, ia mengutip surat An-Nahl ayat 14. Kemudian dibidang pertahanan diterangkannya Surat Al Anfal ayat 62, Shof ayat 2-4 dan ayat 10-13. Menurutnya ayat-ayat ‘pertahanan’ tersebut menyuruh umat untuk mencurahkan segala kekuatan perang untuk menggentarkan musuh. Maka diulanginya lagi, “Oleh karena itu membangunlah negara kita ini dengan agama Islam yang mengandung hikmah dan kebenaran.”

Ki Bagus Hadikusumo juga membahas soal pemerintahan yang adil dan kebebasan beragama. Pemerintahan yang adil dan menantang berdasarkan budi pekerti yang luhur dan bersendikan permusyawaratan, tidak akan dibahas tentang agama. Ia mendasarkan pada surat An Nisa ayat 5, Ali Imron ayat 159, dan Al-Baqarah ayat 256.

Paparan berikutnya ia menjawab disetujui yang berpidato sebelumnya. Orang tersebut tidak setuju jika negara berdasar agama, sebab peraturan agama tidak cukup untuk negara. Dan menurutnya agama itu tinggi dan suci, jadi janganlah agama dicampurkan dengan urusan negara. Ki Bagus mementahkan pendapat ini. Menurutnya, agama (Islam) telah meresap dan melekat dalam hati pemeluknya. Agama dapat menjadi dasar negara, karena Al Quran yang memuat lebih dari 6000 ayat itu hanya 600 ayat saja yang berbicara tentang ibadah dan akhirat. Selebihnya tentang tata negara dan keduniaan. Menurutnya, cita-cita umat Islam sejak dulu, sekarang, sampai yang akan datang, yaitu“… Dimana ada kemungkinan Dan kesempatan, pastilah Umat Islam akan membangunkan gatra Dan menyusun ‘masyarakat Yang didasarkan differences hukum Allah Dan Agama Islam.” Kemudian beliau menambahkan, Yang demikian Penyanyi Memang Kewajiban Umat Islam tehadap agamanya. Dan meminta tidak melakukan demikian berdosalah dia kepada Allah.

Ki Bagus mengkahwatirkan kaum imperialis yang selalu berusaha melenyapkan agama Islam atau memakainya sebagai alat untuk memecah belah. Menurutnya Negara Islam tidak akan membutuhkan uang untuk memeluk agama lain dan beribadah menurut kepercayannya. Karena memang begitulah tuntunan Islam. Ia meminta hadirin untuk melihat sejarah Nabi Muhammad SAW dan Khulafaurasyidin yang memimpin umatnya dengn petunjuk Al Quran dan hukum Islam. Di situlah terdapat teladan yang baik untuk membangun negara. Dia kemudian bertanya kepada hadirin, mengapa hukum Islam tidak diterapkan pada masa lalu di Indonesia? Pemerintah Hindia Belanda-lah yang selalu memilih. Dia mencontohkan dukungan pemerintah kolonial untuk menggantikan hukum agama dengan hukum adat. [7] Walau mendapat tentangan hebat, mereka tetap berhasil memaksakannya.

Diakhir pidatonya, ia menukaskan, bahwa, “Agama Islam menciptakan potensi kebangsaan lahir dan batin, serta menabur semangat kemerdekaan yang diaktifkan-nyala. Jadikan Islam sebagai asas dan sendi negara! ” Menurutnya umat Islam yang 90% di Indonesia ini beriman dengan bersandar pada Al Quran, dengan penuh ilmu dan interaksi, bukan dongengan atau tahayul belaka. Umat ​​Islam sholat lima kali sehari, berpuasa, berzakat, dan masih lemah ekonominya, tetapi mampu membangun beribu-ribu pondok, langgar dan masjid. Dan di masa itu sudah didirkan sekolah-sekolah dan rumah sakit oleh umat Islam. Semua itu menunjukkan umat Islam,“Karena pengaruh imannya,. Benar-benar memiliki hidup yang berhasil, yang pada setiap saat dapat dengan sangat mudah dapat dibangkitkan serentak, dengan mengeluarkan api yang berkobar-kobar untuk berjuang mati-matian mencari agamanya, juga mempertahankan tanah udara dan bangsanya. ”

Dia kemudian memberikan contoh seperti Teuku Umar, Imam Bonjol, Dipnegoro, hingga Sarekat Islam, yang mendapat sambutan rakyat yang begitu besar. Hingga menyatukan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan lainnya. Semua itu karena pengaruh agama Islam. Ia lalu mempertanyakan, jika meminta agama yang tinggi dan suci, dan tidak setuju untuk meminta negara, lalu apakah mereka mau bernegara diikat oleh pikiran yang rendah dan tidak suci?

Diakhir pidatonya Ki Bagus Hadikusumo ditutup dengan kalimat, “Mudah-dapat Dibebaskan Negara Indonesia baru akan datang itu, berdasarkan agama Islam dan akan menjadi negara yang tegak dan teguh, serta kuat dan kokoh. Amien! ” [8]

Kelak memang terbukti dalam sidang BPUPKI meminta dasar negara ini berlangsung sengit. Membuat diputuskan untuk membuat panitia kecil yang disebut Panitia Sembilan. Ki Bagus Hadikusumo memang tidak termasuk dalam panitia ini. Maka kompilasi piagam Jakarta telah dilibatkan oleh panitia sembilan, dan dibawa ke sidang BPUPKI, Ki Bagus Hadikusumo mempertanyakan landasan dasar negara yang kompromistis itu, dan mencantumkan kalimat, “Negara… temukan ketuhanan, sesuai dengan syariat Islam untuk pemeluk-pemeluknya.” Ia sependapat dengan Kiai Ahmad Sanusi, agar dihilangkan kata-kata “untuk pemeluk-pemeluknya.” Namun usul ini menolak Soekarno karena anak kalimat Piagam Jakarta ini merupakan hasil kompromi dua golongan (Islam dan Sekular).

Setelah selesai dengan topik-topik lain, tiba-tiba Ki Bagus Hadikusumo mengulangi ketidaksetujuannya tentang anak kalimat tersebut. Ki Bagus Hadikusumo dan Soekarno saling memegang teguh masing-masing. Ketika Ketua Badan Penyelidik, Radjiman Wedyodiningrat, meminta bantuan pemungutan suara, Abikoesno Tjorkosoeyoso, salah seorang anggota Panitia Sembian dari kalangan Islam, kemudian kembali ke Piagam di Jakarta untuk mendapatkan kompromi dua golongan. Menurutnya kalangan Islam pasti sependapat dengan Ki Bagus Hadikusumo, namun ini adalah kompromi.

“Setiap kali dari kita harus, misalnya… dari golongan Islam harus menyatakan pendirian, tentu saja kita menyatakan, meminta harapan Tuan Hadikusumo. Tapi kita sudah melakukan kompromi, sudah melakukan perdamaian dan dengan menyatakan oleh paduka tuan ketua Panitia sudah disetujui, mendapat kita harus menerima dan mendapatkan. ” Setelah mendapat penjelasan itu Ki Bagus [9]

Hari berikutnya membahas bergeser tentang agama untuk Presiden Republik Indonesia. Sebagian besar menyatakan sebagai agama presiden harus Islam, karena ada yang meminta syariat Islam untuk pemeluknya, seperti yang diusulkan Pratalykrama dan KH Masjkur. [10] Sementara pihak yang menolak, seperti Supomo mengingatkan bahwa 95% penduduk Indonesia beragama Islam, maka hal tersebut menjadi Jaminan bahwa presiden yang terpilih pasti beragama Islam. Namun, sangat penting perbedaannya, antara anggota sidang menyelesaikan tugas untuk melaksanakan syariat Islam, diemban oleh pemerintah. [11]

Soekarno dalam perdebatan itu sependapat dengan Supomo dengan alasan yang sama. Itu juga mengingatkan agama presiden tidak perlu menyelesaikan dalam merancang undang-undang dasar itu, karena menghindari pertentangan. Namun hal ini membuat kesal A. Kahar Muzakkir, salah seorang tokoh Islam dalam Panitia Sembilan, kompilasi menangkap usul pihak Islam tidak diindahkan oleh Soekarno. Sambil memukul meja, ia meminta,

“Supaya dari permulaan keputusan Indonesia Merdeka sampai ke pasal di dalam Undang-Undang Dasar yang menyebut-nyebut Allah atau agama Islam atau apa saja, dicoret sama sekali, jangan ada hal-hal itu.” [12]

Sidang kembali mendapat jalan buntu. oleh karena itu, ketua sidang, memutuskan pemungutan suara. Namun usul ini ditolak oleh Kiai Sanusi yang menganggap kewajiban agama tidak dapat diputuskan oleh suara terbanyak. Dia meminta agar memilih lagi usul Kiai Masjkur atau usul Muzakkir. Lantas Soekarno menolak usul Muzakkir. Muzakkir kembali meminta agar sidang memperhatikan usulnya. Saat berbicara Ki Bagus Hadikusumo membantah Muzakkir, dan berkata,

“Saya berlindung kepada Allah terhadap syetan yang merusak. Tuan-tuan, dengan pendek sudah kerapkali diterima di sini, bahwa Islam itu mengandung ideologie negara. Maka tidak bisa negara melepaskan dari Islam… Jadi saya setuju usul Tuan Abdul Kahar Muzakkir tadi; Jika ideologie Islam tidak diterima, tidak diterima! Jadi nyata negara ini tidak akan melampaui agama Islam atau negara akan netral. Itu terang-terangan saja, jangan diambil sedikit kompromis seperti Tuan Soekarno katakan ” [13]

 Di sini terlihat kegigihan Ki Bagus Hadikusumo untuk mempertahankan Islam sebagai dasar negara. Sidang ditutup tanpa keputusan apa pun. Namun demikian, menerima kata mufakat dengan mencantumkan agama Presiden. Dan hari itu pula Undang-undang dasar dengan Piagam Jakarta-nya setuju.

Apa yang terjadi selanjutnya, sejarah berbelok arah dengan sangat tajam. Piagam Jakarta dengan kalimat, “… menggantikan syariat Islam bagi pemeluknya” dihapus, dan diganti berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa. Begitu pula pasal 6 ayat 1 yang menyatakan Presiden beragama Islam dicoret. [14] Kontroversi perubahan ini harus menjadi polemik yang tak kunjung jelas hingga saat ini sehingga dapat dibuktikan ‘Sejarahche vraag (Pertanyaan sejarah).’ [15]

Pernyataan Muhammad Hatta yang menjadi pendorong dihapuskannya piagam Jakarta ini masih diliputi awan gelap. Ia mengaku khawatir Indonesia akan terpecah belah jika hukuman tersebut disetujui. Sebab petang sebelumnya, ia mengaku didatangi opsir Kaigun , yang menyatakan wakil Protestan dan Katolik menyatakan setujunya. [16] Namun demikian, pertanyaan yang diajukan terlebih dahulu, digoyangkan oleh orang asing, dan terlebih dahulu, Hatta diterima tidak mengingat siapa pun yang opsir tersebut. Hal yang benar-benar mengherankan, mengingat maha berat dan penting pemikiran ini, namun Hatta tak mampu mengingatnya.

Apa yang terjadi selanjutnya setelah pengakuan Bung Hatta, keesokan harinya (18 Agustus 1945), ia meminta Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasjim, Kasman Singodimedjo dan Teuku Hasan (Aceh) untuk membahas masalah itu. Hatta kemudian melanjutkan, “…. Upaya mencegah pecah bangsa, kami mufakat untuk menghilangkan bagian kalimat yang menusuk hati kaum Kristen itu dan menggantinya dengan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’.” [17]

Hal ini menjadi krusial dan perempuan menyita perhatian. Dari keempat orang yang diajak berembuk itu, nama Kasman Singodimedjo, bisa dibilang sebagai pihak yang terperangkap dalam hal ini, karena ia tidak terlibat dalam urusan ini. [18] Ia sendiri mengakui dan menyesalkan bahwa ia adalah orang militer harusnya tidak ikut berpolitik. Saat dilakukan lobbiyingsoal pertimbangan itu, ia mengaku ingin mempertahankan Piagam Jakarta ini, namun ia terdesak pula, bahwa Indonesia harus menyusun undang-undangnya, antara jepitan Jepang dan Belanda. Sementara ada dari pihak Kristen. Ia pun menyetujui Termakan Janji Soekarno, yang disebut enam bulan lagi, wakil-wakil bangsa Indonesia dalam forum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), untuk mengatur Undang-Undang Dasar yang sesempurna-sempurnakananya. [19] Memang saat akhir sidang BPUPKI, Soekarno menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar yang dibuat ini, adalah Undang-Undang Dasar Sementara, Undang-Undang Dasar Kilat, Revolutie Grondwet .

“Nanti jika kita telah bernegra di dalam lingkungan yang lebih tentram, kita tentu saja akan mendapatkan kembali Majelis Perwakilan Rakyat yang dapat membuat Undang-Undang yang lebih lengkap dan sempurna,” jelas Soekarno. [20]

Kasman menjelaskan itu, Soekarno saat lobbiying dikeluarkan itu, tidak mau ikut-ikut menjauh Suasana saat itu begitu tegang, dan sengit, karena pihak Islam tidak mau begitu menerima perubahan tersebut. Namun akhirnya bisa menerima perubahan tersebut. Meninggalkan beban itu kepda Ki Bagus Hadikusumo, karena ia adalah pihak Islam yang belum bisa menerimanya.

Nama Teuku Mohammad Hasan memegang peranan penting dalam implementasi ini. Ia dihargai dari golongan nasionalis Islam. Menurut Kasman Singodimedjo, Soekarno meminta Teuku Hasan untuk membujuk Ki Bagus Hadikusumo, seorang ulama yang paling gigih memperjuangkan Islam sebagai dasar negara. Teuku Hasan mengatakan kepada Ki Bagus Hadikusumo, “… yang kita butuhkan sekarang adalah kemerdekaan. Jika kita terus mempertahankan kepentingan sepihak, bisa-bisa orang Kristen dapat dipersenjatai oleh Belanda. Padahal kita kan maunya merdeka, bukan berperang. ” Teuku Hasan juga menjelaskan bahwa, kita tidak perlu takut, mengingat jumlah umat Islam 90%.

“Kalau kita banyak, kita tidak perlu cemas. Yang penting merdeka dulu, setelah itu, kita harus dibawa ke mana negara ini, ” jelas Teuku Hasan. [21] Namun menurut Kasman Singodimedjo, baik KH Wahid Hasjim atau Teuku Hasan, tak mampu meluluhkan Ki Bagus Hadikusumo. Bung Hatta pun tak bisa. Akhirnya Kasman mencoba meluluhkan perdebatan dengan menggunakan bahasa Jawa yang halus. Ia mengatakan,

“Kiyahi, kemarin proklamasi kemerdekaan telah terjadi. Hari ini harus cepat-cepat ditetapkan Undang-Undang Dasar, sebagai dasar negara kita bernegara, dan masih harus ditetapkan siapa Presiden dan lain sebagainya, untuk melancarkan perputaran roda pemerintahan. ”

Kasman pun mengingatkan janji kepada Soekarno, “… Kiyahi, dalam rancangan Undang-Undang Dasar yang sedang kita musyawarahkan hari ini membahas satu pasal yang membahas itu, 6 bulan lagi nanti kita dapat adakan Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang berusaha membuat Undang-Undang yang sempurna. Rancangan yang sekarang ini adalah rancangan Undang-Undang Dasar darurat. Belum ada lagi waktu untuk membikin yang sempurna atau memuaskan semua pihak, dikirim di dalam situasi kejepit! ” Akhirnya berangsur Ki bagus Hadikusumo diterima, disaksikan juga oleh KH Wahid Hasjim, Teuku Hasan, Bung Hatta dan Kasman Singodimedjo sendiri.

Sayangnya janji dari Soekarno, tak terpenuhi dalam waktu 6 bulan, atau bahkan 6 tahun. Janji itu baru diumumkan kembali 12 tahun kemudian, saat Indonesia menggelar Sidang Konstituante di Bandung, tahun 1957. Salah satun agendanya untuk menyiapkan dasar negara. Terjadi persaingan sengit antara Faksi Islam yang mengundang Islam sebagai dasar Negara, dengan faksi lain yang diajukan Pancasila. [22]

Ketika itu, Ki Bagus Hadikusumo telah wafat. Pak Kasman Singodimedjo kemudian menagih janji tersebut. Ditengah persidangan, ia berpidato dengan lantangnya, mengingatkan janji tersebut, “… Saudara Ketua, kini juru bicara Islam Ki Bagus Hadikusumo yang telah meminta saya untuk pergi selama-lamanya, karena telah kembali ke Rakhmatullah. Dia telah menunggu dengan sabarnya, bukan menunggu 6 bulan seperti yang telah dijanjikan. Dia menunggu, ya menunggu sampai wafatnya. Dia sekarang tidak dapat lagi ikut serta dalam Dewan Konstituante untuk memasukkan materi Islam, ke dalam Undang-Undang Dasar yang kita hadapi sekarang ini. ” [23]

Pidatonya semakin menajam tentang janji itu, tatkala ia mengatakan, “… Saudara ketua, kategoris saya ingin tanya, saudara Ketua, di mana lagi jika tidak di Dewan Konstituante yang diminta dalam hal ini, Ketua Ketua, di harap kami golongan Islam dapat meminta penunaian ‘Janji’ tadi itu? Di mana Lagi Tempatnya?” Sebuah Pidato Yang bahkan akhirnya Tak Mampu MEMBUAT Janji tersebut tertunaikan. Tak mampu mewujudkan cita-cita dan perjuangan Ki Bagus Hadikusumo hingga saat ini.

******

  1. Mu’arif, Benteng Muhammadiyah. Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Haji Fachrodin (1890-1929) , Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, 2010.
  2. Risalah Sidang BPUPKI – PPKI. 28 Mei 1945 – 22 Agustus 1945 , Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, 1995.
  3. Ibid
  4. H. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta. Dan Sejarah Konsesnsus Nasional Antara Nasionalis Islami dan Nasionalis “Sekular” Tentang Dasar Negara Republik Indonesia 1945-1959 , Putaka-Perpustakaan Salman ITB, Bandung, 1981
  5. Ki Bagus Hadikusuma, Islam Sebagai Negara Dasar dan Achlaq Pemimpin, Pustaka Rahaju, Jogjakarta. Tanpa tahun terbit. Namun diperkirakan diterbitkan sebelum pemilu 1955. Karena buku ini dipersiapkan oleh Djarnawi Hadikusumo, “Risalah ini disumbangkan untuk Umat Islam chususnya, bangsa Indonesia umum, dalam rangka Dewan Perwakilan Rakyat dan Majlis Konstituante dengan pemilihan Umum yad (yang akan berkencan-pena).”
  6. Debat Dasar Negara Islam dan Pancasila Konstituante 1957 , Pustaka Panjimas, Jakarta, 2001
  7. Salah satu kebijakan pemerintah kolonialis Belanda yang berusaha memperbaiki hukum Islam dalam masyarakat dan menggantinya dengan hukum adat .. Lihat, Daniel S. Lev, Peradilan Agama Islam di Indonesia , PT Intermasa, Jakarta, 1986.
  8. Ki Bagus Hadikusuma, Islam Sebagai Negara Dasar dan Achlaq Pemimpin, Pustaka Rahaju, Jogjakarta. Tanpa tahun terbit. Hal 22.
  9. H. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta… Hal 32.
  10. H. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta … Hal 34-35.
  11. H. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta… Hal 35.
  12. Risalah Sidang BPUPKI – PPKI… Hal 347.
  13. Risalah Sidang BPUPKI – PPKI… Hal 351.
  14. H. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta… Hal 41-43.
  15. Prawoto Mangkusasmito, salah seorang tokoh Masyumi yang juga menulis buku tentang Piagam Jakarta ini mengatakan, “Apa yang dimaksud dengan rumus ‘Piagam Jakarta’, yang diperdapay dengan susah payah, dengan memeras otak dan tenaga berhari-hari oleh tokoh-tokoh yang berkemampuan mencari tokoh berkemampuan mencari teman, kemudian di dalam rapat ‘Panitia Persiapan Kemerdekaan’ pada tanggal 18 Agustus 1945 di dalam beberapa menit saja dapat diubah? Apa, apa, apa yang ditanyakan? ” Seperti dikutip Endang S. Anshari, dari buku Prawoto Mangkusasmito, diterjemahkan Historis Rumus Dasar Negara dan Sebuah Projeksi , Hudaya, Jakarta, 1970.
  16. H. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta… Hal 47.
  17. H. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta… Hal 46.
  18. Kasman Singodimedjo adalah salah satu yang menjadi 6 orang anggota tambahan. Kasman sendiri sebelumnya adalah ‘orang militer,’ panglima tentara yang paling berkuasa di Jakarta saat itu. Ia pun menyesalkan keterlibatannya dalam persetujuan ini. “Memang Saya ADA bersalah, yakni mengapa Saya sebagai Militer kok Ikut-Ikut berpolitik, DENGAN memenuhi Panggilan Bung Karno Segala !?” Ia baru mengetahui penunjukkan Dirinya hari ITU also (18 Agustus 1945) Yang Sangat Mendadak. Mungkinkah ia sengaja menyiapkan Soekarno untuk membujuk Ki Bagus Hadikusumo?
  19. Panitia 75 Tahun Kasman, Hidup itu Berjuang. Kasman Singodimedjo 75 tahun , Bulan Bintang, Jakarta, 1982. Hal 124
  20. H. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta… Hal 43.
  21. Drs Dwi Purwoko, DR. BAPAK. TH Moehammad Hasan. Salah Seorang Pendiri Republik Indonesia dan Pemimpin Bangsa , Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1995.
  22. H. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta.
  23. Panitia 75 Tahun Kasman, Hidup itu Berjuang.

***********

Penulis: Beggy Rizkiansyah
(Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB))

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

_______________________________

@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here