بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

A. Timbulnya Bid’ah dalam Kehidupan Kaum Muslimin

Dalam hal ini ada dua permasalahan:

Pertama, waktu timbulnya Bid’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah berkata, “Ketahuilah bahwa semua bid’ah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan ibadah, terjadi pada umat Islam ini masa akhir-akhir kepemimpinan Khulafa’ur Rasyidin, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ

“Barangsiapa di antara kalian yang hidup (lama), maka dia akan melihat banyak perselisihan, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidin yang mendapatkan hidayah.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi).

Dan para sahabat telah menolak dan menentang para pelaku bid’ah ini.
Kedua, Tempat Timbulnya Bid’ah.

Ada perbedaan di antara negeri-negeri Islam sehubungan sebagai tempat timbulnya berbagai bid’ah. Negeri-negeri besar yang dihuni oleh para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan memancar darinya (cahaya) ilmu dan iman, ada lima negeri: Mekkah, Madinah, Kufah, Basrah dan Syam. Dari sanalah keluarnya al-Qur’an, hadits, fikih dan ibadah berikut masalah-masalah keislaman lainnya. Dan keluar pula dari negeri-negeri tersebut -terkecuali Madinah- berbagai bid’ah dalam masalah ushul (dasar agama). Dan timbulnya bid’ah itu dipengaruhi oleh jauh atau dekatnya sebuah daerah dari madinah.
Kota Madinah sendiri selamat dari timbulnya berbagai macam bid’ah ini, dan bila ada seseorang yang mengerjakan (bid’ah), maka sesungguhnya -di mata penduduk Madinah- mereka terhina dan tercela.

Adapun pada tiga generasi terbaik pertama, pada masa itu, di Madinah tidak terdapat sama sekali bid’ah yang terang-terangan. Dan tidak ada pula bid’ah dalam masalah ushuluddin (dasar agama) sama sekali yang terdapat di negeri-negeri lainnya.

B. Penyebab Timbulnya Bid’ah

Tidak diragukan lagi bahwa dengan berpegang teguh kepada kitab dan sunnah seseorang dapat selamat, tidak jatuh pada perbuatan bid’ah dan kesesatan.
Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,
Artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-jalanNya.” (Al- An’am: 153).

Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memperjelas hal tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’udz, dia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat garis untuk kita, lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat banyak garis disebelah kanan dan sebelah kirinya, lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ini adalah jalan-jalan (lain) dan pada setiap jalan tersebut ada setan yang mengajak orang-orang kepadanya.” Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, Artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa” (Al-An’am: 153).

Maka barangsiapa berpaling dari Kitab dan Sunnah, niscaya dia akan tertarik oleh berbagai jalan yang menyesatkan dan bid-‘ah-bid’ah yang diadakan-adakan.
Penyebab yang mendorong timbulnya bid’ah dapat disimpulkan sebagai berikut: “Ketidaktahuan terhadap hukum agama, mengikuti hawa nafsu, fanatisme terhadap pendapat dan tokoh tertentu meniru-niru orang kafir.” Selanjutnya kita akan membahas penyebab-penyebab tersebut walaupun tidak terlalu rinci.

1. Ketidaktahuan Terhadap Hukum Agama
Setiap kali bertambah panjang perjalanan masa dan bertambah jauh manusia dari ajaran-ajaran risalah Islam. Maka akan bertambah sedikitlah ilmu dan tambah meluaslah kebodohan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu itu dengan langsung mencabutnya dari hamba-hambaNya, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama sehingga bila tidak tersisa seorang alim pun, maka manusia akan mengangkat peminpin yang bodoh, lalu mereka (para pemimpin) ditanya kemudian mereka menjawab tanpa didasari ilmu pengetahuan, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari).

Dan tidak ada yang memberantas bid’ah kecuali ilmu dan ulama. Bila ilmu dan ulama sudah tidak ada, maka akan timbul dan merebaklah berbagai macam bid’ah dan bertambah giatlah para pelakunya.

2. Mengikuti Hawa Nafsu
Barangsiapa berpaling dari Kitab dan Sunnah berarti ia telah mengikuti hawa nafsunya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, Artinya: “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah orang yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun” (Al-Qashash: 50).

Dalam ayat lain Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).” (Al-Jatsiyah: 23). Dan perbuatan-perbuatan bid’ah tidak lain hanyalah hasil yang diperturutkan.

3. Fanatisme Terhadap Pendapat dan Tokoh Tertentu.
Fanatisme ini dapat menghalangi seseorang dari mengikuti dalil dan mengetahui kebenaran. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, Artinya: “Dan apabila dikatakan pada mereka,’Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, Mereka menjawab, ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Al-Baqarah:170).

Dan begitulah sifat orang-orang yang fanatik pada zaman sekarang ini, dari sebagian pengikut aliran-aliran Sufi dan orang-orang Quburiyyin (tukang ziarah dan tawassul ke kuburan). Bila mereka diajak untuk mengikuti Kitab dan Sunnah dan meninggalkan apa yang mereka kerjakan yang bertentangan dengan keduanya (Kitab dan Sunnah) mereka mengeluarkan hujjah dengan madzhab-madzhab mereka dan dengan pendapat guru-guru, orang tua dan nenek moyang mereka.

4. Meniru-niru orang kafir
Hal yang satu ini termasuk yang paling dapat menjerumuskan seseorang dalam perbuatan bid’ah, sebagaimana disinyalir dalam hadits Abu Waqid al-Laitsy yang berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ke perang Hunain, (saat itu) kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam). Orang-orang musyrik (saat itu mempunyai pohon bidara yang mereka sering menetap lama di sisi pohon tersebut dan menggantungkan senjata-senjata mereka di situ. Pohon tersebut di kenal dengan nama Dzatul Anwath (tempat menggantungkan). Tatkala kami melewati sebuah pohon bidara, lalu kami berkata, ‘Ya Rasulullah, jadikanlah buat kami pohon itu sebagai Dzatul Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) mempunyai juga Dzatul Anwath. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Allahu Akbar, demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh kaum Bani Israil kepada Musa, Artinya: “Buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala).” Musa menjawab, “Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat tuhan).” (Al-A’raf: 138).

لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

‘Sungguh kalian akan mengikuti jalan kaum sebelum kalian.’ (HR. at-Tirmidzi).”

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa meniru-niru orang kafir adalah suatu hal yang mendorong kaum Bani Israil untuk meminta permintaan jelek mereka, yaitu menuntut Nabi Musa ’alaihissalam untuk membuatkan bagi mereka tuhan-tuhan berhala yang dapat mereka sembah. Dan ini pulalah yang mendorong sebagian sahabat meminta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menjadikan bagi mereka sebuah pohon yang dapat diminta berkahnya dari selain Allah Subhanahu waTa’ala. Dan ini pulalah yang yang terjadi sekarang ini. Di mana sebagian kaum muslimin senang meniru-niru kaum kuffar dalam praktek-praktek bid’ah dan kesyirikan.

***********

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Penulis: Syekh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan Rahimahullah
Sumber: Kitab Tauhid
Penerbit: Yayasan As Sofwa Jakarta

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here