6 April 1977, bertempat di Taman Ismail marzuki, budayawan Mukhtar lubis mendeskripsikan ciri umum manusia Indonesia dalam ceramahnya, bahwasanya manusia Indonesia pada umumnya : “Munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter, cenderung boros, suka jalan pintas, dan sebagainya.”

Terkhusus pada ciri umum manusia Indonesia yang senang takhayul, Mukhtar lubis mengatakan : “Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhayul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua…”

Diujung komentarnya tentang kesenangan manusia Indonesia dengan takhayul beliau mengatakan : “Kemudian, kita membuat mantera dan semboyan baru, jimat-jimat baru, Tritura, Ampera, orde baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang merata dan adil, insan pembangunan. Manusia Indonesia sangat mudah cenderung percaya pada menara dan semboyan dan lambang yang dibuatnya sendiri.”

Indonesia dengan alur sejarahnya yang penuh perdebatan dan saling klaim, memang terkadang membuat kita berpikir, adakah solusi kongkrit yang bisa mengurai dan memberi solusi yang bulat atas rentetan masalah yang kita hadapi dewasa ini.

Seperti kata mendiang Mukhtar lubis di atas, kita memang cenderung senang takhayul dan cenderung mudah percaya pada menara, semboyang dan lambang yang kita buat sendiri. Lantas dengan itu muncullah semboyang-semboyang baru seperti ekonomi kerakyatan, finalitas Pancasila, menjadi nusantara seutuhnya, dan yang teranyar, DERADIKALISASI.

Jika merujuk pada KBBI versi kemendikbud, Radikal secara bahasa adalah “kemajuan dalam berpikir dan bertindak”, juga tindakan “amat keras menuntut perubahan”. Bagaimana dengan Radikalisme ? Radikalisme dari sumber yang sama secara bahasa adalah : “Politik, politik, dan politik” artinya dari segala sisi tidak lepas dari “Politik”, baik itu paham, aliran, atau tindakan-tindakan ekstrim yang bersifat POLITIS, apakah gerakan separatis juga bersifat politis ? entah.

Sekarang kita melangkah ke kain tak bersenjata yang kian menakutkan para pemegang senjata dan kebijakan di negeri ini. Tentu orang-orang tua kita ini bukan bagian dari orang yang “…Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut dihati mereka…” (Qs. Al Hasyr : 2), karena mereka Muslim juga.

Dominasi pengaruh institusi keagamaan dalam panggung politik, memang menimbulkan problem traumatik yang sangat mendalam di hati-sanubari para Ilmuwan, filsuf, dan masyarakat barat secara umum. Seperti kata Peter daiman dalam buku History of Western Philosophy, karangan Bertrand Russel, bahwa “Di Milan, pada tahun 1059. Mendapati bahwa setiap pemimpin Agama dikota, mulai dari uskup kebawah, bersalah karena simony. Simony, tentu saja adalah dosa, tetapi ini bukan satu-satunya alasan. Ia menyebabkan kekuasaan gereja digerakkan oleh kekayaan, bukan kebaikan, ia memberikan wewenang orang dalam penunjukan uskup, dan ketundukan gereja pada penguasa sekuler, dan iya cenderung menjadikan gereja sebagai bagian dari sistem feodal, lebih dari itu, jika seseorang mempunyai jabatan yang dibelinya, adalah wajar jika ia khawatir dirinya akan diganti, sehingga ia lebih disibukkan dengan masalah duniawi daripada agama.”

Sikap bermegah-megahan dan menghisap harta kekayaan masyarakat atas nama Tuhan oleh institusi Agama, merupakan akar traumatik masyarakat barat atas keterlibatan otoritas agama dalam pengaturan Negara dan Masyarakat.

Seperti yang dikatakan Russel pada lanjutan bukunya diatas, bahwa “Kekayaan Roma bergantung hanya pada sebagian kecil pada pendapatan-pendapatan yang diperoleh dari dominion-dominion kepausan, sebagian besar kekayaan Roma merupakan upeti yang ditarik dari seluruh dunia katholik dengan memanfaatkan sebuah sistem teologis yang mempertahankan paus sebagai pemegang kunci-kunci surga”.

Dalam hal peradilan, “Pada tahun 1233 Gregory mendirikan mahkamah inkuisisi, untuk mengambil alih tugas keuskupan ini. Setelah tahun 1254, mereka yang dituduh oleh inkuisisi tidak boleh memberikan pembelaan. Jika dinyatakan bersalah harta dan benda mereka dirampas.” (Bertrand Russel, History of Western Philosophy)

Komentar yang juga sangat representatif untuk menggambarkan betapa tertekannya masyarakat barat dibawah kekuasaan otoritas keagamaan di masa akhir eksistensinya, datang dari Gucciardini sebagai seorang sejarahwan, pada tahun 1529, menulis : “Tidak ada orang yang lebih jijik dari saya selain ambisi, ketamakan dan kejahatan para wakil tuhan ini (Paus), bukan hanya karena masing-masing dari mereka ini menjengkelkan, tetapi karena setiap dan semuanya mereka yang menyatakan diri mempunyai hubungan khusus dengan tuhan, dan juga karena mereka saling bertikai, sehingga hanya memiliki sedikit saja kesamaan, untuk hidup berdampingan… dipahami dan dijelaskan diajaran agama kepada kami, tetapi untuk mengembalikan sekawanan bangsat ini ke tempat sebagaimana mestinya, sehingga mereka bisa dipaksa untuk hidup tanpa peran sebagai wakil Tuhan atau tanpa kekuasaan.”

Maka jelas, ketakutan masyarakat barat akan campur tangan Agama mereka dalam urusan-urusan publik memang ketakutan yang beralasan. Mengingat sejarah mencatat, betapa gelapnya eropa masa itu, maka setelah masa Rennesance (Pencerahan), muncullah slogan merdeka mereka dari otoritas Religius, yaitu : Liberty (Kebebasan), Equality (Persamaan), dan Fraternity (Persamaan).

Pertanyaannya sekarang, tepatkah jika beberapa elemen masyarakat di Negeri ini mentransfer problem traumatik masyarakat barat atas Agamanya itu, dan memperlakukan otoritas Islam sebagai Agama dan Peradaban (Diin) sebagaimana ekspresi traumatik barat terhadap Agamanya ?

Apakah masyarakat Negeri-negeri Islam mempunyai sejarah traumatik yang sama kepada otoritas keagamaan yang dalam hal ini di perankan oleh para ‘Ulama ? jika obyektif, maka sudah seharusnya kita katakan tidak, karena jika berkata iya berdasarkan studi literatur kita akan ditertawakan.

KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, M. Natsir, Panglima Sudirman dan yang lainnya, walau seorang Radikalis dimata penjajah, perjuangan mereka melampaui batas jiwa patriotisme-Nasionalisme semu dengan daya dorong nalar imajinasi terbatas manusia, mereka paham bahwa jika perjuangan mereka bukan karena Allah, nasib mereka akan seperti mereka yang menjawab “Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang PATRIOTIS. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Jika kain tak bersenjata itu membuat orang tua kita sebagai rakyat ini takut, walau sebenarnya mereka tidak takut dengan nasib anak-cucu dan rakyat mereka yang mungkin termasuk dalam pelaku asusila, hidup dalam lubang hedonisme dan amoral, maka apalah arti tujuan adanya Negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ?

Stigmatisasi atribut keagamaan atau dalam pandangan orang tua kita atribut budaya Arab sebagai identifikasi seorang warga Negara yang sama dihadapan hukum dan HAM terpapar paham Radikal, tentu beralasan.

Karena selain sinetron yang irrasional dan menjauhkan manusia Indonesia dari pola pikir masyarakat berperadaban maju, kita juga menyaksikan berbagai aksi teror dimana pelaku atau istri pelaku mengenakan kain yang menakutkan bagi peradaban yang pernah tak berdaya dengan kemapanan peradaban Islam dimasa lalu.

Lantas demi kelihatan modern, orang tua kita ini tidak risih dengan Anak-cucu dan rakyatnya yang berpakain tidak nasionalis khas barat atau korea yang terbuka, dan mungkin enak dipandang oleh manusia-manusia yang memang dididik di sekolah mereka bahwa kalian ini binatang, asal kalian dari manusia purba dan Hominit (Monyet), demi kemodernan.

Dalam Psikologi kami mendewakan Sigmund Frued (Bapak Pan-Sexualisme) sebagai rujukan psikologi pendidikan dan manusia Indonesia, demi terlihat modern dan berkemajuan.

Adalah sunnatullah ketika para evolusioner kera dan Manusia purba takut akan kepemimpinan anak cucu adam, karena pada saat itu mereka harus melepaskan ketamakan mereka terhadap harta dan jabatan menuju keadilan dan semangat pertanggung jawaban dunia akhirat.

Pada saat itu mereka harus menjunjung toleransi tanpa suap dan tidak memfasilitasi keterjajahan budaya dan peradaban pada Negara-negara d pencipta senjata pemusnah massal itu. Maka jelas, kain tak bersenjata itu adalah salah satu simbol kebangkitan generasi anak cucu adam, dan jelas pula bahwa ketakutan sebagian orang memang beralasan.

***********

Penulis: Sayyid Fadillah

(Koord. Dept. Kajian Strategis PD Lidmi Makassar)

Demikian Semoga Bermamfaat…

@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

BukaMall Carnival

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here