بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Di antara sejumlah hal yang melulu diperdebatkan pada hari-hari seperti ini – ‘tahun politik’ istilah kebanyakan orang – adalah pertanyaan: mana yang lebih penting, memilih pemimpin yang baik atau membangun umat yang bertauhid? Perdebatan ini dapat dengan mudah di jumpai, utamanya di media sosial, berkepanjangan dan repetitif. Lantas mana yang benar?

Kedua hal tersebut adalah kewajiban, walaupun ada perbedaan derajat antara keduanya. Akan tetapi, memilih pemimpin yang baik hanya dilakukan pada momen tertentu sedangkan mengedukasi orang-orang tentang tauhid adalah tugas seumur hidup seluruh dai.

Oleh karena itu, di satu sisi, memang telah keliru seorang dai yang seruannya hanya tentang politik. Namun di sisi lain, tidak patut pula jika sebagian yang lain menggembosi dengan ungkapan, “Tak ada gunanya ada pemimpin ideal kalau masyarakat masih belum bertauhid,” atau “Selamanya pemimpin yang baik tidak akan lahir dari masyarakat yang buruk,” atau semisalnya. Kedua penyataan tersebut keliru. Kepemimpinan memang bukan segala-galanya, tapi bukan juga tak berpengaruh apa-apa. Dan, apabila masyarakat didominasi keburukan, bukan berarti tidak ada segelintir orang pun yang mampu memimpin dengan lebih baik.

Pahamilah bahwa para aktifis yang memperjuangkan sosok tertentu yang direkomendasikan pada musyawarah tidak pernah lupa tugas dasar mereka untuk menerangi manusia dengan ilmu syari. Mereka juga tidak menganggap bahwa sosok yang diperjuangkan tersebut menggaransikan keidealan dalam kepemimpinan. Mereka hanya _saddidu wa qaribu_ (mengusahakan yang terbaik atau yang paling mendekati).

Di samping itu, mereka paham bahwa urusan memilih ini hanya _ayyaman ma’dudat_ (dalam waktu singkat), berhasil atau tidak, mereka akan tetap dan terus menggelar taklim, tabligh akbar, kajian ilmiah, halaqah tarbawiyah, dan dakwah fardiyah untuk menanamkan dan menegakkan tauhid ilmu din di dalam diri seluruh manusia.

Sekali lagi, memilih pemimpin memang bukan segala-galanya, namun juga bukan tidak berarti apa-apa, tentu saja akan memberi pengaruh sedikit banyaknya pada kualitas pembinaan umat itu sendiri. Maka tugas mujahid untuk menempuh semua jalan yang sahih untuk kemaslahatan terbesar yang memungkinkan untuk diraih. Allahu waliyyuttaufiq

Penulis: Arfan Arifuddin (Pengurus Pimpinan Pusat LIDMI)