بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Telah menjadi rahasia umum, bahwa tidak setiap pemberani di dunia ini adalah seorang alim dan faqih dalam Dien. Adakalanya para pemberani juga berasal dari orang jahil atau seorang yang fajir. Pertanyaannya, apakah setiap alim dari para ulama syar’i adalah seorang pemberani?

Adalah sebuah kelaziman, seorang ulama haruslah hanya takut kepada Allah semata. Ia bertindak sebagai pengawal kebenaran dan tidak pernah takut dengan cercaan atau hinaan. Juga, memiliki jiwa yang kuat, hati yang tsabat, tidak takut dan gentar terhadap musuh dan gangguannya.

Dengan kata lain, apakah mungkin ada seorang ulama yang pengecut sekaligus penakut, mempunyai jiwa yang lemah dan takut cercaan, serta mundur teratur jika dakwahnya mendapat tantangan?

Hal itu dapat terjawab dari penuturan Syaikh Athiyatullah Al-Libi rahimahullah berikut ini.  Di sebuah negara muslim, beliau pernah bertemu seorang alim yang sempurna ilmunya dan menjadi mufti di negaranya. Sang alim juga hafal beribu-ribu matan dan hadits, faqih dalam ilmu syar’i, dan fasih dalam berbahasa hingga dielu-elukan penduduk sekitarnya.

Suatu ketika beliau menemuinya dan mulai bercerita tentang dunia jihad. Mendengar cerita Syaikh, wajah sang alim pucat pasi dan ketakutan. Terbayang dalam benaknya kengerian jihad di medan tempur. Sampai-sampai, ia meminta kepada Syaikh untuk memilihkan jalan selain jihad. Dia mengaku bahwa dirinya merasa lemah dan takut.

Kisah di atas menjadi bukti, bahwa tidak setiap orang yang berilmu dan berpengetahuan luas tersimpan dalam dirinya keberanian. Sebaliknya, tidak semua orang-orang yang pemberani mempunyai ilmu syar’i yang mumpuni.

Padahal jika mengikuti teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, merekalah orang-orang berilmu sekaligus para pemberani. Ilmu tidak menjadikannya penghalang untuk meraih keberanian. Justru, ilmulah yang menjadikan mereka pemberani dalam membela Dienul Islam.

Makna Ilmu Sebenarnya

Dalam penuturan Syaikh Athiyatullah di atas, sebenarnya beliau ingin mengembalikan makna ilmu yang sebenarnya. Makna ilmu menurut para salaf adalah “Al-Khasyah” (Rasa Takut. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah di kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (Faathir: 28)

Imam Malik berkata, “Ilmu itu bukanlah banyaknya meriwayatkan, dia adalah cahaya yang diberikan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya….”

Jadi, orang yang berilmu adalah orang yang terkumpul di dalam dirinya ilmu batin dan ilmu dhahir. Yaitu pemahaman dan penjagaan yang baik, disertai dengan dzikir dan rasa khasyah (takut) kepada Allah ta’ala.

Jika yang disebut orang berilmu adalah seperti definisi di atas, maka tidak akan pernah ditemukan seorang alim yang penakut dan pengecut. Karena jika definisi ilmu hanyalah apa yang terucap di lisan, maka rasa khasyah tidak akan tumbuh di dalam hati.

Meskipun telah berusaha keras mengajarkan ilmu kepada manusia, mendiskusikannya, menulisnya bahkan menyebarkannya untuk orang banyak, hal itu tetaplah menjadikannya sebagai seorang penakut jika ilmu tidak masuk ke dalam hati dan hanya dijadikan pemoles lisan semata.

Maka dari itu, seorang alim –termasuk setiap muslim—adalah orang yang terkumpul di dalam dirinya rasa iman, khasyah dan mahabbah (rasa cinta) kepada Allah, Rasul-Nya, Islam, amal shalih dan hari kiamat.

Seorang  yang sempurna keimanan, tauhid dan ilmunya, maka kuatlah jiwanya dan terbit keberaniannya. Sedangkan seseorang yang lemah iman, tauhid dan ilmunya, maka lemahlah jiwanya dan takut kepada sesama makhluk.

Teladan yang agung telah diperagakan oleh Bapak Para Nabi yang bergelar Khalilullah, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Teladan mulia itu termaktub dalam firman Allah ta’ala,

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ عَلَيْكُمْ سُلْطَٰنًا  فَأَىُّ ٱلْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِٱلْأَمْنِ  إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?”  (Al-An’am: 81)

Penulis: Dhani El Ashim