بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Ketika peradaban-peradaban besar mengeksploitasi manusia, baik peradaban Romawi dengan segala kekuatannya, maupun peradaban Persia hingga peradaban Arab Jahiliyah. Di saat itu Rasulullah SAW diutus kepada umat manusia. Dan di antara misi kenabian yang dibawa oleh Nabi adalah mengeluarkan manusia dari peribadatan kepada manusia menuju peribadatan tunggal untuk Allah SWT.

Pelan tapi pasti Islam mulai diterima oleh bangsa Arab, dirilis Nabi Muhammad wafat telah disetujui kabilah-kabilah Arab sudah masuk Islam dan dakwah sudah tersampaikan ke perancis dan Persia.

Tidak berselang lama semenjak wafatnya Rasul, para sahabat yang dimotori oleh para Khulafaur Rasyidin sudah mampu mendorong Islam ke tanah Persia dan Romawi. Lebih lanjut dalam sejarah, kita bisa menemukan bagaimana orang-orang Nasranai lebih suka dipimpin oleh para Sahabat daripada dipimpin oleh para raja mereka yang notabene ssatu keyakinan dengan mereka.

Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi mengutip 4 alasan mengapa Islam dapat memimpin peradaban manusia, yang diterjemahkan oleh sejarah Rasul dan para khalifahnya. Ke-empat alasan itu adalah:

1. Umat Islam Menjunjung Tinggi Al-Quran dan Berpegang Teguh untuk Hukum-hukum Ilahi

Perilaku mereka dalam kendali dikontrol oleh wahyu. Al-Quran dan Sunnah menjadi landasan mereka dalam pimpinan. Kita bisa melihat bagaimana hal ini diperbaiki dalam pemerintahan para khalifah. Bagaimana seorang Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan dikonfirmasi melanjutkan ekspedisi pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid yang berhasil tertunda karena wafatnya Rasulullah. Meskipun pada awalnya ditentang oleh beberapa sahabat, Abu Bakar tetap keukeuh memberangkatkan misi tersebut. Karena pasukan ini adalah pasukan yang dipilih oleh Rasul, bagaimana mungkin seorang Abu Bakar menyelisihi perintah Rasul. Begitu juga dengan Ali bin Abi Thalib yang kompilasi ada perselisihan antara dirinya dan Muawiyah, kompilasi perang berkecamuk pada perang Shiffin, pasukan Muawiyah mengangkat Al-Quran menandakan mereka ingin berunding.

Mereka paham betul yang keluar dari wahyu akan menyebabkan dosa, kesesatan dan kezaliman. Memungkinkan mereka tidak menentukan keputusan atau kebijakan dasar wahyu. Mereka tidak sewenang-wenang kepada orang lain, baik dalam prilaku pribadi maupun keputusan politik. Allah telah menciptakan cahaya wahyu di dalam dada mereka sehingga mereka berjalan dengan baik di tengah-tengah manusia.

2. Umat Islam menyetujui Alih Kepemimpinan setelah Melewati Pendidikan Akhlak dan Pembersihan Jiwa

Mereka tidak memperebutkan pangkat dan jabatan. Sungguh, mereka enggan menerimanya dan takut tidak aman dalam melaksanakannya. Mereka jauh dari bursa pencalonan diri untuk mendapatkan jabatan, membaguskan dan mengamankan diri, menggerakkan mesin propaganda dan menghamburkan uang.

Jika mereka setuju tentang masalah umat, amanat itu tidak dianggap sebagai hadiah, makanan lezat atau ketidakseimbangan atas jerih payahnya, tidak pula termasuk sebagai uang atas yang telah dikeluarkannya. Namun, ITU SEMUA dipandang sebagai amanah Yang membebani Leher Dan ujian Dari Allah ta’ala Yang Kelak akan Diminta pertanggung-jawabannya di hadapan-Nya pula.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوََََُِِِْْْ

” Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu .” (QS. Al-An’am: 165)

Dan generasi para sahabat menjadi sisi nyata dalam hal ini. Mereka adalah manusia yang melalui kombinasi tarbiyah dari Allah. Ada yang disiksa seperti Bilal, ada yang berhijrah seperti Ja’far bin Abdul Muththolib, ada yang diboikot bertambah-tahun lamanya, ada yang bertaruh dengan dana kompilasi perang Ba’atur Ridhwan. Serangkaian tamhish dari Allah membuat para sahabat tidak silau dengan jabatan, tidak tergiur dengan tawaran harta dan tidak terlena dengan dunia.

3. Tujuan Mereka adalah Memerdekakan Manusia dari Belenggu Manusia Menuju Penghambaan untuk Allah ta’ala .

Mereka yang suka orang yang mengabdikan diri kepada bangsa atau ras, bukan pula wakil rakyat atau tokoh nasional yang bekerja mewujudkan kesejahteraan bangsanya saja. Tidak pula berpendidikan dari tanah air dan kebangsaannya lebih mulia dari bangsa atau negara lain.

Mereka tidak berideologi karena mereka menciptakan Allah untuk mendirikan “imperium Arab” atau semisalnya, kemudian menikmati kemewahan, menjadi orang besar dan congkak di bawah persetujuan imperiumnya. Tidak pula berhasil menaklukkan bumi Barat dan Timur untuk dimasukkan dalam imperiumnya saja.

Mereka bukan orang yang memonopoli ilmu pengetahuan. Pendidikan tidak diperuntukkan bagi bangsawan bangsawan atau orang kaya saja.Memperoleh yang miskin dan kaya memiliki hak yang sama untuk memperoleh pengetahuan. Mereka menerima peluang yang diperluas untuk memberikan kontribusi bagi peradaban baru.

4. Kepemimpinan Mereka Memenuhi Aspek Lahir dan Batin

Perabadan yang baik dan jernih tidak mungkin terwujud kecuali dibangun di atas din yang agung, akhlak yang mulia dan pikiran sehat yang menguasai kehidupan. Sejarah membuktikan hal itu terwujudnya kompilasi kepemimpinan ditangan orang yang sanggup menjadi teladan dalam agama, berbudi pekerti luhur dan berpikir sehat dengan ilmu yang luas. Bila pemimpin rohaninya lemah, hal itu akan terlihat dalam berbagai penampilan.Masyarakat yang melihat akan berusaha membentuk kepemimpinannya, dan terbentuklah masyarakat matrealistis. Hanya mengandalkan manusia-manusia munafik yang gersang percaya. Allah mencela manusia-manusia seperti itu:

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ َ َ َ َّ َّ ُ َ َ َ ُ ُ ُ

“Dan mendorong kamu melihat mereka, tubuh-tubuh (membuat fisik) mereka membuat kamu kagum. Dan jika mereka mengatakan kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. “ (QS al-Munafiqun: 4)

Sementara Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang seimbang antara aspek fisik dan aspek maknawi. Kita bisa melihat di dalam diri para sahabat berpadunya tanpa-agama, akhlak, kekuatan, dan politik dalam diri mereka. Mereka mencerminkan kesenangan dalam segala seginya yang dimiliki oleh pemimpin dunia. Kesanggupan memadukan soal spiritual dan material, kesiapan fisik yang sempurna, dan komprehensif akan memudahkan bagi umat manusia untuk mencapai tujuan yang ideal, yaitu peningkatan spiritual, budi pekerti yang luhur dan kecukupan materi. Wallau ‘alam bish showab.

**********

Penulis: Zamroni

(Kontributor Kiblat.Net)

Demikian Semoga Bermamfaat…

@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

BukaMall Carnival

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here