بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

“Tidak ada tempat bagi LGBT di Indonesia, sebab negara kita memang bukan negara agama, tapi negara yang memiliki agama. Semua kitab yang dibaca, Alquran bagi muslim, Injil bagi Nasrani, dan Taurat bagi Yahudi, dan lain-lain melarang perkawinan sejenis,” kata anggota Komisi I DPR dari Fraksi PPP, Syaifullah Tamliha kepada wartawan, Minggu (10/2/2019) terkait munculnya akun @alpant**i ‘Gay Muslim Comics’.

Senada dengan Syaifullah Tamliha, para netizen pun menyerbu dan mengecam akun berfollower 3.708 tersebut. “Mohon segera ditindaklanjuti! komik sesat Astaghfirullahal’adzim @kemenag_ri @kemenag_ri @kemenag_ri” tulis akun @afinaunurrohim. “Tolong di tindak pak cc: @divisihumaspolri @cybercrimepolri @krishnamurti_bd91,” tulis @hbamazing.

Namun ummat tak bisa langsung menarik nafas lega. Meski akun telah diblokir atas permintaan  Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), akun tersebut kembali aktif. Kembalinya akun tersebut beredar lewat cuitan akun Twitter @alPantuni pada Selasa (19/02/2019). “Yay my IG is back!” tulis akun tersebut.

Untuk kesekian kali, Barat menjajal resistensi kaum muslimin atas standar dan nilai Barat. Dalam lini penyebaran massif LGBT, Sekretaris Jendral PBB Antonio Guterres menyampaikan penyataannya dalam laman resmi unfe.org  “I appeal to all government and societies…to build a world where no one has to be afraid because of their sexual orientation or gender identity.” Pernyataan ini diwujudkan dalam langkah nyata penggelontoran dana sebesar USD 180 juta. Penggelontoran dana ini bertujuan agar LGBT memiliki akses hukum, memobilisasi masyarakat untuk menerima keberadaannya, dan mendorong kebijakan publik untuk menjamin hak mereka, termasuk pernikahan sejenis.

Sejak Awal

Tidak hanya perkara LGBT, Islam dengan seperangkat aturan kehidupan yang sempurna sejak awal bertolak belakang dengan standar dan nilai Barat. Sehingga apapun yang dibawa Barat akan selalu mendapatkan resistensi dari kaum muslimin. Belum reda hawa panas pro kontra RUU P-KS yang digagas oleh feminis dalam upaya ‘halus’ penyusupan LGBT dan seks bebas non kekerasan (zina sukarela), kini dengan frontal menggagas ide ‘gay’ dipadukan dengan ‘muslim’.

Indikasi bahwa pengagas akun bukan dari Indonesia menjadi tidak relevan mengingat dalang dibaliknya sama, Barat dengan akidah sekulernya. Ditopang 4 kebebasan, yakni kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan dan berperilaku, penyebaran LGBT di seluruh dunia menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan. Islam sejak awal resisten sehingga wajar arah utama sepak terjang LGBT adalah menyerang hukum-hukum Islam dan pemeluknya.

13 Desember 2008, PBB secara resmi mengakui hak-hak LGBT dalam Declaration on Sexual Orientation and Gender Identity. Sebanyak 54 negeri mayoritas muslim menolak (termasuk Indonesia) dan 94 negara mayoritas non muslim menerima. Resistensi umat Islam juga nampak pada fatwa Ulama al Azhar  tahun 2013 melalui lembaga riset (Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah) yang mengharamkan menikah sesama jenis dan mengakibatkan pelakunya keluar dari Islam (murtad).

Turki juga menyusul dengan kampanye Young Islamic Defence sebagai bentuk penolakan atas parade gay di Turki tahun 2015. Indonesia sendiri, dalam Musyawarah Nasional (Munas) IX Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhir Agustus 2015 menegaskan sikap terkait LGBT, “MUI memandang bahwa LGBT merusak keberlangsungan masa depan bangsa. Mencegah semua upaya yang menumbuh-suburkan propaganda LGBT baik melalui pendekatan hukum maupun sosial keagaaman.”

Di tengah resistensi kaum muslimin di seluruh dunia, tak menyurutkan ambisi Barat dalam kanal LGBT. Setelah berhasil membidani legalisasi pernikahan sejenis di 24 negara (mayoritas non muslim), rambahan ambisi beralih ke negeri-negeri mayoritas muslim. Dapat kita lihat dari peta gerakan LGBT di Indonesia. Pada tanggal 6-9 November 2006, terdapat pertemuan 29 ahli HAM di UGM yang menghasilkan The Yogyakarta Principle. Dokumen ini berisi penerapan HAM internasional yang berkaitan dengan Orientasi Seksual dan Indentitas Gender disertai rekomendasi kepada Pemerintah, Lembaga antar Pemerintah Daerah, masyarakat sipil dan PBB itu sendiri.

Terbitnya majalah Out Zine oleh komunitas Arus Pelangi. “Dengan terbitnya Out Zine edisi transgender, diharapkan bisa memberikan wacana baru dan informasi yang bisa menguatkan kawan-kawan LGBT, khususnya para transgender muda.” demikian pengakuan redaktur Out Zine. Penelusuran lebih jauh, pada tahun 1982 telah ada Lamda Indonesia disusul Gaya Nusantara tahun 1987 yang membentuk forum LGBTIQ tahun 2008. Tercatat komunitas-komunitas LGBT menyelenggarakan Indonesian LGBT National Community Dialogue  di Nusa dua Bali pada 12-13 Juni 2013, didukung pendanaan dari USAID dan UNDP. Tak hanya itu, aktivasi International Day Against Homophobia and Transphobia (IDAHO) setiap 17 Mei juga gencar dilakukan. Goncangan gempa dan likuifaksi di Indonesia tak menyurutkan penyelenggaraan kontes Gay di Bali pada tahun yang sama.

Di ranah media, ambisi Barat terlihat jelas. Belum lama ini, salah satu televisi nasional memutuskan untuk menghapus video investigasi bertajuk “Fenomena Fujoshi di Indonesia” setelah mendapat serangan online dari para fujoshi (perempuan penyuka konten gay). Media-media Barat massif mengekspose agenda-agenda komunitas, termasuk adanya pesantren waria di Yogyakarta. Semua ini ditujukan untuk memproduksi opini seolah-olah masyarakat muslim bersedia menerima eksistensi kaum Luth modern.

Tidak Cukup Sekedar Resistensi

Sahabat Rasul yang mulia, Ustman bin Affan ra berkata, “Sesungguhnya Allah SWT memberikan wewenang pada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan oleh Al Qur’an.”

Sampai pada titik ini, naif jika kita memandang LGBT melenggang tanpa political driving. Sepak terjang mereka secara gamblang menunjukkan di abad 21 ini justru puncak kemenangan gerakan politis yang telah digagas sejak lama. Maka membiarkan ummat sekedar resisten dan sporadis dalam menanggapi virus LGBT tidaklah relevan.

Menjadi penting dan mendesak semua elemen ummat harus teredukasi sempurna dengan Islam. ulama, cendekiawan, aktivis mengerahkan seluruh energi, bukan hanya untuk meningkatkan resistensi terhadap ide-ide merusak namun juga mampu memukul balik sekaligus menyemaikan nilai-nilai kebenaran Islam di atas standar dan nilai Barat. Kesadaran ini harus dibangun hingga level kesadaran politis (al wa’y al siyasi).

***********

Penulis:
Dessy Fatmawati, S. T (Tim Komunitas Remaja Smart With Islam Semarang)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here