Mental Siap Jajah : Catatan kritis dari Viral Anjing Manis Hingga Viral Dua Garis Biru

0
164
A male and female side silhouette positioned back to back, overlaid with various sized words related to the topic of mental health and depression.

Indonesia, negeri indah dan kaya dengan penduduknya yang ramah, berwajah polos, dan khas cara pandang yang harmoni. Selain beberapa ciri itu, masyarakat negeri ini juga telah dikenal mudah terbuka dengan hal baru yang dengan khas cara pandang harmoninya memungkinkan ia mengambil bagian dalam pergaulan budaya dengan bangsa-bangsa yang telah lebih dulu mapan secara sistem nilai kemasyarakatan yang bersifat Universal.

Berdasarkan ciri khas budaya di atas, masyarakat negeri ini juga dikenal amat besar penghargaannya bahkan mudah takjub pada hal-hal baru, unik, dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang.

Fenomena media sosial adalah salah satu bukti bagaimana masyarakat negeri ini mempunyai gairah dan sambutan tidak biasa pada berbagai aplikasi yang siap memfasilitasinya eksis sebagai masyarakat global dan mudah bergaul dengan budaya lain. Terbukti dengan Indonesia sebagai Negara dengan angka pengguna media sosial terbanyak ketiga di Dunia yang menembus angka partisipan 150 juta orang (sumber : https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/02/08/berapa-pengguna-media-sosial-indonesia.).

Berdasarkan beberapa fakta diatas, lantas sejauh mana kemapanan budaya yang telah kita capai ? dari penghargaan bahkan mudah takjubnya kita pada hal-hal baru, unik, dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang sebagai ciri khas, sejauh mana kepribadian kita sebagai individu dan bangsa harapan itu terbentuk ?

Belakangan terjadi beberapa kejadian yang menghebohkan Negeri yang mayoritas Muslim ini, dikarenakan sebuah video seorang Ibu parubaya yang terlihat marah-marah di sebuah rumah ibadah (Masjid) sambil menggendong anjing manis berjenis Mix mini pincher yang belakangan di diagnosa mengalami kelainan Jiwa.

Namun kurang menarik untuk lebih dalam menggali motivasi tindakan “si Ibu” tersebut. Justru yang menarik adalah gejolak respon elemen umat Islam yang berbeda, satu pihak mengecam keras dengan berbagai sangkaan bahwa ada konspirasi besar di belakang itu, adapula yang mengecam namun menenangkan elemen masyarakat agar tidak terprovokasi dan bertindak “Intoleran”, Namun ada juga yang meminta elemen masyarakat untuk memaafkan, bahkan cenderung menyalahkan gelombang kecaman elemen masyarakat Islam yang di anggap reaksioner dan tidak Pancasilais.

Setelah musim viralnya kasus di atas lewat, tibalah saatnya hati masyarakat harmoni ini di hebohkan dengan kasus viral lainnya, lewat sebuah film yang di anggap tidak senonoh yang dipopulerkan di Bioskop-bioskop tanah air dan viral di kalangan netizen yaitu “Dua Garis Biru” yang mungkin sebagai refleksi atas berprestasinya Negeri ini dalam hal-hal yang di anggap tidak senonoh. Indonesia berdasarkan kesimpulan survei Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), 50 % anak umur 17 tahun di Indonesia sudah tidak perawan lagi. (Sumber : https://www.tribunnews.com/nasional/2013/03/20/bkkbn-50-persen-anak-di-indonesia-tak-perawan).

Film ini mengisahkan tentang Bima dan Dara, mereka sepasang kekasih yang masih duduk di bangku SMA. Pada usia 17 tahun, mereka nekat bersanggama di luar nikah. Dara pun hamil. Keduanya kemudian dihadapkan pada kehidupan yang tak terbayangkan bagi anak seusia mereka, kehidupan sebagai orangtua.

Alhasil, muncullah berbagai reaksi terkait film tersebut, tentu saja ada yang mengecam bahkan mengaitkan hal ini dengan konspirasi besar di belakangnya dan kebanyakan merasa antusias dengan dalih, “Yaa kalau ada negatifnya, kita ambil positifnya saja,” menggambarkan betapa harmonis dan bijaknya mereka, itu seperti penegasan bahwa pribadinya sangat kuat sehingga tidak akan terjatuh dengan hal-hal yang tidak bermartabat seperti itu.

Dari dua cuplikan kasus diatas, pelajaran apa yang bisa kita petik?, kesimpulan apa yang terbetik pada dua bekal epistemologi kita, baik akal sehat (Rasionalitas) dan pengalaman indrawi atas realitas (empiris)?, benarkah imunitas kebudayaan negeri ini telah mapan?, ataukah malah sebenarnya negeri ini telah merasa nyaman atas kehilangan identitas ketimuran dan Islamnya?.

Benarkah kita telah merdeka?, ada banyak pertanyaan untuk mengujinya, namun tidak banyak yang punya kepedulian untuk secara obyektif dan mendalam memikirkannya. kita lebih memilih putus asa dan menghindar, ataukah putus asa dan pasrah atas hegemoni budaya yang senyap menggerogoti generasi muda bangsa ini, bahkan lebih ekstrim dari itu ada beberapa pihak secara sadar memilih menjadi pengasong budaya-budaya immoral serta intoleran terhadap Islam dan budaya ketimuran secara umum tersebut.

Bagaimana sebuah bangsa bisa bermental siap jajah, mudah takjub, dan memiliki kepedulian temporal (Viralisme), sehingga ia dengan senang hati menawarkan kehormatan pribadi, keluarga, Bangsa dan Agamanya pada entitas asing ?

Ibnu Khaldun (1332-1406 M) mengatakan, “Bangsa yang kalah selalu takjub melihat bangsa lain yang menang kemudian menirunya baik dalam slogan, pakaian, agama, sifat-sifat serta kebiasaan-kebiasaannya”, akibat ketakjuban itu timbullah apa yang dikatakan Malik ben Nabi (1905-1973 M) sebagai, “al-qaabiliyyah li al-isti’maar” (Mental siap jajah), sifat ini kata Malik ben Nabi adalah “Penyakit kebudayaan yang di derita oleh suatu bangsa yang membuatnya siap dihegemoni oleh bangsa lain”.

Lantas sebagai bangsa yang besar, kaya, berkebudayaan, dan bermayoritas Islam solusi apa yang bisa kita tawarkan?

Muhammad Asad (Leopord Weis, 1901-1992 M) pernah mengatakan, “Sains dan Teknologi merupakan warisan kemanusiaan… Umat Islam ketika melakukan keterbukaan budaya, seperti harusnya mereka melakukannya, terhadap sarana-sarana modern di bidang sains dan Industri, mereka sebenarnya tidak lebih dari mengikuti insting kemajuan yang membuat orang memanfaatkan pengalaman pengalaman bangsa-bangsa lain. Tetapi jika yang di adopsi itu adalah sesuatu yang tidak perlu dilakukan dengan mengambil kehidupan barat, sastra, tradisi, konsep-konsep sosial barat, mereka sesungguhnya tidak mengambil manfaat sedikit pun. Karena apa yang disuguhkan barat untuk mereka dibidang ini, tidak lebih utama dan luhur, ketimbang yang telah disugukan oleh kebudayaan mereka sendiri, yaitu diajarkan oleh agamanya sendiri”.

Dalam hal keterbukaan dengan budaya lain Syed Muhammad Naquib Al-Attas (lahir, 1931) menawarkan Islamisasi terhadap ilmu pengetahuan kontemporer, yaitu upaya untuk “membebaskan Manusia dari magis, mitologi, animisme, tradisi budaya, yang bertentangan dengan Islam, dan kemudiian dari control sekuler atas akal dan bahasanya. Islamisasi akan membebaskan akal manusia dari keraguan, dugaan, dan argumeentasi kosong, menuju keyakinan akan kebenaran, realitas spiritual, jelas, dan materi. Islamisasi juga akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dari ideologi, makna, dan ungkapan sekuler”.

Walhasil sejalan dengan gurunya terkait Islamisasi di atas Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud (lahir,1955 M) berkesimpulan,” Islam adalah Agama sekaligus peradaban… Islamisasi adalah menguniversalkan bentuk-bentuk budaya, adat, tradisi, dan lokalitas supaya sesuai dengan agama Islam yang Universal”.

Maka dapat disadari, Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin (Universalistik) adalah fitrah kemanusiaan, dimana manusia mana yang silau dan bangga dengan entitas kebudayaan selain Islam, pada hakikatnya dia berlari dari fitrah kemanusiaannya dan lari dari jalan satu-satunya kebahagiaan akal (Rasionaltas), pengalaman Inderawi (empiris), rasa (sensibilitas), dan spiritualnya (kemutlakan Wahyu).

Penulis: Sayyid Fadillah
(Kabid. Kajian Madani Institute)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here