Hari itu, Sabtu 6 Februari 1993, hujan deras mengguyur Jakarta. Langit seakan ikut berdiring mengiringi tangis umat Islam. M. Natsir hari itu wafat. Masjid Al Furqon Kramat mengambil wewenang sekitar tiga ribu pelayat berdatangan untuk menyolatkan beliau. Sholat jenazah pun terus menerus dilakukan hingga tiga kali. [1] Umat ​​kalah salah satu pemimpin mereka, yang memimpin, bahkan sejak republik ini belum lahir. Tak terasa, dua belas tahun lalu, M. Natsir baru saja kehilangan sahabatnya, yang juga ulama tercinta milik umat, Buya Hamka. Sekarang Umat harus kehilangan lagi pemimpin mereka.

Umat ​​pantas berduka mendalam. Kedua pemimpin dan sahabat itu telah membimbing mereka selama beberapa tahun mengarungi berbagai pergolakan. Merupakan manusia yang unik. Ditempa dalam masa yang sama, menjadikan mereka sahabat yang diikat oleh satu kalimat yang haq.

Usia mereka hanya terpaut 6 bulan. Buya Hamka lahir 17 Juli 1908. Sedangkan M. Natsir 17 Februari 1908. Mereka sama-sama berasal dari Sumatera Barat. Bedanya Buya Hamka besar di sana, sedang, Natsir hijrah ke Bandung. Namun, mereka yang hadapi sama. Islam kala itu ditepikan dari pergolakan. Paham kebangsaan-lah yang menjadi primadona. Banyak yang menanggap agama tidak ada sangkut pautnya dengan kebangsaan. Islam juga dipojokkan ke sudut ritual semata. Kebencian terhadap Islam dihembuskan sangat kencang. Utamanya oleh kaum Komunis. Sarekat Islam dipecah. Tokoh Islam semacam Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim di hantam kanan dan kiri melalui fitnah dan mengisi hina. Hingga menurut Buya Hamka, saat itu timbul perasaan rendah diri dalam umat Islam. Bahkan dalam kalangan Islam sendiri timbul rasa malu untuk bergerak memanggul nama Islam. Namun ada kumpulan pejuang yang tampil depan mendukung nama Islam. Mereka adalah sekelompok pejuang Islam dari Bandung, yang tampil maju dengan namaPembela Islam .

Buya Hamka menuturkan, sepulangnya dari Mekah yang pertama tahun 1927, ia lalu ke Medan beberapa bulan. Kemudian kembali pulang ke Padang Panjang. Tahun 1929 ia menikah. Kemudian di sana ia menjadi ketua Muhammadiyah Padang Panjang. Saat ini ia membaca sebuah majalah yang diterbitkan dari Bandung, bernama Pembela Islam .

“Mulai saja majalah itu dibaca, timbullah dalam jiwa semangat yang terpendam adalah semangat yang berhasil berjuang dalam Islam. Artikel-artikel yang diterbitkan di sini menggugah perasaan hati untuk bangkit, bergerak, berjuang hidup dan mati dalam Islam, ” demikian tutur Buya Hamka. [2]

Pembela Islam berjuang membawa Islam. Islam yang tanpa kata ‘dan’. Islam yang sudah mencukupi dirinya, tanpa embel-embel lain, seperti ‘Islam dan Kebangsaan’.

Majalah Pembela Islam memang benar-benar membebaskan mata banyak orang, termasuk Buya Hamka. Dalam artikel-artikelnya terdapt tulisan dari M. Sabirin, seorang tokoh Sarekat Islam. Ali Harhara, seorang penganjur Al Irsyad dari Surabaya. Ustadz A. Hassan dalam rubrik ‘Soal-Jawab’ masalah agama. Dan murid A. Hassan, yaitu M. Natsir yang menjadi corong Pembela Islam , dalam beragam tulisannya yang mengupas berbagai soal, mulai dari politik, soal Kristen, pendidikan hingga sejarah. Dihadirkan dengan bahasa Indonesia yang sederhana dan hidup. Mudah dimengerti dan realistis. Tak pelak, tulisan dari M. Natsir-lah yang menjadi paling ditunggu-tunggu, termasuk oleh Buya Hamka.

“Artikel-artikel dari M. Natsir di majalah Pembela Islam itu sangat menarik hati saya. Saya pun seorang pengarang. Tapi saya setuju dengan karangan. Natsir memberi saya bahan untuk hidup, sehingga tertarik tertarik pada saya untuk tulisan-tulisannya, saya pun mencoba mengirim karangan untuk Pembela Islam , dan karangan saya perlu dan memperbaikinya dalam Pembela Islam . ” Begitulah kesaksian Buya Hamka. [3]

Buya Hamka saat itu bukan anak kemarin yang sakit juga. Dia sudah menjadi penulis. Beragam tulisannya dimuat diberbagai media seperti Seruan Islam, Nibras, Suara Muhammadiyah, hingga Bintang Islam . Bahkan pemimpin Bintang Islam saat itu, H. Fachrodin, yang juga tokoh Muhammadiyah dan Sarekat Islam yang memenangkan tulisan Buya Hamka. Puncaknya adalah kompilasi Buya Hamka dari Majalah Pedoman Masyarakat tahun 1936. Padahal saat itu usianya baru 28 tahun. Majalah itu begitu sukses, hingga oplahnya setiap diterbitkan mencapai 4000 eksemplar. [4] Pada saat itu sulit. Pedoman MasyarakatKeterangan tulisan beragam tokoh, dari Islam, seperti H. Agus Salim, hingga nasionalis seperti Soekarno. Tak luput juga M. Natsir menjadi pembacanya. Menurut Natsir, Tidak salah jika dikeluarkan, umat Islam diseluruh Indonesia memandang Medan (tempat diterbitkannya Pedoman Masyarakat ) sebagai pusat yang menerbitkan ruh dan menerjemahkan Islam saat itu. Bahkan menurutnya,

“Diucapkan banyak disajikan karangan-karangan yang sangat berharga. Jika pemuda-pemudi kita sekarang ini membaca, akan tetap merasakan aktualitasnya dan akan tetap membutuhkan masa depan. ” [5]

Begitulah kemudian Buya Hamka dan M. Natsir saling mengenal lewat tulisan. Berhasil menorehkan pena dalam berjuang. Namun yang unik adalah tulisan Buya Hamka yang menjadi sasaran kritik tajam dan keras A. Hassan, guru dari Natsir. Jadi kerasnya kritik A. Hassan untuk Buya Hamka ,, jadi A. Hassan menerbitkan majalah Al Lisan edisi khusus ‘Hamka.’ Hamka mengumpamakan, jika tak kuat jiwanya, bisa hancur mentalnya oleh kritik tersebut. Namun Buya Hamka tak membenci A. Hassan. Meskipun dalam pidatonya saat dikukuhkan gelar Doktor oleh Universitas Al Azhar Kairo, Buya Hamka menyebut A.Hassan sebagai tokoh pembaharu Islam di Indonesia.

Perkenalan antara Natsir dan Hamka lewat tulisan, mengantarkan mereka untuk saling kenal dan bertemu. Desember 1931, mereka pertama kali berjumpa. Bandung dan bertemu dengan tokoh-tokoh Pembela Islam dan Persatuan Islam seperti Natsir, Fakhrudin Al Khahiri, dan A. Hassan.

Buya Hamka ingat betul kesan pertama bersua dengan Natsir. Ia mengenang,

“Di waktu itu saya bertemu seorang pemuda sebaya saya, tetapi lebih tampan dari saya. Wajahnya tenang, simpatik, selalu senyum dan berkaca-mata. Tingginya sedang, sikapnya lemah-lembut. Ketika kita berbicara dengan dia, butir-butir pembicaraan kita dia memutuskan dengan seksama, kemudian jika dia tidak setuju atau berlain pendapat, dia nyatakan komentarnya, nampak sambil lalu, tetapi dengan tidak kita sadari, komentarnya itu telah membuat kita harus mengharapkan kita mengatakan dengan seksama. ” [6]

Hubungan Nasir dan Buya Hamka makin padu karena makin paham mereka tentang agama. Yaitu paham ‘Kaum Muda’ atau paham yang menggerakkan reformasi agama, untuk kembali pada Quran dan Sunnah. Dan memuji lainnya adalah pemahaman Islam yang tanpa kata ‘dan.’ Jika Buya Hamka berkunjung ke Bandung, disempatkannya bertamu ke rumah Natsir dan bermalam di sana. Dilihatnya kehidupan Natsir yang sederhana dan selalu sholat diawal waktu.  “Semuanya membuat lebih banyak hubungan mesra kami!” Kenang Buya Hamka.

Natsir, Hamka dan Isa Anshori di tahun 1941
Natsir, Hamka dan Isa Anshori di tahun 1941

Tahun 1941, Buya Hamka bertemu kembali dengan M. Natsir ditemani oleh KH Isa Anshari. Natsir dan KH Isa Anshari sama-sama pemuda Sumatera Barat yang besar di Bandung. Mereka mengabadikan momen mereka dipertengahan Januari 1941 itu, dengan berfoto bersama. Sebuah foto yang menjadi kesaksian kedekatan mereka bertiga, kelak menyatukan mereka dalam Islam di Konstituante, lebih dari 20 tahun kemudian. Selepas berfoto, KH Isa Anshari dan M. Natsir mengantarkan Buya Hamka berangkat ke Jakarta. Seketika sampai di Hotel Islam Sumatera di Jakarta (sekarang jalan Gajah Mada), dia membaca kabar yang diterima Belanda dan kemudian diasingkan ke Sukabumi. Menanggapi ini, M. Natsir meminta pembelaannya kepada ayah Buya Hamka, Haji Abdul Karim Amrullah, yang biasa dikenal dengan Haji Rasul. Natsir menolak meminta pemerintah kolonial yang menanggap Haji Rasul telah menganggu ketentraman dan menanam bibit kebencian pada pemerintah. Menurut Natsir, menentang Haji Rasul telah melakukan perlawanan terhadap paham komunis di Minangkabau. Natsir kemudian memaparkan,

“Tempat beliau di dalam masyarakat Minangkabau khusus dan masyarakat Indonesia umumnya, di tempat seperti ‘Bondsvoorzitter’ (presiden) dari salah satu politieke ‘frie’. Dia yang meminta sembarang ‘pemimpin’ dengan makna kata yang gaib kita maksud dengan perkataan itu. Akan Tetapi Tuan seorang ‘Inja ”, tempat memulangkan setiap-urusan; Beliau seorang ‘guru’, seorang hervormer (pembaharu) dengan arti yang dalam. ”

Natsir kemudian mengemukakan kesaksiannya dengan banyak tokoh-tokoh masyarakat Minangkabau. Dengan mata berlinang, banyak yang berkata; “Alangkah demi langkah, jika saya bisa menyetujui dia mengalami kesengsaraan seperti yang dia alami itu! Kenapakah bukan milikku yang masih kuat ini! Kenapakah dia yang sudah uzur harus sudah semua itu!  [7]

Zaman terus berputar, sejarah datang menggambarkan perjalanan bangsa ini. Selepas kemerdekaan, Natsir dan Buya Hamka sama-sama bergerak mengisi riwayat tinta. Buya Hamka banyak bergerak di medan dakwah, Natsir menceburkan diri dalam politik lautan. Namun pena tajam membanjiri media massa yang ada untuk membimbing dan menggerakkan langkah umat. Saat kedudukan Natsir semakin tinggi, puncaknya sebagai Perdana Menteri, persabahatan mereka tetap rapat. Buya Hamka mengingatnya kembali,

“Di kala Natsir jadi Perdana Menteri (1950), sebuah mobil berhenti di sebuah gang yang menuju rumah saya kira kira kira 8 malam, di Gang Toa Hong II no. 141, Sawah Besar. Seorang turun memberi tahu dengan berbisik:

Pak Natsir datang menjemput Bapak.

Perdana Menteri … . tanya saya.

Kawan itu mengangguk. Dan sayapun segera meninggalkan dan turun dari rumah. Lalu langsung menuju ke mobil yang sedang menunggu. Natsir ada di dalam mobil itu. Dia mempersilakan saya naik dan saya duduk di sampingnya.

Demikianlah sementara tempat berjauhan, namun hati terasa selalu dekat. Di waktu-waktu yang penting juga selalu bertemu dan bertukar fikiran. ” [8]

Waktu-waktu penting menjadi semakin penting, kompilasi tahun 1957 suhu politik memanas. Sumber panas itu tak lain dari kota Bandung, tempat berlangsungnya sidang konstituante. Salah satu agenda sidang adalah menentukan dasar negara. Kekuatan-kekuatan besar saling mengadu pikiran. Blok Islam yang diwakili partai Masyumi, NU, Perti, dan beberapa golongan lainnya berhadap-hadapan dengan blok yang mengusung Pancasila, yang diwakili PNI, PKI, dan golongan-gologan lain. Presiden Soekarno pun mengubah, siapa pun yang mau menyesuaikan dengan revolusi akan dilanda revolusi. Namun hal itu tak menyurutkan langkah para pejuang Islam. Natsir dan Hamka pun tampil ke muka. Berjuang untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara.

Satu kejadian unik, bahas Natsir saat itu. Ketika ia sedang menghidangkan pikirannya dipodium, ‘Dasar-Dasar Hidup Bernegara’ yang mengedepankan Islam, dihadapan golongan Islam, Nasionalis, Komunis, Katolik, Protestan dan lainnya, Buya Hamka sibuk menggoreskan penanya. Mengalirkan sajaknya. Setelah Natsir turun dari podium, Buya Hamka menyisipkan secarik kertas ke dalam saku Natsir. Kertas yang berisi sajak yang menggugah. [9]

“Meskipun bersilang keris di Leher
Berkilat pedang dihadapan matamu
Namun yang Benar Kau sebut Benar also

Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada N usa

Jibril berdiri di sebelah kananmu
Mikail berdiri di sebelah kiri
Lindungilah Ilahi memberi tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu, Hai Natsir, suara kaum-mu

Ke mana lagi Natsir, ke mana kita lagi
Ini berjuta kawan sefaham
Hidup dan mati bersama-sama untuk
meminta ridha Ilahi
Dan aku pun minta!
Dalam daftarmu … ”[10]

Sebuah sajak yang menggugah Natsir dan tak akan dilupakannya. Terlebih kompilasi makin mencekam. Presiden Soekarno mentahbiskan sebagai pemimpin besar revolusi dengan Demokrasi Terpimpin sebagai tunganggannya. Komunis menjadi penumpang gelapnya. Melindas siapa pun yang tak pantas. Natsir menyingkir kemudian bergabung dengan Pemerintahan Revolusi Republik Indonesia (PRRI), sebagai aksi untuk mengkoreksi rezim Soekarno. Partai Masyumi semakin bernaung Natsir dan Hamka semakin terjepit. Dalam perlawannnya di sumatera barat, 1959, Natsir mendengar suara lantang Buya Hamka. Berpidato di Konstituante, yang semakin terperosok ke dalam genggaman Soekarno.

“Trias Politica sudah kabur di Indonesia
Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme
Front Nasional 
adalah partai Negara 

“Pidato Hamka yang tersiar juga di surat kabar dan radio dan sampai juga ke tempat saya, yang waktu itu berada di staisun radio PRRI di Sumpur Kudus, Sumater a Barat .” Kenang Natsir. [11]

Natsir kemudian menambahkan, “Suara Hamka demikian itu, kami rasakan sebagai halilintar di siang hari, yang tadinya kami tak diduga-duga pada malamnya, tanggal 23 Mei, saya coba-coba menjawab Hamka dengan sebuah sajak dan disiarkan oleh radio PRRI, bunyinya sebgai diikuti
DAFTAR
Saudaraku Hamka
Lama, Suaraya tak kudengar lagi
Lama…
Kadang-kadang, di
tengah-tengah si pongang mortar dan mitraleur
Dentuman bom meriam sahut –menyahut
Kudengar tingkahan irama sajakmu itu
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku
Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di “ ”

Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti
Melantang menyambar api kalimah-hak dari mlutmu
Yang biasa besenandung itu
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya dilindungi


pancangkan!
Pancangkan olehmu wahai Bilal!
Pancangkan Panji-panji Kalimat Tauhid,
Walaukarihal –kafirun!
Berjuta waktu untuk masuk ke
dalam “daftarmu”


Saudaramu, Tempat 23-5-1959 
 [12]

Benar saja. Masuk memang masuk daftar dalam saku rezim soekarno. Natsir masuk tahanan terlebih dahulu. Buya Hamka pun diundang pada 27 Januari 1963.

“Dalam keadaan tak tahu apa kesalahan saya di tengah hari biarlah berpuasa, saya dijemput dan dicabut dengan segenap kekerasan dari ketentraman saya dengan anak-anak, disisihkan dari masyarakat dan dimasukkan ke dalam tahanan,” tutur Buya hamka. [13]

M. Natsir, Buya Hamka dan mantan perdana menteri Malaysia, Tun Abdul Razak di Serawak.  Sumber foto: Buku: Kenang-Kenangan 70 tahun Buya Hamka (1979).
M. Natsir, Buya Hamka dan mantan perdana menteri Malaysia, Tun Abdul Razak di Serawak. Sumber foto: Buku: Kenang-Kenangan 70 tahun Buya Hamka (1979).

Natsir dan Hamka sama-sama merasakan direnggutnya kebebasan mereka. Meskipun tempat penahanan mereka berbeda, namun sama-sama merasakan kepedihan rezim yang berkuasa. Akhirnya kabar itu akhirnya terdengar juga. Setelah rezim Soekarno terguling, mereka merasakan segarnya angin kebebasan. Saat syukuran akbar menyambut bebasnya tokoh-tokoh Masyumi di Mesjid Al Azhar Kebayoran, di tengah bertemu lautan manusia yang menyambutnya, bertemu bertemu.

“Bagaimana, sudah diterima?” Tanya Natsir pada Hamka.

“Sudah” jawab Hamka. [14]

Rupanya, saat puisi Natsir untuk Hamka disiarkan oleh radio PRRI, ada seseorang yang merekamnya ,. Kemudian disampaikan puisi itu pada Buya Hamka. Hidup mereka terus bergulir. Ditengah kekangan rezim orde baru mengisolir mereka dari pentas politik, ikut aktif dalam ranah dakwah. M. Natsir terus membentangkan sayap dakwah bersama Dewan Dakwah, sedangkan Buya Hamka aktif berceramah di radio dan televisi, mengalirkan tulisannya melalui Panji Masyarakat. Aroma aktif busuk sekularisme dan krsitenisasi yang mulai merebak. Mereka menjadi pengawal umat.

Hingga akhirnya, kabar duka pun terdengar. 24 Juli 1981, umat Islam berduka. Buya Hamka wafat. Dari menara masjid Al Azhar berulang-ulang mengumumkan kabar duka tersebut. Berita kematian Buya Hamka tersebar begitu cepat. Ribuan pelayat mulai memenuhi Masjid Agung Al Azhar. Kompleks Masjid Al Azhar seluas 43 ribu meter persegi itu penuh oleh jemaah. Ribuan orang berebut untuk bergantian mengangkat keranda sang ulama. “Selamat Jalan Buya” terdengar dari para pelayat. Sepanjang jalan dari Masjid Al Azhar di Kebayoran Baru hingga TPU Tanah Kusir ganti pelayat. Diantara pelayat, datanglah sang sahabat. Mohammad Natsir. 12 tahun kemudian, 6 Februari 1993, takdir Allah tergores dalam lembaran sejarah umat. menyusulah sang sahabat. Sahabat yang diikat oleh persetujuan cita-cita sampai akhir hayat. [15]

******

  1. Pemimpin Pulang. Rekaman Peristiwa Wafatnya M. Natsir . Yayasan Piranti Ilmu. Jakarta. 1993
  2. Hamka. Kenang-kenangan Hidup. Jilid 2. Bulan Bintang. Jakarta. 1974.
  3.  Panitya Buku Peringatan Moh. Natsir / Moh. Roem 70 tahun. M. Natsir. 70 tahun Kenang-kenangan Kehidupan & Perjuangan. Pustaka Antara. Jakarta. 1978
  4. Hamka. Kenang-kenangan Hidup. Jilid 2. Bulan Bintang. Jakarta. 1974.
  5. Busyairi, Badruzzaman. Catatan Perjuangan HM Yunan Nasution. Pustaka Panjimas. Jakarta. 1985.
  6. Panitya Buku Peringatan Moh. Natsir / Moh. Roem 70 tahun. M. Natsir. 70 tahun Kenang-kenangan Kehidupan & Perjuangan. Pustaka Antara. Jakarta. 1978
  7. Natsir, M. Capita Selecta. Jilid 1. Van Hoeve. Bandung 1954.
  8. Panitya Buku Peringatan Moh. Natsir / Moh. Roem 70 tahun. M. Natsir. 70 tahun Kenang-kenangan Kehidupan & Perjuangan. Pustaka Antara. Jakarta. 1978
  9. Hamka ke-70
  10. Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka . Yayasan Nurul Islam. Jakarta.
  11. Idem
  12. Idem
  13. Prof. DR. Hamka. Tafsir Al Azhar Juz 1. Pustaka Panjimas. Jakarta. 2004
  14. Panitya Buku Peringatan Moh. Natsir / Moh. Roem 70 tahun. M. Natsir. 70 tahun Kenang-kenangan Kehidupan & Perjuangan. Pustaka Antara. Jakarta. 1978
  15. Hamka, Irfan. Ayah. Penerbit Republika. Jakarta. 2013

***********

Penulis: Beggy Rizkiansyah
(Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB))

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

_______________________________

@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here