Kitab Al-Iman

Bab 14: Malu bagian dari Iman.

Hadis 23

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ.

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang mencela saudaranya tentang malu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tinggalkanlah dia, karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman”.

Fawaid Hadits

1. Tidak disebutkan di dalam riwayat-riwayat hadis ini tentang nama kedua orang sahabat yang ditemui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Yang diketahui bahwa sahabat yang memberikan nasehat berasal dari kaum Anshar.

2. Para ulama berbeda pendapat tentang makna “يَعِظُ” dalam hadis ini, diantara makna yang disebutkan; mencela, menasehati, menakut-nakuti, dan mengingatkan. Namun pendapat yang lebih kuat adalah mencela berdasarkan riwayat yang disebutkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Al Adab Al Mufrad dari jalur ‘Abdul ‘Aziz bin Abi Salamah dari Ibnu Syihab Az Zuhri.

3. Sebab datangnya celaan dari sahabat Anshar ini adalah karena perasaan malu yang dimiliki oleh sahabat tersebut, hingga ia tak mendapatkan hak-haknya disebabkan rasa malunya yang sangat besar.

4. Perasaan malu adalah bagian dari iman, artinya malu merupakan atsar/tanda dari wujud dan keberadaan iman dalam hati seseorang. Karena itu Rasulullah melarang sahabat Anshar tersebut yang mencela sahabat lainnya karena urusan malu ini. Bahkan di dalam riwayat lainnya secara jelas Rasulullah menjelaskan bahwa perasaan malu hanya akan mendatangkan kebaikan.

5. Para ulama menjelaskan bahwa perasaan malu terbagi menjadi 2, terpuji dan tercela. Adapun malu yang terpuji apabila ia menjauhkan seseorang dari perbuatan kemaksiatan. Sedangkan malu yang tercela apabila ia menyebabkan seseorang meninggalkan ketaatan atau mengingkari kemungkaran padahal ia sanggup mengingkarinya namun hanya rasa malu yang menghalanginya saja.

6. Rasa malu memiliki keadaan yang berbeda berdasarkan hal yang dihadapi seseorang. Malu dari kemaksiatan hukumnya wajib, malu dari perbuatan makruh hukumnya sunnah, sedang malu dari urusan mubah maka hukumnya menjadi ‘urf atau kembali kepada kebiasaan masyarakat.

7. Sebagian ulama salaf mengatakan, “Takutlah kepada Allah karena besarnya kekuasaan-Nya atasmu, dan malulah kepada Allah karena dekatnya Dia kepadamu.”

***********

Penulis: Ustadz Rahmat Badani, Lc., MA

(Dosen STIBA Makassar, Alumni Islamic University of Madinah & Kontributor Mujahid Dakwah.Com)

Demikian Semoga Bermamfaat…

@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

BukaMall Carnival

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here