Musim Semi Arab, Khilafah yang Dinanti dan Bagaimana Mensikapi Tandhim Al-Baghdadi

0
26

Krisis yang melanda jihad Suriah, mengundang pemimpin Al-Qaidah, Syaikh Aiman ​​Az-Zawahiri untuk urun bicara. Dalam sebuah rekaman yang diterbitkan luas di internet, mantan pemimpin Jamaah Jihad Mesir itu menyampaikan pokok-pokok pemikiran yang ditawarkan untuk mencari solusi dari benang kusut yang masih membelit jihad di bumi Syam.

Musim semi, “berakhir dengan kemenangan atas kejahatan yang diharapkan oleh keruntuhanya oleh umat.” Umat akhirnya mengetahui bahwa sekulerisme, memperkuat, kezaliman hawa nafsu, negara nasionalis, ikatan kebangsaan — yang lebih besar jalan — hanya mengantarkan manusia pada kerugian dunia dan akhirat.

“Mudah-senang sekarang sudah jelas bagi umat tentang jalannya para mujahidin dan dai yang ikhlas, yang senatiasa menasehati umat dan mendukung mereka, itulah jalan keluar dari semua yang memperbaiki jalan dakwah dan jihad. Dan semoga umat juga mengetahui jalan yang benar yang sesuai dengan Al-Qur’an, As-sunnah dan membuktikan nyata dalam realita sejarah, ”tegasnya.

Selanjutnya, Syaikh Aiman ​​mendeklarasikan tujuan dakwah dan jihad yang sebenarnya. “Harakah jihad dan dakwah yang berjihad demi meninggikan kalimat Allah, sama sekali tidak sedang ganti untuk mengkafirkan umat.” Membalas, tujuan yang ingin diraih adalah mengangkatnya khilafah rasyidah yang sesuai di atas manhaj Nabi SAW.

“Mereka tidak sedang menegakkan kekuasaan raja yang zalim ( mulkan adhudh ) yang memperoleh kekuasaan setelah mengarungi lautan darah, mengumpulkan tengkorak dan memotong daging umat Islam,” imbuhnya.

 

Definisi khilafah yang ingin diraih, menurut Az-Zawahiri ditegaskan dalam penuturan selanjutnya:

  • Kami meminta khilafah yang berjalan di atas manhaj Khulafaur Rasyidin — radiyallahu anhum — ketika Rasulullah SAW wafat, beliau ridha terhadap mereka.Bukan hukum yang menjadikan Hajjaj bin Yusuf dan Abu Muslim Al-Khurasani sebagai contoh.
  • Kami tidak mau hukum yang pengikutnya mengucapkan sambi menghunuskan pedang, “ Inilah Amirul Mukminin, jika dia meninggal maka ini penggantinya. Barangsiapa yang menolak maka pedang ini untuknya. ”
  • Bukan pula yang para pengikutnya berkata,“Barangsiapa yang meraih sehelai benang dari baju khilafah ini dari kami, maka akan kami jadikan dia sarung untuk pedang ini.”
  • Bukan pula kekhalifahan yang dikatakan para kesatrianya, “ Sesungguhnya ketegasan dan semangat bajalah yang disampaikan cambuk kepadaku, keduanyalah yang mendukungku pedangku. Gagangnya cemeti di tanganku, gantungannya di leherku. Ujung cemeti adalah belenggu bagi orang yang membangkang kepadaku . ”
  • Bukan pula kekhalifahan yang dikatakan pemimpinnya, “Kami mengambil khilafah ini dengan ketajaman pedang yang dipaksakan, dengan peledakan, pengeboman dan kekerasan.”

Tanpa menyebut nama, semua tahu yang diminta oleh Az-Zawahiri di atas adalah kelompok Tandhim Daulah (ISIS) pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi. Memang, di bagian selanjutnya Az-Zawahiri juga menyampaikan pandangannya terhadap ISIS; Mulai dari sejarah kebersamaan hingga api yang cocok.

Yang menarik adalah sikap kepemimpinan Al-Qaidah yang terkait Tandhim Daulah. Simak tulisannya pada poin ini: “Saya ingin menyampaikan kepada saudara saya seruan untuk saling membantu bagi para mujahidin di Irak dan Syam. Akan tetapi sebelumnya saya ingin menjelaskan perkara yang penting, yaitu Kami tidak akan meminta khilafah Al-Baghdadi, dan kami melihat bahwa khilafahnya membutuhkan khilafah ala manhajin nubuwwah , bukan berarti kami mengingkari pekerjaan yang ia perlukan untuk mencari sendiri dan untuk mengunjungi saudara-saudaranya. ”

Kapan Bersama dan Kapan Berpisah dengan ISIS?

Dalam padangan Az-Zawahiri, tidak ada sikap setuju dalam memenuhi ISIS. Ia mengijinkan para mujahidin untuk menjadi anggotaamai Tadhim Al-Baghdadi saat melawan Amerika, Rafidhah, Nushairiyah dan juga kelompok Sekuler. Namun, jika ada prinsip Islam yang dilanggar, Zawahiri meminta untuk tidak meminta persetujuan mereka.

  • Jika mereka mengadakan pengadilan-pengadilan, kami mendukungnya. Akan tetapi memutuskan mereka tidak akan berhukum dengan syariat (di memutuskan perkara yang terjadi) di antara mereka atau di antara mereka dan jamaah lain dengan berbagai alasan, maka kami meminta mereka.
  • Jika mereka membunuh para pembesar kejahatan, maka kami bersama mereka. Namun, mereka mengatakan kami tidak bisa dimintai pertanggungjawaban terkait dengan pembunuhan Abu Khalid Sebagai Suri –rahimahullah- maka kami setuju mereka.
  • Jika mereka meminta Salibis, Rafidhah, dan sekuler, maka kami bersama mereka. Akan tetapi mereka menguasai makas-markas mujahidin dan meledakkannya, dan menguasai harta ( hai’ah syar’iyyah, maka kami akan menghubungi mereka.
  • Jika mereka membebaskan tawanan kaum muslimin dan mengeluarkan mereka dari penjara, maka kami bersama mereka. Setelah disetujui, mereka membunuh tawan kafir yang masuk Islam, lalu kami memutuskannya.
  • Jika mereka mendukung dan membantu para Muslim di setiap tempat, maka kami bersama mereka. Akan tetapi, mereka mencoba untuk memecah belah barisan jamaah jihad dengan pengakuan khilafah yang sebenarnya tidak terbukti, maka kami mendukung mereka.
  • Jika mereka menyeret untuk membentuk khilafah, maka kami bersama mereka. Bagaimanapun, mereka ingin memaksakan bagi umat Islam kekhilafahan tanpa permusyawaratan, bahkan dengan paksaan, pengeboman dan kekerasan, maka kami menentang mereka.
  • Jika mereka menzalimi kami, kami akan berlaku adil kepada mereka. Dan jika mereka bermaksiat kepada Allah terkait hak-hak kami, maka kami akan tetap mentaati Allah terkait menunaikan hak-hak keimanan mereka.

 

“Dengan kesalahan yang besar seperti ini, saya tetap menyeret seluruh mujahidin di Syam dan Irak untuk saling berhubungan, mengkoordinasikan usaha-usaha mereka agar mereka dapat mendukung satu shaf dalam membantu Salibis, Sekuler, Nushairiyah, dan Shafawi — bisa dilihat oleh siapa saja (mujahidin) tidak setuju dengan keabsahan negaranya Baghdadi, kelompoknya, disetujui dengan khilafahnya. “

“Sebab, bertentangan (Salibis, sekuler dan Syiah) lebih besar daripada hanya mempertimbangkan keabsahan negara mereka (ISIS) atau bahkan khilafah versi mereka.Permasalahan sekarang ini adalah umat yang menentang serangan Salibis yang harus kita pindahkan untuk melawan serangan musuh. ”

“Di sini saya tekankan tanpa keraguan lagi, bahwa jika terjadi perang antara Salibis, Shafawi dan sekuler dengan kelompok manapun dari kalangan mujahidin, termasuk di dalam kelompok Al-Baghdadi, pilihan kami hanya satu: buka di barisan kaum muslimin yang berjihad.”

5 Usulan untuk Jihad Syam

Syaikh Aiman ​​Az-Zawahiri juga meminta lima poin terkait jihad di Syam. Usulan yang diharapkan dapat segera ditutup luka yang sekarang menganga, agar kesatuan tubuh Mujahidin dapat bangkit dan fokus melawan musuh utama mereka dari Salibis, Rafidhah-Nushairiyah dan kelompok Sekuler.

  1. Menghentikan konflik fisik di antara mujahidin sesegera mungkin.
  2. Menutup celah fitnah dan provokasi yang dapat mencerai-beraikan kekuatan mujahidin.
  3. Mahkamah Konstitusi Syariah yang independen dan melingkupi seluruh faksi mujahidin yang ada — seperti yang pernah diusulkan oleh Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi.
  4. Melakukan islah massal.
  5. Melakukan proyek bersama di antara faksi mujahidin pada jenis-jenis pekerjaan yang memungkinkan.Seperti perawatan korban luka, penanganan tahanan, menyimpan persenjataan, pengadaan dana dan amunisi dan operasi bersama.

Waziristan dan Pakistan

Di bagian akhir seruannya, Az-Zawahiri juga mengecam kerjasama Pakistan dalam membantu Amerika menyerang wilayah Waziristan. “Amerika menyerang penduduk Waziristan dan mujahidin dari udara, sementara pasukan Pakistan menyerang mereka dengan tank dan pesawat mereka dari darat dan udara. Menyebabkan ribu perempuan, anak kecil, orang tua dan pemuda meninggal, sementara sekitar 1 juta penduduk pergi mengungsi. ”

Ia juga mengingatkan, “Waziristan mencatatkan pertarungan baru di sejarah Islam, mereka membantah Inggris keluar meminta pendahuluan mereka menentang Inggris. Maka kabar gembira bagi umat Islam atas kemenangan yang akan diukir di Afghanistan, bentengnya umat Islam. Inilah kemenangan yang akan membuka lembaran baru bagi kemenangan, penaklukan dan tamkin bagi Islam dalam waktu dekat, dengan izin Allah. “

Penulis: Miftahul Ihsan (Kiblat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here