بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Dakwah merupakan tugas penting bagi kaum muslimin, karena dakwah merupakan ruh kebangkitan Islam. Dengan adanya dakwah, syiar Islam akan berkibar di segala penjuru, dan Al-Qur’an akan terlantunkan di banyak tempat di mana dakwah tersebut disampaikan.

Tanpa semangat dakwah, kaum muslimin ibarat raksasa yang tertidur dengan nyenyak, yang dengan keadaan demikian musuh-musuh Islam akan dapat melumpuhkan kaum muslimin dengan mudah. Dakwah bagaikan lentera kehidupan yang memberi cahaya dan menerangi hidup manusia dari nestapa kehidupan. Allah ta’ala memerintahkannya di dalam Al-Qur’an:

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan mau’idhah hasanahdan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”  (An Nahl : 125)

Dakwah Islam memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu mengeluarkan manusia dari peribadatan kepada selain Allah menuju peribadatan kepada Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Supaya tujuan dakwah tersebut tercapai, diperlukan taktik dan strategi yang tepat dalam melaksanakannya, walaupun hidayah itu hanya Allah yang menentukannya.

Di sini kita akan mengkaji kembali sejarah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam menjalankan dakwah Islam. Secara tahapan, dakwah Rasulullah saw terbagi menjadi 2 masa. Yaitu Dakwah Di Masa Lemah dan Dakwah Ketika Kuat.

DAKWAH DI MASA LEMAH

Mendakwahi Keluarga

Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga sangat dibutuhkan oleh seseorang, keluarga yang baik dapat menjadi wadah bagi anggotanya dalam bekerjasama dan saling meringankan beban. Lebih-lebih bagi seorang dai, dukungan keluarga sangat diperlukan olehnya dalam menjalankan tugas dakwah yang sarat dengan ujian, rintangan, dan halangan.

Sejarah menggoreskan tinta tentang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau menampakkan Islam pada mulanya kepada orang yang paling dekat dengan beliau, yaitu rumah tangga beliau, maka kita ketahui seluruh anggota rumah tangga beliau masuk dalam agama Islam.

Di antara anggota keluarga beliau yang menyambut dakwah adalah istri beliau, Khadijah RA, sepupu beliau Ali Bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

Mendakwahi Teman Karib

Selain keluarga, teman juga memiliki pengaruh dalam kehidupan. Seseorang bisa menjadi baik karena pengaruh temannya begitu juga sebaliknya ia bisa menjadi bobrok karena pengaruh teman, betapa besarnya pengaruh teman. Dalam mendakwahi teman, biasanya tidak banyak menghadapi kesulitan jika kita sudah memahami betul karakter dan sifat-sifatnya serta ada keinginan kuat dalam diri kita untuk berdakwah kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencontohkan kepada umatnya untuk berdakwah pada teman karib, beliau berdakwah kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq sehingga ia masuk ke dalam Islam. Setelah itu, Abu Bakar mendakwahi teman-temannya.

Berkat dakwah Abu Bakar ini masuk Islamlah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah.

Mengadakan Halaqah Tersembunyi

Tatkala kekuatan Islam masih lemah, jumlah pengikutnya belum banyak, dan jika menampakkan Islam akan membahayakan keselamatan diri, membina umat dengan halaqah tersembunyi adalah tindakan yang bijaksana.

Untuk menjaga struktur tertutup (Sirriyatut Tandzim) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memilih markas yang jauh dari keramaian manusia. Di tempat seperti inilah pertemuan-pertemuan antar jamaah maupun antar pimpinannya dapat terlaksana dengan leluasa, di mana pertemuan ini kemungkinan kecil akan diketahui oleh mata-mata dari pihak musuh. Maka dipilihlah rumah Arqam yang terletak di bukit Shafa.

Dakwah Secara Terang-terangan

Strategi ini dilaksanakan apabila sudah ada jaminan keselamatan dari orang  atau golongan yang betul-betul dapat di percaya. Inilah yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah beliau merasa yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindungi dan membela beliau dalam berdakwah.

Berdakwah ke Luar Daerah

Ketika usaha dakwah di daerah sendiri sudah dilakukan secara maksimal, namun tidak banyak mendapat sambutan baik dari masyarakat, seorang dai hendaknya melirik ke luar daerahnya, menyeru masyarakat di sana. Apalagi jika masyarakat daerahnya sendiri menampakkan permusuhan terhadap dakwah Islam.

Tetap tinggalnya para dai di tengah masyarakat yang demikian merupakan tindakan yang kurang bijaksana, walaupun memang benar jika seorang dai harus bersabar dalam menghadapi cobaan, ia tetap harus berusaha. Tetapi ia juga harus berpikir tentang perkembangan dakwah dan keselamatan dirinya di lingkungan tersebut.

Demikianlah yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya tatkala berbagai ancaman dan tekanan dilancarkan oleh orang-orang kafir Quraisy terhadap kaum muslimin yang lemah. Hari demi hari tekanan mereka semakin keras sehingga keselamatan kaum muslimin terancam. Dalam kondisi demikian turunlah surat Al-Kahfi ayat 16 yang berbunyi:

“Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung dalam gua itu, niscaya Rabb kalian akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian”

Rasulullah sudah mengetahui bahwa Najasyi, raja yang berkuasa di Habasyah, adalah seorang raja yang adil, tidak bakal ada seorang pun yang teraniaya di sisinya. Oleh karena itu beliau memerintahkan agar beberapa orang muslim hijrah ke Habasyah.

Rasulullah juga melaksanakan dakwahnya ke Thaif, daerah yang berjarak sekitar 60 mil dari Makkah. Beliau mengajak masyarakat Thaif kepada Islam, namun tak satu orang pun yang memenuhinya. Bahkan beliau menerima cacian, makian, dan lemparan batu.

Selain Habasyah dan Thaif, Rasulullah juga mengajak berbagai kabilah. Az-Zuhry menuturkan, “Orang-orang yang pernah menyebutkan kepada kami tentang nama-nama kabilah yang didatangi Rasulullah dan diseru untuk masuk kepada Islam adalah Bani Amir bin Ash Sha’sha’ah, Muharib bin Khashafah, Fazarah, Ghasan, Murah, Hanifah, Sulaim, Abs, Bani Nashr, Bani Al Bakka’, Kindah, Halb, Al Harits bin Ka’ab, Udzrah, dan Hadhramy. Namun tak seorang pun di antara mereka yang memenuhi seruan beliau”.

Dari berbagai penduduk daerah yang beliau seru, hanya penduduk Yatsrib yang menjanjikan keberlangsungan dakwah. Dimulai dari enam orang Yatsrib yang didakwahi oleh Rasulullah tatkala musim haji. Mereka pun memenuhi seruan tersebut dab pulang ke daerahnya dengan membawa agama baru.

Naskah: Rudi N