Upaya pertama yang dilakukan para dokter Muslim di era keemasan adalah mengkaji dan meneliti anatomi dan fisiologi telinga, hidung, dan tenggorokan. Hal itu dilakukan lantaran informasi tentang anatomi dan fisiologi THT sangat terbatas.

Sebelum peradaban Islam berkembang pesat, secara ilmiah juga belum diketahui bagaimana proses mendengar terjadi. Penelitian tentang anatomi dan fisiologi THT dilakukan sederet dokter Muslim dari abad ke abad, seperti Ibn Zakariya Ar Razi (850 M-923 M), Ibnu Sina (980 M-1036 M), Ali Ibnu Abbas (994 M), Abdul Latif Al Baghdadi (1161 M-1242 M), Ibnu Al Baladi (971 M), Abdul Malik Ibnu Zohr (1092 M- 1162 M), Al Zahrawi (936 M-1013 M), dan Ibnu Al Nafis (1210 M-1288 M). Secara detail, mereka menjelaskan anatomi dan fisiologi telinga, hidung, dan tenggorokan.

Hasil kajian para dokter Muslim tentang anatomi dan fisiologi THT itu terekam dalam kitab dan risalah kedokteran Islam. Ar Razi menuangkan buah pikirnya tentang anatomi dan fisiologi THT dalam kitab Al Hawy. Sedangkan, Ibnu Sina memaparkannya dalam Canon of Medicine kitab kedokteran yang legendaris. Ali Ibnu Abbas mencatatnya dalam Al Kitab El Malaky.

Sementara itu, Al Baghdadi menuliskan hasil kajiannya dalam The Compendium in Medicine dan Ibnu Al Baladi dalam The Care of Pregnant Women, Infants, and Children. Ibnu Zohr menuangkan penelitiannya tentang anatomi dan fisiologi THT dalam kitab Al Tayseer. Dokter bedah terkemuka dari Cordoba, Al Zahrawi menuliskannya dalam kitab Al Tassrif. Bapak Fisiologi Ibnu Al Nafis menuliskan hasil kajiannya dalam kitab Al Shamel Fi Sinaat Al Tibb.

Menurut Ibnu Sina, daun telinga memiliki bentuk seperti corong yang berfungsi untuk mengumpulkan ge lombang suara. Saluran pendengaran eksternal, papar Ibnu Sina, adalah saluran sempit yang membengkok berfungsi untuk melindungi genderang telinga dan menjaga telinga luar agar tetap hangat. Ibnu Sina juga menyatakan, genderang telinga adalah lapisan tipis yang merespons getaran suara.

Temuan-Temuan Dokter Muslim di Bidang THT

Sumbangsih dokter Muslim terhadap pengembangan ilmu kedokteran utamanya THT begitu luar biasa. Beragam pemikiran dokter Muslim tertuang dalam setiap karyanya.

Berikut temuan-temuan dari setiap karya yang dituliskan para dokter Muslim:

Tiga dokter Muslim terkemuka, Ali Ibnu Abbas, Al Baghdadi dan Ibnu Al Nafis juga tercatat sebagai perintis yang meluruskan kesalahpahaman tentang keyakinan adanya satu syaraf dari telinga dan wajah. Ketiganya menyatakan bahwa ada dua syaraf terpisah yang bertautan dengan tengkorak di antara wajah dan telinga.

Selain itu, sejarah kedokteran juga mencatat Ibnu Sina sebagai dokter pertama yang menjelaskan bahwa pendengaran sebagai penerimaan gelombang suara di genderang telinga. Ibnu Sina, dalam Canon of Medicine, menjelaskan secara detail tentang tenggorokan dan kerongkongan.

Terkait dengan tenggorokan, papar Prof Mustafa, Ibnu Sina menjelaskan tulang rawan, tulang ikat, dan otot kecil pangkal tenggorokan serta mengidentifikasi perannya dalam menampilkan beragam fungsi tenggorokan. Penjelasan ilmiah tentang tenggorokan juga diungkapkan Ibnu Sidah, seorang saintis dan ahli bahasa kenamaan di abad ke-10 M.

Dalam kitabnya yang termasyhur, Al Mokhassus yang membahas berbicara dan bernyanyi, Ibnu Sidah menjelas kan karakter, tingkat, dan jenis suara manusia. Ibnu Sidah menyumbangkan pemikiran baru tentang intonasi suara, ritme, senandung, pengulangan, dan resonansi.

Ia juga telah mampu membedakan antara bunyi suara yang senang, parau, dan melankolis. Dari hasil kajian anatomi dan fisiologi itulah, para dokter Muslim mampu mengidentifikasi berbagai penyakit THT.

Sumbangsih peradaban Islam bagi dunia kedokteran sungguh amat luar biasa. Sederet dokter Muslim di era keemasan ternyata telah berjasa besar dalam pengobatan penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

Berbekal pengetahuan dan keahlian yang sangat tinggi, para dokter Muslim telah berhasil mengkaji anatomi dan fisiologi THT, mengidentifikasi sederet penyakit THT, serta cara pengobatannya, termasuk operasi.

Dalam dunia kedokteran modern, penyakit THT secara khusus ditangani dalam bidang otorhinolaryngology. Berasal dari kata oto (telinga), rhino (hidung), dan laryngo (tenggorokan). Menurut Neil Weir, otorhinolaryngology merupakan bidang kedokteran yang secara khusus dikembangkan pada awal abad ke-20 M dengan menggabungkan dua departemen berbeda, yakni otology dan laryngology.

Sejatinya, peradaban Barat memang jauh tertinggal dari dunia Islam dalam menangani penyakit THT. Adalah fakta yang tak terbantahkan, pengobatan penyakit THT di negara-negara Eropa baru dikembangkan pada 1880 M. Sehingga, dunia kedokteran Barat sudah seharusnya tak mengklaim bahwa otorhinolaryngology berasal dari peradaban masyarakat Eropa.

‘’Kita tak akan pernah mengklaim memiliki sebuah ilmu secara penuh sampai kita tahu sejarah perkembangannya,’‘ cetus sejarawan kedokteran, Charles Cumston, dalam bukunya yang berjudul An Introduction to the History of Medicine.

***********

Sumber: Mozaik Republika

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

BukaMall Carnival

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here