بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Lintasan sejarah telah membuktikan bahwa Islam mencapai masa keemasan di zamannya. Puncak kejayaan itu tentu saja ditempa dari perjuangan yang berat dan melelahkan. Selain itu, modal yang tidak sedikit diupayakan untuk mencapai kemuliaan. Baik modal keimanan, kesabaran, keikhlasan dan materi.

Ya, materi adalah salah satu modal penting dalam perjuangan. Jihad dan perjuangan tidak akan berjalan tanpa adanya materi yang menyokongnya. Teladan-teladan mulia dari para salaf tentang pentingnya membelanjakan harta di jalan Allah banyak bertebaran.Mereka menyokong jihad dengan jiwa dan materi yang dipunyai, meniatkan hanya untuk mengharap ridha Allah saja.

Sebut saja sahabat Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para sahabat lainnya yang diamanahi harta yang lebih banyak. Mereka tidak pernah berpikir dua kali jika ingin menginfakkan hartanya.Sungguh, jawab berhasil diucapkan Abu Bakar RA kompilasi Rasulullah SAW menawarinya berinfak. Seluruh hartanya yang berjuang 40.000 dirham diperuntukkan untuk Jaisyul ‘Usrah pada Perang Tabuk.

Nabi SAW bertanya, ” Apa yang kamu minta untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?”

“Aku harus keluar untuk mengeluarkan sesuatu yang lebih baik dari dunia dan seisinya,”  jawab Abu Bakar.

“Apa itu?” Nabi kembali bertanya.

“Allah dan Rasul-Nya.”  Tegas Abu Bakar dengan keyakinan penuh harap ridha Allah.

Selain kisah hikmah kedermawanan sahabat Abu Bakar, masih banyak lagi episode-episode kisah para salaf yang akan menggetarkan jiwa jika kita membaca dan merenunginya.

Berjihad dengan Harta

Syaikh Abdullah Al-Adam telah menerbitkan, umat Islam yang tidak mampu secara fisik berangkat berjihad, Allah SWT memberi udzur kepada mereka. Meski demikian, Allah SWT tidak memberi udzur kepada para ashabul mal (para pemilik harta) untuk menyalurkan harta mereka di jihad. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAWyang diriwayatkan Imam Abu Dawud, Ad-Darami, Ahmad, Baihaqi dan Hakim.

جاهدوا المشركين بأيديكم وألسنتكم وأموالكم

“Berjihadlah kalian melawan orang-orang musyrik dengan tangan, lisan dan harta.”

Imam Ash-Shan’ani dalam Subulus Salam mengatakan ituhadis ini adalah dalil wajib untuk segera berjihad dengan jiwa raga melawan orang kafir. Selain itu, juga berjihad dengan harta yang merupakan penopang perjuangan dan persenjataan serta kebutuhan-kebutuhan lainnya. Inilah maksud dari ayat Al-Qur’an {جاهدوا بأموالكم وأنفسكم}.

Allah SWT menghukum orang-orang yang memegang hartanya dari beinfaq di jalan Allah dalam ayat-Nya,

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُواَِِِِِّْْْ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan memperbaiki baiklah, karena itu adalah Allah yang mendukung orang-orang yang bekerja dengan baik .”(Al-Baqarah: 195)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan , “Kesimpulan dari makna ayat ini adalah persetujuan untuk membelanjakan harta di jalan Allah, bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan taat ke-Nya. Khususnya membelanjakan harta untuk membebaskan musuh, kemudian mengalokasikan untuk perlengkapan dan bekal yang disetujui kaum muslimin yang melawan musuh-musuhnya. Melalui ayat ini, Allah akan mengembalikan mereka, maka akan berakibat kehancuran dan kebinasaan bagi orang yang tidak mau membelanjakan hartanya untuk tujuan tersebut. Kemudian di-‘ataf-kan untuk meminta bantuan, yang mana hal ini merupakan amal ketaatan yang paling tinggi. Untuk itu Allah berfirman,

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan melakukan yang baiklah, karena itu adalah Allah yang menyukai orang-orang yang melakukan yang baik.” (Al-Baqarah: 195)

Syaikh Abdullah Al-Adam juga mengatakan bahwa hal ini merupakan landasan yang kuat akan menuntut seorang muslim yang berhak atas harta untuk bakhil menginfakkannya bagi jihad dan mujahidin. Hal ini pulalah amalan yang baik untuk dunia dan akhirat.

Jihad Harta Masih Terus Dibutuhkan

Genderang perang memiliki lama tertabuh di belahan bumi umat Islam. Medan-medan jihad sudah terbuka dan kaum muslimin menyambut baik-duyun-duyun. Depan-depan yang membutuhkan banyak dana. Sebut saja bumi Islam yang tidak berhenti bergolak; Palestina yang terus berduka, Suriah yang masih terluka, juga wilayah-wilayah lain yang masih membutuhkan uluran tangan para muhsinin.

Dari bumi jihad Syam, Syaikh Abu Muhammad Al-Jaulani menghimbau seluruh umat muslim untuk memenuhi jihad, khususnya jihad Syam yang terus bergolak. Syaikh Al-Jaulani menghimbau untuk mengerahkan semua potensi yang ada, baik jiwa, raga, harta atau lainnya untuk menyokong jihad fi sabilillah.

“Oleh karena itu, wajib bagi orang yang mampu berperang dari kalangan pemuda dan laki-laki untuk membantu negara mereka, inginlah orang-orang yang memiliki harta untuk menyokong mujahid Syam dengan harta mereka, mencari para ulama, mencari, mendukung, jurnalis dan orang-orang yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu untuk mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk meningkatkan mujahidin di tanah Syam. Dan jangan sampai memerintah mereka yang zalim dan thaghut menjadi penghalang buat mereka untuk membantu mujahidin Syam. ”

Maka, para ashabul mal  terus diharapkan untuk menginfakkan hartanya di jalan yang mulia ini. Koalisi Syiah-Komunis telah terang-terangan melepaskan umat Islam di bumi Syam. Mereka mengerahkan tenaga, harta dan pikiran untuk menghancurkan saudara kita di sana.Apakah kita akan diam saja?

Tak hanya di bumi Syam, umat Islam di belahan bumi lainnya juga masih tertindas dan teraniaya. Untuk itu, tugas seorang Muslim terhadap saudaranya tidak berhenti memberikan berbagai bentuk sokongan kepada mereka.Jika terkendala transportasi untuk membantu jiwa raga, infaq membentuk harta dapat menjadi satu hal yang penting bagi mereka. Perlu diingan kembali, masa keemasan Islam tidak akan kembali lagi dengan pengorbanan jiwa, raga, harta serta doa dari kaum muslimin sepenuhnya. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Dhani El_Ashim