بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Perang Badar adalah perang pertama yang langsung dipimpin Rasulullah SAW. Peperangan yang tidak seimbang itu mampu dimenangkan kaum Muslimin dengan gilang-gemilang. Seribu pasukan kafir Quraisy pasukan lengkap kocar-kacir dengan 313 pasukan mujahidin dengan senjata ala kadarnya.

Padahal di Awal peperangan, Abu Jahal sesumbar melecehkan kaum Mukminin, “ Mereka ITU Hanyalah sejumlah orangutan Yang Makan Seekor unta tangkaplah mereka, Dan ikatlah mereka DENGAN tali.” Kemudian tatkala doa Pasukan bertarung Dan mereka saling Menyerang Serta kaum Mukminin tangguh Bagaikan singa , maka mereka jadi besar dan besar di mata kaum musyrikinahkan firman Allah SWT:

يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْْ

“Mata kepala mereka melihat (seakan-akan) kaum Muslimin dua kali jumlah mereka.” (Ali Imran: 13)

Rasulullah sebagai sang panglima sadar bahwa saat ini jumlahnya memimpin Muslimin jauh dari kata sempurna.Dengan peralatan seadanya, para shahabat memenuhi panggilan Allah untuk berjihad. Melihat kehancuran pasukan yang seperti itu, Rasulullah tidak mengumbar ancaman dan lebih mendukung strategi untuk menantang kaum musyrikin Mekah. Tentu dengan pertolongan Allah tidak ada yang dibahas di dunia ini.

Allah SWT berfirman tentang masalah ini sebelum perang Badar:

وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولا

“Dan kamu ditampakkan sedikit di mata mereka, karena Allah melakukan pekerjaan yang harus dilakukan.” (A -Anfal: 44)

Seorang panglima akan berwibawa dan meminta sambutannya kalau dia tidak meminta izin, ia benar-benar memiliki apa yang ia terima, agar ancaman itu tidak seperti busa-busa sabun yang tak berarti.

Dan di antara berhasil dan beruntung seorang panglima adalah dia tidak membebankan biaya untuk sesuatu yang lebih besar Jika ia serius dan jujur ​​dalam operasinya, ia akan mempertahankan kekuatan yang ia miliki agar nampak tidak memiliki apa-apa sehingga musuhnya menyepelekan, menganggap kecil dan tidak melakukan persiapan yang layak untuk menghadapinya.

Setelah dinyatakan sebagai balasan, “ Siapa yang dianggap kecil oleh musuhnya maka musuh terperdaya oleh dia. Sang musuh tidak akan selamat darinya jika ia menyergap musuh maka ia menyergap bagaikan binatang buas. ”

Rasulullah adalah sebaik-baik panglima perang. Dia tahu saat-saat yang tepat kapan saja dan meminta kemampuan pasukannya. Saat perang Badar adalah bukan saat yang tepat untuk mengumbar kekuatan karena kemampuan yang masih terbatas. Namun, kompilasi umrah qadha tahun tujuh hijriyah — umrah yang telah disetujui kaum Quraisy sebelum sebelumnya — Rasulullah SAW mengirimkan para shahabat berbaris rapi dan menampakkan kekuatannya (unjuk kekuatan) .

Hal ini sengaja dilakukan karena memang saat ini umat Islam telah memiliki kekuatan dan pada akhirnya mereka kembali ke Mekah untuk meminjamnya (Fathul Makkah).

Orang yang berakal adalah orang yang bersembunyi di dalam kelemahannya. Ia mencermati minimnya personel dan perlengkapannya sendiri serta menentukan kelemahan musuhnya tanpa menarik perhatian mereka. Ia membuat tipu muslihat bagi musuh mereka agar ia aman dari pembalasan mereka. Ia juga menghindari tipu daya musuh juga menunggu kelengahannya tanpa banyak mengumbar tantangan.

Sesungguhnya sesumbar dan ancaman sebelum pelaksanaan akan mengingatkan musuh agar siap diri. Orang yang melakukan itu bagaikan pemburu yang membawa hewan buruan sebelum ia memanah.

Sesiapa berlebihan dalam tantangan maka musuh akan menyepelekan dirinya. Ancaman itu bukan melukai jiwa dan tidak melumpuhkan musuh, memperbanyak musuh akan menggugurkan rasa takut musuh dan menghilangkan kepercayaannya. Barangsiapa yang cerdik maka janganlah ia meminta kecerdikannya kepada musuh, karena orang yang dikenal cerdik maka musuh pasti mewaspadai dirinya.

Peperangan orang-orang yang tertindas tidak pernah bersandar pada jumlah orang dan persenjataan, tetapi selalu memanfaatkan kelemahan, kelengahan dan kelalaian musuhnya, kemudian melancarkan pukulan telak di saat yang diaktifkan.

Namun sebagian besar orang tidak memahami prinsip ini, mereka malah lebih suka menakut-nakuti musuh seperti ayam betina menggelembungkan bulunya agar nampak lebih besar dari yang sebenarnya. Hal itu membuat musuh tidak perlu cukup dan rumit. Ia meminta bantuan kepada wali-walinya di seluruh bumi dan membuat serangan mujahidin sebagai teror yang mendunia.

Seorang yang berakal tentu tidak senang melihat reaksi musuh yang berlebihan. Namun, karena bodoh, dia senang dengan alasan-alasan yang digunakan musuh untuk memojokkannya. Sementara dengan dungu ia membantu musuh mengobral kebohongan ke dunia internasional tentang meminta terornya sehingga mereka saling bahu-membahu untuk menumpasnya. Ia lupa terhadap kemampuannya sendiri dan membenarkanpukulan lawan terhadap dirinya, kemudian bertingkah sebagai kemampuannya memang seperti yang disifati oleh musuh dan mengumbar kecerdasan. Seolah ia adalah Al Qa’qa ‘Ibnu’ Amr atau Qutaibah Ibnu Muslim yang ujung pasukannya ada di Baghdad sedangkan ujung satunya menggedor Tembok Cina. Ia bertingkah seolah-olah mengatur dunia ada di disetujui, sehingga mereka ini seperti diangkat sebagai penyair:

Sungguh burung Zur-Zur tatkala besarIa menyangka bahwa ia telah menjadi elang

Dan buihpun tersingkap, melontarkan gelembung seperti air sabun yang ditiup anak kecil. Gelembung busa itu membesar dan membesar kemudian terbang tinggi dan tiba-tiba setelah itu ia lenyap begitu saja. Andakata dia bisa menerima jihad dan dakwahnya tentu saja dia tidak akan banyak bicara. Ia akan memanggil sembunyi-sembunyi dalam melaksanakan kegiatannya.

Seorang panglima akan berwibawa dan meminta sambutannya kalau dia tidak meminta izin, ia benar-benar memiliki apa yang ia terima, agar ancaman itu tidak seperti busa-busa sabun yang tak berarti.

Ya Allah jadikan kami orang yang paham akan dien kami ini dan cermat akan realita kami, dan bungkamlah musuh-musuh kami. “

Disadur dari buku “Mereka Mujahid Tapi Salah Langkah” karya Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi.

Penulis: Dhani El_Ashim