Terbentuknya negara yang berdaulat tidak bisa lepas dari dua unsur yaitu unsur Konstitutif dan deklaratif.

Dari unsur konstitutif ada tiga variabel yang harus terpenuhi sebagaimana yang tercantum pada konvensi montovideo (1933) yaitu, rakyat, wilayah, dan pemerintah yang berdaulat.

Unsur deklaratif juga sama pentingnya karena pengakuan dari negara lain tentu sangat dibutuhkan Indonesia sebagai negara yang secara de facto lahir 17 Agustus dan de jure pada tanggal 18 Agustus setelah disahkannya UUD 1945.

Pengakuan dari negara lain atas kemerdekaan Indonesia secara de facto dan de juru secara tidak langsung menjadi ultimatum bagi negara-negara kolonial yang pernah menjajah Indonesia dan masih ada keinginan untuk menjajah, serta mengumumkan kepada masyarakat dunia agar Indonesia sebagai negara yang telah diakui secara Konstitutif dan telah berdaulat atas negeranya sendiri harus lepas dari imperialisme dan kolonialisme yang belakangan merupakan spirit dari Universal Declaration Of Human Rights 1948, yang sebelumnya Indonesia telah lebih dulu mengumumkan pada dunia spirit tersebut, sebagaimana yang tercantum pada UUD 1945 yang berbunyi “penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dan peri kemanusiaan dan peri keadilan”, pengakuan dari negara lain juga merupakan dukungan bagi Indonesia untuk ikut serta dalam pergaulan antara bangsa-bangsa dikanca Internasional, hal ini merupakan tujuan besar Indonesia sebagaimana yang tercantum pada pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “Ikut melaksanakan ketertiban dunia”.

Menjadi negara yang berani mendukung dan mengakui kemerdekaan Indonesia bukanlah hal yang mudah, karena tentu banyak resiko, betapa banyak negara-negara yang pernah menjajah Indonesia dan sampai saat ini masih banyak yang ingin menguasai Indonesia karena tanahnya yang begitu kaya sampai2 tercipta lagu dari Koes Plus yang liriknya “Tanah kita tanah surga, tongkat kayu jadi tanaman dst”.

Siapakah negara-negara yang telah berani mengambil resiko dengan mendukung dan mengakui kemerdekaan Indonesia?

M.Zein Hassan dalam bukunya “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang diberi sambutan oleb Bung Hatta, menjelaskan tentang peran-serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia , di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mendukung kemerdekaan Indonesia:”.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini.

Di Mesir yang dipelopori oleh organisasi Islam Ikhwanul Muslimin yang pimpin oleh Hasan Al-Banna menggalan opini lewat media dan mendorong mahasiswa Indonesia untuk menyuarakan kemerdekaan Indonesia lewat koran, bahkan turun aksi demonstrasi dikedutaan besar Belanda, kuatnya dukungan masyarakat mesir yang dipelopori oleh Hasan Al-Banna atas kemerdekaan Indonesia membuat pemerintah mesir mengakui kedaulatan pemerintahan RI pada tanggal 22 maret 1946, kemudian disusul oleh Syirah, Iraq, Lebanon, Yaman, Afganistan, dan Arab Saudi. Liga Arab juga secara resmi menganjurkan kepada seluruh negara-negara Arab untuk mengakui kemerdekaan Indonesia berdasarkan hasil sidang Dewan liga Arab pada tanggal 18 November 1946.

Negara-negara yang diawal kemerdekaan telah berani mendukung dan mengakui kemerdekaan Indonesia, kini menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian kelompok yang telah gagal memahami sejarah, isu Arabisasi menjadi musuh sebagian kolompok yang bisa jadi akan sangat berbahaya jika menjadi musuh negara, Arabisasi yang dicounter bagi pembencinya tidak mampu untuk memisahkan antara budaya dan syariah, sehingga ujungnya bukanlah deArabisasi tapi deIslamisasi, #Jayalahnegeriku #74Indonesia

Penulis: Achmad Qadry Ashry

BukaMall Carnival

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here