Berdakwah adalah tugas setiap umat muslim di manapun berada, yakni dalam rangka beramar makruf dan nahi mungkar atau memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran. Namun, dalam beramar makruf nahi mungkar tidak boleh dilakukan dengan semena-mena.

Menurut imam Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya Risalatul Amr bil Ma’ruf, ada tiga bekal yang harus dimiliki oleh seseorang yang akan berdakwah atau beramar makruf nahi mungkar. Tiga hal itu adalah sebagai berikut.

العلم والرفق والصبر، العلم قبل الأمر والنهي، والرفق معه، والصبر بعده

Ilmu, kelembutan, dan kesabaran. Ilmu sebelum memerintah dan melarang, kelembutan ketika memerintah dan melarang, serta kesabaran setelah memerintah dan melarang.

Pertama adalah ilmu: Sebelum seseorang memerintahkan atau mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran (berdakwah), maka ia harus memiliki ilmu terlebih dahulu. Ia harus mengetahui apakah ini termasuk kebaikan atau kemungkaran, apakah ini dapat menimbulkan maslahat atau kemadharatan, serta ia harus mengetahui situasi dan kondisi seseorang atau umat yang akan didakwahi. Karena setiap orang atau objek yang didakwahi pastinya memiliki karakter yang berbeda-beda, sehingga pendekatan dakwahnya pun harus berbeda. Seperti berdakwah kepada anak-anak pastinya berbeda caranya dengan berdakwah kepada orang tua.

Ia pun harus membekali diri dengan piranti-piranti ilmu agama yang mumpuni agar tidak asal-asalan dalam berdakwah. Karena apa yang akan ia sampaikan kepada umat tentang agama Islam jika dirinya sendiri tidak memiliki bekal ilmu agama yang memadai. Alih-alih menunjukkan pada kebenaran, justru malah menyesatkan yang lainnya. Naudzubillahi min dzalik.

Kedua: Kelembutan ketika berdakwah. Setelah memiliki ilmu yang mumpuni untuk berdakwah, maka bagi seorang pendakwah saat melakukan misi dakwahnya haruslah disertai dengan kelembutan dan kasih sayang. Hal ini disebabkan karena jiwa manusia itu bagaikan kaca yang mudah pecah. Maka dibutuhkan rasa kasih sayang agar orang yang didakwahi mau menerima apa yang kita sampaikan. Selain itu, setiap orang pastinya tidak mau disuruh atau dilarang-larang dengan nada dan cara yang tidak baik. Dan contoh yang sangat baik dalam berdakwah dengan kelembutan adalah Nabi saw. Betapa tidak, beliau dicaci, dihina, dan sebagainya oleh kaumnya, namun beliau tetap berdakwah dengan lembut kepada mereka bukan dengan cara sebaliknya.

Ketiga: Kesabaran setelah menyampaikan dakwah. Hal ini disebabkan karena berdakwah itu butuh perjuangan. Tidak semua orang dapat menerima langsung apa yang kita sampaikan. Ada pula orang yang masih butuh proses untuk dapat mencerna dan melakukan dakwah yang kita sampaikan. Oleh sebab itu, kita harus bersabar setelah menyampaikan dakwah, yang penting kita telah menyampaikan ajaran Allah swt. Setelah itu adalah urusan Allah swt., karena Dialah sang pemberi hidayah dan inayah. Kita hanya bisa mendoakan semoga apa yang telah kita sampaikan dapat mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

Demikianlah tiga bekal dalam berdakwah menurut imam Ibnu Taimiyyah, yakni ilmu, kelembutan/kasih sayang, dan kesabaran. Semoga kita dapat mengamalkannya…

***********

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here