Kitab Al-Iman

Bab 3: Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.

Hadits 9

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ.

Dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah “.

Fawaid Hadits: 

1. Siapa yang dimaksud dengan Al Muslim dalam hadis ini ?
– Ialah muslim yang sempurna keimanannya kepada Allah ta’ala.
– Imam Khattabi berkata “Yang dimaksud adalah sebaik-baik muslim yang menggabungkan antara ketaatan kepada Allah dan ihsan kepada sesama makhluk”.
– Maksud hadis ini adalah penyebutan ciri-ciri orang muslim, sebagaimana Rasulullah juga menyebutkan ciri-ciri orang munafik dalam hadis lainnya.
– Atau maksud hadis ini berupa anjuran untuk memperbaiki ketaatan dan hubungan kita kepada Allah, sebab memperbaiki hubungan kepada sesama manusia saja diperintahkan oleh Rasulullah, maka kepada Allah tentu jauh lebih utama.

2. Penyebutan kaum muslimin dalam hadis ini adalah sebagai lafadz yang mayoritas, yang di dalamnya masuk pula wanita-wanita muslimah.

3. Dalam hadis ini disebutkan secara khusus lafadz lisan dan tangan, karena keduanya adalah anggota tubuh yang mewakili anggota-anggota lainnya.
– Lisan mewakili perasaan dan hati seseorang secara batin, dan tangan mewakili anggota tubuh secara fisik.
– Melalui lisan dan tangan pula mayoritas kemaksiatan dilakukan oleh seorang hamba.
– Lisan dapat berbuat buruk tentang masa lampau, sekarang dan masa akan datang, sebagaimana tangan pula demikian melalui tulisan yang ditulisnya.
– Lisan dapat berdosa walau tak berucap kata-kata yaitu dengan menjulurkan lisannya kepada orang lain sebagai bentuk penghinaan, begitu pula tangan secara maknawi dapat berdosa walau tak berbuat apa-apa manakala kekuasaan seseorang digunakan untuk kedzaliman.

4. Hijrah terbagi menjadi 2, batin dan dzahir. Adapun hijrah batin maka dengan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah ta’ala. Sedangkan hijrah dzahir adalah dengan meninggalkan fitnah-fitnah yang merusak agama, diantaranya adalah dengan meninggalkan tempat tinggal dan lingkungan yang buruk menuju tempat yang islam dan baik sebagaimana kisah hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

***********

Penulis: Ustadz Rahmat Badani, Lc., MA

(Dosen STIBA Makassar, Alumni Islamic University of Madinah & Kontributor Mujahid Dakwah.Com)

Demikian Semoga Bermamfaat…

@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here