Kabar wafatnya BJ Habibie segera menyelimuti Indonesia. Perbincangan kisah sukses, apresiasi dan penghargaan masyarakat akan dinilai Habibie begitu meluas. Dari kisah pribadinya bersama sang istri hingga keenceran otaknya dalam membuat pesawat terbang. Namun jarang yang membahas kiprahnya di memberdayakan umat Islam.

Habibie adalah salah satu figur yang cemerlang dalam sejarah Indonesia. Putra dari Alwi Abdul Jalil Habibie ini bukan hanya karena kecerdasannya tetapi juga karir politiknya di Indonesia. Dari sisi politik, banyak yang membantah figurnya sebagai pengawal transisi demokrasi di Indonesia pasca rezim Soeharto. Benar ia adalah anak didik Soeharto dalam politik. Tapi figurnya sebagai tokoh politik banyak masa-masa krusial yang cukup berbeda dengan Soeharto.

Bagi umat Islam, Habibie adalah figur menonjol. Selain cerdas, ia dikenal sebagai sosok yang taat beragama. Dari kecil, bersama kakak dan teman-teman, mereka mengaji untuk guru ngaji bernama Hasan Alamudi di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. (A. Makmur Makka dan Dhurorudin Mashad: 1997) Hidupnya selama berpuluh tahun di Jerman tak menggoyahkan keimanannya.

Di masa rezim Orde Baru, bagi para pejabat tinggi, jangankan menampakkan politik Islam, menampakkan kesalehan pun dipertanyakan. Rezim Orde Baru pernah sangat antagonistik dan represif terhadap aspirasi politik umat Islam. Kedekatan Soeharto dengan think-thank CSIS dan tokoh Militer Benny Moerdani membuat Soeharto dilingkari pihak-pihak yang sangat antagonistik terhadap kemunculan politik umat Islam.

Militer memang menjadi basis pemerintahan rezim Orde Baru. Benny Moerdani adalah nama paling berkuasa di era 1980-an yang menjadi orang kepercayaan Soeharto.Namun, hubungan Soeharto dengan Benny Moerdani dan para jenderal militer yang semakin sulit, membuat Soeharto semakin menoleh pada kekuatan lain untuk menopang kekuasaannya. Soeharto misalnya mulai meletakkan gambar sipil untuk memimpin Golkar, mesin politik rezim Orde Baru.

Di sisi lain, kelas pertumbuhan Muslim menengah di Indonesia semakin meningkat sehingga tidak lagi bisa menghilangkan kekuatan sosial baru di tanah. Pasca 1965-an lahirlah kelas-kelas baru di masyarakat muslim di Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang pada tahun 1970-an menempuh studi dengan berkuliah di perguruan tinggi negeri seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) atau Universitas Gajah Mada (UGM) dan mulai berkenalan dengan Lembaga dakwah kampus. (Robert Hefner: 1995)

Di ITB misalnya, Masjid Salman menjadi epistentrum dakwah kampus di Bandung yang dipimpin oileh – muslim cendikiawan, Imauddin Abdulrahim. Murid binaan Moh.Natsir ini memainkan peran penting dalam jejaring intelektual Muslim di Indonesia.

Saat pemerintah Orde Baru memberikan tempat bagi kelas menengah baru ini, kelas ini diharapkan memiliki kesetiaan terhadap kebijakan-kebijakan Orde Baru. Hanya ada di antara mereka yang membawa orang-orang yang membawa ideologi Islam dan melihat rendah nila-nilai elit birokrasi. (Robert Hefner: 1995)

Menurut sejarawan Kuntowijoyo, mereka inilah orang-orang ‘neo-santri’ yang akhirnya meluaskan kultur elit birokrasi dari dalam. (Robert Hefner: 1995) Mereka juga yang merasa sangat antagonistiknya memerintah Soeharto, yang sangat curiga terhadap umat Islam, juga hanya suka melakukan pengajian.

Mereka, kelas menengah terdidik berdiri seperti ‘berdiri di luar pagar’ pada masa Orde Baru. Imaduddin Abdulrahim, Dawam Rahardjo hingga Nurcholis Madjid. Angin perubahan kemudian berhembus mengubah kehidupan sosial-politik di Indonesia.

Siapa sangka angin yang dihadapkan dari yang dimaksudkan sebagai mahasiswa Islam Islam di Masjid Raden Fatah Universitas Brawijaya. Cendikiawan Muslim.Niat mereka bukan hanya didukung pihak kampus tetapi lebih dari cendikiawan muslim yang mereka temui, mulai dari Dawam Rahardjo hingga Imadudin Abdulrahim. (A. Makmur Makka dan Dhurorudin Mashad: 1997)

Bagai bola salju yang menggelinding, malah sebaliknya berkembang menjadi pikir untuk membuat ikatan cendikiawan Muslim. Setelah berproses nama BJ Habibie pun digadang-gadang untuk menjadi ketuanya.

Habibie awalnya menolak pimpinan simposium dan wadah baru tersebut. Ia mengatakan, “Bagaimana saya melakukan? Saya seorang Insinyur dan pembuat kapal terbang, bukan pakar Islam. ” Alamsyah Ratuprawiranegara, hanya mau menerima masukan dari mantan Menteri Agama, akan menerima para mahasiswa tersebut. (A. Makmur Makka dan Dhurorudin Mashad: 1997 dan Robert Hefner: 1995

Pertemuan bersejarah itu kemudian terjadi. Para siswa bertemu dengan BJ Habibie pertama kali pada 3 Agustus 1990 di Mushola BPP Teknologi selepas Habibie sholat Jum’at. Ia menolak dan menolak permintaan para mahasiswa. Ia meminta dibuat petisi dukungan baginnya dari para intelektual dan tokoh Islam. Selain itu ia akan membahasnya pada Soeharto terlebih dahulu. (A. Makmur Makka dan Dhurorudin Mashad: 1997)

Menu dan menuai banyak dukungan. Dan lebih positif lagi jawaban Presiden Soeharto. Terhadap gagasan tersebut, Soeharto mengatakan, “Itu Bagus, Kau can melakukannya.”Jawaban Anda Tadi Adalah sepenggal lampu hijau terbentuknya Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) PADA Desember 1990 di Malang which are dipimpin BJ Habibie.

ICMI kemudian melaju menjadi organisasi Muslim yang sangat menentukan Tak sedikit yang menyebut ICMI melakukan Islamisasi di lembaga-lembaga pemerintah dan non-pemerintah. ICMI memang begitu meyakinkan dalam meluaskan visi Islam sebagai landasan hidup. ICMI misalnya mendukung lahirnya Bank Syariah pertama di Indonesia, yaitu Bank Muamalat.

Zainul Bahar Noor (2019), Dirut pertama Bank Muamalat mengatakan bahwa Habibie bukan hanya mendukung tetapi mencoba mendukung Soeharto agar dapat melahirkannya Bank Muamalat. Habibie kemudian mengenangnya, “Dia (Soeharto-pen) tidak hanya menyambut baik, bahkan menyetujui kesediaan untuk duduk sebagai pemrakrasa utama pendirian Bank Islam pertama di Indonesia ini. Lebih dari itu, Presiden mengambil keputusan yang bagi saja cukup berhasil agar MUI menggunakan Istana Bogor untuk melaksanakan silaturahim dengan beliau diaghniya Muslim dan masyakarat Jawa Barat dalam upaya menarik mereka menjadi Investor untuk menambah modal setor Bank Muamalat. ”

Di bidang media, ICMI membidani lahirnya surat Kabar Republika. Tangan dingin Habibie tentu tak bisa dilepaskan dari Republika. Lewat Yayasan Abdi Bangsa yang diketuai Habibie, koran ini menuai modal awal yang unik: dibiayai umat melalui 2,9 juta lembar saham (11,6 miliar). Selembar saham seharga 4 ribu rupiah itu pun dibeli Soeharto. Kiprah lain ICMI membidani lahirnya berpikir terima kasih CIDES dan menerbitkan jurnal Afkar .(A. Makmur Makka dan Dhurorudin Mashad: 1997)

Sederet kiprah ICMI tidak hanya berhasil tetapi juga dicibir. ICMI dituding sebagai alat politik Soeharto dan Habibie untuk menuai dukungan umat Islam. Atau kendaraan politik Habibie. ICMI juga dituding mengusung sektarianisme oleh Gus Dur. Namun tudingan-tudingan ini dijawab dengan lugas oleh para tokoh pendiri ICMI. (A. Makmur Makka dan Dhurorudin Mashad: 1997)

Imaduddin Abdulrahim mengatakan, “Sekarang, yang terjadi bukan hanya sebuah presiden untuk memperbaiki bantuan Muslim sehingga bisa meredam kemajuan-perbaikan di militer.” Tentu saja, ada ukuran-ukuran politik seperti itu, namun saya tidak terlalu sinis. Saya kira Presiden Soeharto memiliki mata, ia melihat apa yang terjadi, dan ia mengerti 90 persen rakyatnya adalah Muslim dan mereka harus mengambil peran dalam kehidupan nasional. Ini adalah awalan yang murni. Untuk pertama kali dalam 27 tahun kami diajak dalam kehidupan politik negara ini, dan kami harus mengambil keuntungan darinya. Kenyataan ini mungkin memuaskan harapan semua orang, namun merupakan peluang yang nyata.” ( Robert Hefner: 1995)

Budayawan Emha Ainun Najib misalnya, mengatakan,“Titik yang saya maksudkan sebagai pembuktian yang lebih produktif bagi masyarakat dan kesejahteraan sosial. . Habibie berjanji Langsung through mulutnya untuk review ITU Pada Suatu KASUS Yang Saya ajukan, meskipun akhirnya ‘mengalah untuk review Sesuatu Yang LEBIH gede,’ sehingga Saya merasa malu ditunjukan kepada Kelompok rakyat Dan Mundur Dari ICMI mengongkosi untuk review Dan mempertanggungjawabkan rasa malu ITU”( Robert Hefner: 1995)

Kasus yang disetujui Emha adalah pembangunan Waduk Kedung Ombo yang menyengsarakan rakyat lokasi tersebut. Namun ICMI pada kasus itu tidak mampu melawan Soeharto. Habibie memilih tidak berkonfrontasi dengan Soeharto. Namun di kasus lain, ICMI berusaha mengungkap isu-isu sensitif seperti soal HAM. A. Makmur Makka dan Dhurorudin Mashad: 1997)

Lewat CIDES, ICMI mensponsori seminar tentang HAM pada tahun 1992 dengan mengundang narasumber dari luar ICMI seperti Todung Mulya Lubis. Bahkan pada bulan Februari 1993, edisi perdana Afkar diterbitkan 6 makalah dari seminar tersebut. Isu HAM tentu sangat rawan dibicarakan pada masa itu, Habibie sendiri yang menerima cemas. Namun ia mengatakan Afkar harus independen, sehingga edisi ini tetap diterbitkan. A. Makmur Makka dan Dhurorudin Mashad: 1997)

Habibie sendiri berhasil tudingan Soeharto memanfaatkan dirinya dan ICMI. Namun Habibie menyanggah seraya menjawab; “Apakah saya ini hanya merupakan suatu wahana atau saya ini hanya bisa ditunggangi saja dan tidak memiliki kompetensi dan kepemilikan yang kokoh? Yang benar saja, dong. Saya pun seperti saudara-saudara, memiliki prinsip-prinsip dasar dan memiliki harga diri. ” A. Makmur Makka dan Dhurorudin Mashad: 1997)

Habibie di sisi lain memang tidak ragu untuk menunjukkan pandangan-pandangannya tentang Islam. Ketika menerima Majalah Forum Keadilan pada tahun 1994 tentang dia, ia menjawab,

“Kalau saya setuju, Habibie siapa, insinyur, muslim, ataukah Indonesia, saya jawab bahwa Habibie adalah Muslim.Mengapa Karena kalau aku mati, aku tidak lagi berwarganegara. Kalau saya sampai akhirat, yang diganti bukan kewarganegaraan saya atau kedudukan saya. Karena itu saya jawab, saya muslim. Itu bukan emosional, melainkan rasional. Saya percaya, pada hari terakhir, saya tidak akan mempertanyakan soal paspor. Jadi, jika saya jawab demikian, jangan lalu tampilkan Habibie tidak nasionalis. Tidak…” (Adian Husaini: 1995)

Pandangan-pandangan Habibie tentang Islam memang kerap mengejutkan beberapa pihak. Namun ia berani berargumen tentang pendapatnya. Salah satunya adalah soal agama Wakil Presiden. “Apakah mungkin di Roma itu presidennya seorang haji? Tidak mungkin Tidak mungkin di Jerman itu yang menjadi kepala negara Haji Muhammad Smith. Tidak mungkin Tidak berarti di Jerman. Saya rasa yang minoritas itu juga tidak mau. Tahu diri dong. Sebab mereka juga mementingkan ponianya stabil, ” kata Habibie. (Adian Husaini: 1995)

Bagaimana pendapatmu tentang kiprah Habibie di ICMI? Satu hal yang pasti: Habibie Soeharto bisa saja memanfaatkan umat Islam melalui ICMI, tetapi berhasil, Habibie lewat ICMI mampu membangun kekuatan umat Islam melalui masyarakat sipil. Lewat pemberdayaan masyarakat sipil ini, umat Islam tak perlu lagi bertanggung jawab dan lebih mudah mengikis islamophobia di pemerintahan yang berkuasa.

***********

Penulis: Beggy Rizkiansyah
(Peminat Kajian Media, Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU))

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

BukaMall Carnival

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here