بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Dakwah ini sangat agung dan jihad ini sangat mahal. Tidak mendapatkan taufiq untuk memikulnya kecuali orang yang mengambil dua tugas ini dengan haknya, memahami hakikat dan beban-beban serta menguasai ilmu syari’at dan realitanya.

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَنَ ْ ْ ْ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengundang (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku termasuk orang-orang yang musyrik” . (Yusuf: 108)

Jalan dakwah dan jihad bertabur bunga-bunga dan wewangian, atau diselesaikan istirahat dan santai-santai.Namun, jalan ini mencoba memecahkan hal-hal yang tidak menyenangkan, kepedihan dan cobaan; ditaburi darah, penjara dan penahanan. Menempuh jalan ini berarti harus siap meninggalkan orang-orang yang dicintai dan ditinggalkannyawa. Tidak akan mampu memikul beban jalan ini kecuali para singa dan rajawali, bukan burung pipit atau burung kutilang.

Akan tetapi sebagian besar orang tidak dihitung hal itu.Golongan ini tidak mengerti tipu daya, kedengkian dan makar musuh-musuh agama melawan dakwah, jihad dan para pemeluknya. Bisa saja dia mengusir dakwah ini tanpa memiliki kemampuan yang layak. Kemudian orang ini mengira itu dakwah ini adalah hobi dan permainan yang ditawarkan ia berekreasi dan menghibur diri. Dia menceburkan diri dalam urusan ini tanpa memiliki bashirah (pengetahuan jelas) akan rukun-rukun, hakikat dan beban tanggung jawabnya. Lebih parah lagi, dia juga tidak bisa melawan dan menantang musuh-musuhnya.

Pertarungan licik lawan dalam memberangus dakwah menantang beragam. Berhadapan dakwah dan jihad yang digunakan musuh-musuh Islam untuk meraih kemenangan. Karena bagi mereka hidup untuk hidup di dunia saja. Jadi, hanya dunia yang mereka sembunyikan tanpa terbesit sedikitpun akan ada seumur hidup setelah kematian.

Syaikh Al-Maqdisi menuturkan pengalamannya di kompilasi di penjara bagaimana melawan musuh-musuh Islam menggunakan dakwah dan jihad untuk keuntungan mereka, “Banyak saya saksikan di penjara, lapor dalam kasus-kasus yang dibesar-besarkan oleh musuh-musuh Allah.Mereka menampakkannya sebagai masalah terorisme yang berbahaya, padahal gagal terseretya adalah para remaja yang tidak membahayakan para Thaghut atau tuan-tuan mereka bangsa Amerika. Sebenarnya musuh mengerti hal itu, akan tetapi dia membesar-besarkannya agar bisa naik pangkat dan naik uang berhasil menggagalkan rencana makar keji yang dituduhkan kepada para pemuda itu. Meskipun sebagian besar adalah kebohongan dan cerita khayalan yang dibuat-buat. 

Pengalaman ulama Yordania ini mengharuskan kita mengingat dan mewaspadaan. Dakwah dan jihad adalah jalan yang berat, penuh percobaan dan tantangan. Selain kita harus membekali diri sendiri dengan ilmu syar’i tentu saja memenangkan tantangan musuh adalah hal yang tidak boleh ditolak.

Namun, sangat disayangkan sebagian orang yang Allah berikan nikmat, akan tetapi mereka belajar dan membina diri agar memiliki ilmu syar’i dan kesiapan mental untuk memikul beban dakwah yang berat ini. Mereka tidak tahu tentang para musuh dan makar terhadap para du’at dan mujahidin. Pendorong mereka hanya semangat kosong.Mereka juga tidak mau sedikit susah untuk duduk di halaqah ilmu atau mengkaji kitab-kitabnya karena prioritas mereka lebih suka ilmu syar’i atau realita kaum Muslimin.Mereka bahkan tidak mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang sebelumnya yang mengambil jalan ini bisa mengulangi kesalahan yang sama.

Oleh karena itu, sikap tegas mewajibkan pembawa dakwah dalam menyikapi jenis orang-orang seperti ini.Bila penyeru dakwah dan jihad ini tidak terbukti terhadapnya, maka mereka akan mencoreng dakwah dan jihad dengan kasus-kasus yang aneh. Musuh akan membuat daftar berisi hal-hal yang diminta kaum muslimin dan menyenangkan musuh-musuh dakwah.Masyarakat awam yang akan menilai jihad dianalogikan dengan hal-hal yang negatif. Hal itu terjadi karena masyarakat hanya melihat sesuatu yang terlihat saja.Justru hal ini membuat mereka antipati dengan jihad dan mujahidin.

Kebodohan terhadap syari’at membuat terjerumus dalam perbuatan-perbuatan kotor dan nista. Sementara kebodohan akan membuat mereka kadang-kadang serabutan dalam memilih sasaran. Mengarahkan, mereka menjadi bahan tertawaan manusia sementara dakwah dan jihad menjadi sasaran hujatan para musuh Allah. Aksi mereka yang bertentangan membuat kaum muslimin semakin ditindas tanpa sedikit pun menentang musuh-musuh Allah.

Lemahnya pembinaan iman sebelum ujian menimpa membuat mereka menjadi lemah dan rapuh saat terjatuh di tangan musuh. Sebagian menghiba, menampakkan penyesalan sekaligus meminta kepada penguasa.Sebagian lagi melaknat dan mencela ikhwannya dan berlepas dari mereka. Maka jihad macam apa ini? Para pelakunya belum siap memikul beban-bebannya sehingga akhirnya mereka menjadi mainan di tangan musuh.Sementara di antara mereka ada yang terpuruk dan berbelok dari jalan ini, ada yang digunakan oleh musuh untuk memata-matai ikhwannya sendiri, hanya sedikit yang mengambil pelajaran dalam kondisi tidak berubah.

Maka, buatlah tugas kita untuk memantaskan diri agar mampu mengemban misi mulia ini. Tugas kita bersama untuk memantaskan kaum muslimin yang lain agar mereka benar-benar “melek” dengan kondisi dan apa yang dibutuhkan umat Islam saat ini. Bukan hanya bermodal semangat, tetapi harus dengan landasan ilmu yang ada.Sekali lagi, marilah membekali dirimu dengan bekal yang terbaik, agar dakwah dan jihad memang layak untuk dipikulkan pada pundak-pundak kita. Wallahu a’lam bi showab

Penulis: Dhani El Ashim

Diinisiasi dari buku “Mereka Mujahid tapi Salah Langkah” karya Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi