MUJAHID DAKWAH.COM – Nikmat hidayah merupakan hadiah terindah dari Allah bagi hamba-hamba Nya yang Ia kehendaki. Tidak semua orang bisa merasakan manisnya meniti jalan hidayah, kecuali mereka-mereka yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang di kehendaki hidayah kepadanya maka Allah akan menunjukinya kepada jalan-jalan kebaikan dan ketaatan, serta memalingkannya dari kemaksiatan.

Hidayah mengenal Islam, istiqomah dalam keimanan kepada-Nya serta berjalan di atas sunnah nabi-Nya, merupakan kenikmatan tertinggi dari Allah. Sejarah telah mencatat dalam torehan tinta emas orang-orang yang ditunjukkan jalan hidayah kepadanya, hingga ia pun mendapatkan kebahagiaan, kemuliaan dan derajat yang tinggi di atasnya meski sebelumnya ia berada pada lembah dan jurang kemaksiatan.

Saudaraku, suatu kesyukuran terbesar bagi seorang hamba tatkala nikmat hidayah itu telah tertancap kokoh di dalam hati mereka. Oleh karenanya tetaplah berupaya untuk menjaga agar ia tetap terpatri di dalam hati, karena sesungguhnya menjaga hidayah itu jauh lebih berat dibanding mendapatkannya.

Tentu tidak dapat kita pungkiri bahwa hidayah sewaktu-waktu akan menghilang dan lenyap dalam diri setiap orang. Utamanya di zaman yang penuh dengan fitnah (ujian) ini, baik fitnah syahwat maupun fitnah syubhat. Keduanya akan senantiasa memalingkan seseorang dari kebaikan dan ketaatan menuju kepada keburukan dan kemaksiatan. Olehnya itu sangat penting bagi seorang hamba untuk senantiasa berupaya menjaga nikmat hidayah tersebut agar tetap kokoh di dalam hati mereka.

Sebenarnya ada begitu banyak cara yang bisa kita tempuh untuk menjaga hidayah agar tetap istiqomah di dalam kebaikan. Namun, setidaknya ada dua unsur terpenting dalam proses menjaga hidayah yang akan disebutkan oleh penulis, diantaranya adalah:

1. Menyibukkan Diri dalam Dakwah

Allah subhanahu wa Ta’ala memberikan pilihan bagi hamba-Nya dalam menjalani kehidupannya di dunia. Entah ia memilih jalan kebaikan ataupun sebaliknya. Jika ia memilih kebaikan, maka Allah akan senantiasa menyibukkannya dalam perkara-perkara kebaikan, dan waktunya akan dihabiskan di atas perkara itu pula. Begitupula bagi mereka yg memilih keburukan, maka waktunya pun akan habis dalam perkara kelalaian dan kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sungguh beruntung orang-orang yang mengisi setiap waktu mereka dalam kebaikan. Sibuk dalam memikirkan ummat atas semua problematika yang ada, karena ia sadar bahwa realita keterbelakangan ummat dari segala aspek harus diatasi. Ia tidak akan merasa tenang tatkala kemungkaran senantiasa menggerogoti kaum muslimin, terkhusus para pemuda yang kian hari semakin jauh dari Al-Qur’an dan pengajaran sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Mereka itulah para aktivis-aktivis dakwah yang senantiasa menyibukkan dirinya dengan urusan ummat. Mereka berdakwah, mengajak kepada kebaikan agar kaum muslimin kembali ke jalan yang benar dan di ridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagi para aktivis dakwah kampus, yang menghabiskan waktunya dengan terus bergerak dan berjuang untuk melakukan perubahan dan perbaikan di tengah merosotnya nilai-nilai Islam di kalangan para mahasiswa. Agenda-agenda dakwah pun setiap saat menyita waktu luangnya, bahkan terkadang hak-hak anggota badannya seperti makan dan istirahat pun ia kesampingkan demi perjuangan dalam dakwah.

Apakah ada kesibukan yang lebih baik dibandingkan kesibukan memikirkan urusan ummat?

Sungguh beruntung orang-orang yang Menjadikan setiap waktunya adalah kebaikan. Ia terus berusaha menjadi pelopor-pelopor perubahan bagi orang lain, agar bisa bersama-sama meraih jannah-Nya di akhirat kelak. Mereka yakin akan janji dari Allah berupa pahala jariyah tiada hingga, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

2. Aktif dalam Pembinaan Halaqah Tarbiyah

Melihat realita yang terjadi saat ini, dengan fitnah yang terjadi dimana-mana menjadikan orang-orang beriman seharusnya lebih mempersiapkan diri mereka dalam menghadapinya, jangan sampai terjatuh ke dalam fitnah tersebut.

Tantangan yang begitu berat menimpa kaum muslimin utamanya para pemuda yang menginginkan agar tetap kokoh dalam keistiqomahan dan hidayah senantiasa terpatri di dalam hatinya. Apakah mereka mampu membendung badai fitnah dan godaan dunia atau justru sebaliknya ia terseret oleh arus yang berujung pada kehinaan dan kebinasaan.

Olehnya itu kesadaran inilah yang mestinya selalu ada dalam diri setiap insan, begitu pentingnya mengisi waktu dengan kebaikan-kebaikan agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang sifatnya melalaikan bahkan sampai kepada kemaksiatan.

Saudaraku, salah satu metode (wasilah) yang tepat dalam menjaga hidayah adalah menyibukkan diri dalam menuntut ilmu. Diantaranya dengan aktif mengikuti pembinaan yang disebut dengan istilah “Tarbiyah”.

Tarbiyah merupakan sebuah program yang dilakukan secara berkesinambungan yang dibangun di atas prinsip-prinsip Islam, bertujuan untuk membentuk pribadi Muslim yang ideal. Dari pembinaan yang dilakukan secara intensif dan konfrehensif inilah akan lahir generasi-generasi terbaik dalam Islam, mencetak orang-orang yang teguh dan komitmen dalam menjalankan syariat Islam ini. Sebagaimana Rasulullah melahirkan kader-kader terbaik melalui tarbiyah beliau secara langsung kepada para sahabat-sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum

Tarbiyah sangatlah penting dalam rangka menjaga keimanan, karena di dalamnya bukan hanya sebagai proses transfer ilmu dari seorang murobbi kepada mutarobbinya. Akan tetapi ada pengontrolan iman secara berkesinambungan di dalamnya, yang bisa menjadi alarm kebaikan bagi kita setiap saat.

Tarbiyah juga akan membangun kekuatan ukhuwah Islamiyah di atas dasar keimanan kepada-Nya. Membentuk pribadi muslim yang cerdas, berakhlak mulia, serta komitmen terhadap syariat dan perjuangan dakwah.

Saudaraku, keimanan seseorang yang sangat kuat sekalipun akan ada masanya tiba pada titik terlemah. Inilah pentingnya dakwah dan tarbiyah dalam upaya menjaga keimanan dan keistiqomahan tersebut. Menyibukkan diri dalam dua perkara tersebut akan senantiasa memupuk benih-benih hidayah dalam hati seseorang agar tetap kokoh diatasnya.

Ditengah maraknya fitnah yang melanda, maka seorang mukmin harus senantiasa memperbanyak amalan-amalan kebaikan agar ia dipalingkan dari perbuatan maksiat yang berujung pada kebinasaan.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahun’alaihi wasallam:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian beramal (shalih) untuk menyelamatkan diri dari berbagai fitnah yang seperti potongan malam yang gelap. Di mana seseorang pada pagi hari dalam keadaan beriman lalu di sore harinya dia menjadi kafir. Ada pula yang di sore hari dalam keadaan beriman kemudian dia masuk waktu pagi menjadi kafir. Dia menjual agamanya untuk mendapatkan keuntungan dunia.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

***********

Penulis: Muhammad Ikram

(Penulis, Ketum LKA MPM UINAM, Pimred Mujahid Dakwah.Com)

05 Ramadhan 1440 H
Masjid Perjuangan Darul Khair, Samata-Gowa

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘Alam Bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here