Pasca hari guru nasional sehari yang lalu, masih melekat dalam jejak-jejak digital Media sosial, naskah pidato Mendikbud yang baru mas Nadiem Makarim.

Naskah ini viral, mendapat banyak pujian, dan sayapun yang fakir ilmu ini termasuk yang sepakat dengan ide-ide mas Menteri.

Cuma mungkin tidak salah jika ada masukan sedikit dari kami yang walaupun belum terjun ke dunia pendidikan secara langsung, namun sebatas pengalaman-pengalaman singkat sebagai pendidik, entah sebagai Mahasiswa Pendidikan di salah satu kampus pencetak guru di kota Makassar, dan juga sebagai relawan pendidikan yang bergerak di dunia sosial kemanusiaan, non formal lah sebutannya.

Dalam teks pidatonya, banyak “Gebrakan baru” yang ramai disebut orang dicetuskan oleh mas Menteri. Mungkin ini sesuatu yang biasa menurut kami jika pejabat baru dalam satu instansi membuat program berbeda dari sebelumnya. Sebab jika programnya sama saja, pasti ada yang bertanya “Terus mengapa Menteri yang sebelumnya tidak dipertahankan saja?”. Ditambah tabiat pendidikan di Indonesia yang memberikan kesan Ganti Menteri Ganti Kurikulum. Menteri baru, kurikulum baru, program baru, perlu sosialisasi, butuh dana, perlu pelatihan tenaga kependidikan, dan ujung-ujungnya perangkat pembelajaran baru. Nah di sini celah masuknya Kapitalisme dalam dunia pendidikan. Mudah mudahan mas Menteri bisa membentengi periode jabatannya dari Lingkaran Setan Kapitalisme ini.

Namun secara umum, mas Menteri ibarat Superhero dalam beberapa sisi di dunia Pendidikan tanah air. Ia memecah kebuntuan para guru Honorer yang terzalimi, dan mengakhiri mimpi buruk Guru yang dipusingi oleh perangkat administrasi Kurikulum 2013 yang aduhai. Bisa dibilang, Ide-ide mas Menteri ibara Oase di tengah tandus dan keringnya gurun Pendidikan di Indonesia.

Namun lagi-lagi saya harus mengatakan, ada celah yang harus dipertimbangkan oleh mas Menteri. Bahwa ide-ide tersebut sebenarnya hanya bisa menyelesaikan masalah dunia Pendidikan di Indonesia dalam kulit luarnya saja. Namun belum sampai ke akar rumput. Maksudnya apa? Kasus video mesum pelajar, video tik tok dalam ruang kelas, guru menghajar siswa dan siswa membunuh guru, serta menjamurnya koruptor di lembaga pemerintahan yang notabene adalah alumni sekolah dasar, menengah dan tinggi, dan yang terakhir adalah kasus beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang masih belum bisa mengubur budaya tawuran Mahasiswanya, adalah segudang masalah Pendidikan yang mesti dicari sumber masalahnya.

Ibaratnya, ketika terjadi bencana Gempa Bumi, mas Menteri hanya melahirkan program perbaikan infrastruktur, penyaluran logistik, dan penanganan korban luka. Sedang epistemologi sebab Gempa Bumi dilupakan. Kesyirikan masih dibiarkan, perjudian masih bergentayangan di posko-posko pengungsian, wahana prostitusi hanya berpindah tempat, dan lain-lain. Ini yang ingin kami hubungkan dengan ide-ide mas Menteri tentang dunia pendidikan di Indonesia.

Sependek pemahaman kami, ada satu sumber masalah yang mengakar pada dunia pendidikan kita. Dan ini sebenarnya sudah sangat dalam dikaji oleh lembaga INSIST dengan terbitan buku dan jurnal-jurnal pendidikan. Masalah itu ada pada ruh pendidikan Indonesia yang telah menjauh dari hulunya. Pendidikan Indonesia jauh dari konsep awal pendidikan ala Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari, yang terbukti telah berhasil melahirkan peserta didik yang bukan hanya terdidik, namun mampu menenggelamkan dominasi kolonialisme di Indonesia. Cukuplah sejarah 10 November 1945 di Surabaya menjadi bukti sejarahnya. Sekolahan kita, kata Dr. Adian Husaini, hanya dijadikan sebagai tempat pengajaran, bukan pendidikan. Ia menjadi tempat penghasil pekerja yang kelak akan berburu formasi di seleksi CPNS. Jika beruntung mereka akan menjadi ASN, dan jika gagal, maka akan menambah angka pengangguran di Indonesia. Syed Naqieb Al-Attas, dalam bukunya Islam and Secularism mengatakan, sumber masalah pendidikan Islam, mungkin termasuk di Indonesia adalah Cunfuse of Ilm, yang bersumber dari Loss of adab. Pendidikan Pesantren yang merupakan sistem pendidikan murni bangsa dianggap sebagai sistem yang tidak modern. Tidak memajukan kekayaan bangsa, bahkan hanya dipandang sebagai penghasil guru ngaji. Padahal negara kita lupa, bahwa Pesantren lah yang melahirkan Moh. Natsir, Jenderal Sudirman, Kiai Wahid Hasyim, dan tokoh-tokoh pahlawan Nasional lainnya, yang bukan hanya pandai dalam urusan agama, namun memiliki mental Pejuang dan mampu duduk di forum-forum internasional, mengangkat harga diri Bangsa.

Maka di akhir tulisan yang serba kekurangan ini, kami masih mengharap agar mas Menteri bisa berdiskusi dengan pemerhati-pemerhati pendidikan, khususnya ustad-ustad senior yang telah mengkaji dan melahirkan ide seputar dunia pendidikan Indonesia. Sebab, Indonesia dalam sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari Islam, dan sistem pendidikannya.

**********

Penulis: Rustam Hafid, S.Pd
(Ketua Infokom PP LIDMI)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

_______________________________

@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
  • KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
🖥 DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA

Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here