Kitab Al-Iman

Bab 8: Manisnya Iman

Hadis 15

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.

Dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka”.

Fawaid Hadits:

1. Manisnya iman adalah bentuk permisalan yang digambarkan Rasulullah tentang perihal mukmin yang benar imannya kepada Allah. Sebagaimana orang yang sehat dapat merasakan manisnya madu, sedangkan orang sakit justru merasa pahitnya madu. Manisnya iman artinya merasakan nikmatnya ketaatan dan menanggung seluruh kesulitan dan beratnya meninggalkan kemaksiatan, serta senantiasa mendekat kepada Allah dan menjauhi fitnah dunia yang mengejar seorang hamba.

2. Ibnu Abi Jamrah berkata sebab dimisalkan sempurnanya iman dengan rasa manis karena Allah telah berfirman “permisalan perkataan yang baik ibarat pohon yang baik” (Surah Ibrahim: 24) maka perkataan yang baik itu adalah kalimat ikhlas (tauhid), pohonnya adalah asas iman, dahan-dahannya adalah ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dedaunannya adalah kebaikan-kebaikan yang diamalkan, buahnya adalah ketaatan, sedang manis buahnya adalah puncak kesempurnaan pohon tersebut.”

3. Seorang mukmin yang telah memperoleh kesempurnaan iman akan melihat segala sesuatu berasal dari Allah, karena Allah, dan untuk Allah. Karenanya ia cinta Allah melebihi siapapun, ia cinta Rasulullah yang telah dicintai Allah, ia cinta siapapun karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran karena kufur bertolak belakang dengan keridhaan Allah.

4. Hadis ini berisi anjuran untuk senantiasa berhias dengan amalan-amalan yang mulia dan mensucikan diri dari amalan yang buruk.

5. Rasa cinta kepada Allah dan Rasulullah terbagi 2:
– Cinta yang wajib yang akan mengantar pemiliknya untuk menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan.
– Cinta yang sunnah yang mengantar pemiliknya untuk menjalankan sunnah-sunnah dan menjauhi syubuhaat.

6. Seorang yang mengaku cinta kepada Allah tak akan bermanfaat bilamana ia tak mencintai Rasul-Nya, Allah berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31).

7. Rasulullah bersabda “Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka”, lafadz kembali kepada kekufuran berarti seorang yang diselamatkan Allah dari kebinasaan setelah ia merasakan kekufuran jauh lebih berpengaruh kepada iman seseorang dibandingkan mereka yang lahir dan tumbuh dalam islam sejak awal.

***********

Penulis: Ustadz Rahmat Badani, Lc., MA

(Dosen STIBA Makassar, Alumni Islamic University of Madinah & Kontributor Mujahid Dakwah.Com)

Demikian Semoga Bermamfaat…

@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here