Penghujung bulan Juni lalu, Setara Institute merilis survei soal model beragama pada 10 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. Perguruan tinggi negeri ini terpapar paham Islam radikalisme.

10 PTN itu adalah UI, ITB, UGM, UNY, UIN Jakarta dan bandung, IPB, UNBRAW, UNIRAM, dan UNAIR. Direktur Riset Setara Instite, Halili mengatakan ini berkaitan dengan kegiatan keislaman yang dikooptasi oleh gologan Islam tertentu yang tertutup atau eksklusif.

Dalam penelitiannya, Setara Institute menggunakan metode kuantitatif.Untuk mengukurnya, peniliti meminta persetujuan beberapa responden kepada responden.

Contohnya: jalan keselamatan dunia dan mati hanya ada di dalam agamaku, agama agamaku sudah sempurna, dan saya tidak memerlukan pedoman tambahan di luar agama, atau hanya mengajarkan agamaku yang dapat mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.Semakin tinggi nilai yang diperoleh pertanyaan di atas, maka semakin tinggi fundamentalisme responden beragama.

Penelitian yang disarankan terbaru. Sudah sering istilah radikal dan radikalisme ini diterjemahkan dengan umat Islam. Standar-standar pun berusaha mengerdilkan peran Islam dalam kehidupan masyarakat.Arahnya ingin membangun cara pandang itu, “Semakin kuat Islam dalam kehidupan Anda, semakin kuat Anda berpontensi radikal.”.

Dari istilah ini lah yang diajukan sebagai pemicu terorisme, ekstrimisme, intoleran dan perongrong NKRI. Maka lahirlah wacana strategi deradikalisasi oleh pemerintah.

Hingga kini, istilah radikal sendiri pun definitif masih kabur. Dahulu di era perjuangan kemerdekaan kata radikal diartikan sangat baik, kelompok-kelompok progesif dan anti penjajahan selalu dielu-elukan dengan kata radikal.

Kini istilah radikal selalu diamsusikan sebagai musuh bangsa. Ancaman bagi NKRI, UUD 1945 dan Pancasila. Tidak bisa kita pungkiri stigma ini selalu dialamatkan untuk Islam, -lebih khusus syariat Islam. Orang-orang yang mencoba syariat Islam selalu memakai opini ini.

Sementara kita bisa menjawab makna radikal dalam arti ingin melepaskan diri dari NKRI, UUD 1945 dan Pancasila. Tidak bisa kita lupa mencatat sejarah pada 18 Agustus 1945. Sebuah tantangan ‘Radikal’ –yang ingin ingin dirimu sendiri dari Indonesia- datang dengan mengatasnamakan orang timur.

Singkatnya, waktu itu Indonesia yang baru dibuka setiap hari terancam bubar. Lantaran Mohammad Hatta setelah menemani Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada pagi 17 Agustus 1945, sakitnya Hatta menyambut seorang opsir Angkatan Laut Jepang yang mengirim pesan atas dasar Negara dari Piagam Jakarta.

“Opsir itu, yang aku lupa namanya, datang sebagai utusan Kaigun untuk benar-benar, wakil-wakil Protestan dan Katolik, yang tinggal di wilayah yang) dikuasai Kaigun, berkeberatan dan terkait dengan bagian dalam undang-undang undang-undang dasar, yang berbunyi: Ketuhanan dengan menerapkan hukum Islam untuk pemeluk-pemeluknya, ”ujar hatta, diterbitkan dalam autobiografinya, Mohammad Hatta: Memoir (1979).

Isi Piagam Jakarta yang dipermasalahkan adalah sila pertama.“Ketuhanan, dengan komitmen menjalankan syariat Islam untuk pemeluk-pemeluknya”. Padahal kalimat ini adalah bagian dari kesepakatan yang disusun oleh Panitia Sembilan, Badan Penyelenggara Pendidikan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang ditandatangani 22 Juni 1945.

Dalam buku Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam (2011) Hamka Haq menulis tentang sila itu merupakan hasil kompromi antara ideologi Islam dan ideologi kebangsaan yang mencuat saat rapat BPUPKI berlangsung.

Karena dalam buku R.M.A.B Kusuma, Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945: Memuat Salinan Dokumen Otentik Badan Oentoek Menyelidik Oesaha2 Persiapan Kemerdekaan, Ki Bagus Hadikusumo bahkan lebih tegas lagi meminta kata-kata ”bagi pemeluk-pemeluknya” ditiadakan, sehingga berbunyi: “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam.” Artinya, dalam pandangan Ki Bagus, syariat Islam harus berlaku secara umum di Indonesia.

Hatta menambahkan, Orang Kristen Timur setuju dengan bagian kalimat yang tidak mengikat mereka dan hanya diberikan kepada orang yang beragama Islam. Namun bagi Hatta, “diterbitkannya ketetapan seperti itu di dalam suatu dasar yang menjadi dasar Undang-Undang Dasar, yang dimaksud dengan pertemuan melawan mereka golongan minoritas. Jika ”ditentukan”, mereka lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia… ”

Piagam Jakarta sendiri telah mencapai persetujuan dari perjuangan memeras otak dan tenaga berhari-hari oleh tokoh-tokoh terkemuka bangsa. Mohammad Natsir mengatakan, dikeluarkan tujuh kata tersebut sebagai ultimatum kelompok Kristen, yang tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam, tetapi juga bagi bangsa Indonesia yang baru 24 jam diproklamirkan.

Natsir diskusi, peristiwa tanggal 18 Agustus 1945 adalah peristiwa sejarah yang tak bisa dilupakan. ”Menyambut proklamasi tanggal 17 Agustus kita bertahmid. Menyambut hari besoknya, tanggal 18 Agustus, kita istighfar. Insya Allah umat Islam tidak akan lupa, ”kata Natsir.

Kini 74 tahun setelah peristiwa 18 Agustus 1945 sudah berlalu. Umat ​​Islam kini menghadapi tantangan yang pelik. Dalam narasi-narasi publik, seperti diskusi politik di televisi dan diskursus diskusi di media massa, syariat Islam terus tersudut. Syariat Islam selalu dituduh sebagai bentuk menentang terhadap UUD 1945, dianggap merongrong NKRI dan bahkan ingin menggadaikan pancasila. Dengan kampanye “NKRI, UUD 1945 dan Pancasila adalah Harga Mati”.

Negara proses, UUD 1945 dan pancasila sangat dekat dan erat dengan semangat Syariat Islam. Meskipun sila pertama dalam piagam Jakarta lepas. Tapi nafasnya masih terasa seperti dalam kalimat “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, …” di pembukaan UUD 1945 dan sila pertama dalam pancasila yang kental dengan semangat mentauhidkan Allah.

Pada akhirnya, sebenarnya ada jawaban pamungkas untuk menentang stigma radikalisme terhadap Islam. Ilahi yang mendukung sejarah dan kesadaran akan kita harus diperkuat.

***********

Penulis: Rofi Munawwar
(Peminat Masalah Sejarah)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here