بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Terkadang kita terlalu ketat memaknai kemenangan. Kemenangan hanya bertarung berjaya di medan pertempuran. Padahal Islam memiliki resolusi yang sangat luas dan jelas. Contohnya adalah dalam memaknai puasa. Secara umum, puasa dimaknai dengan memegang sesuatu. Tapi Islam memberikan resolusi yang jelas tentang puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa; baik makan, minum atau yang lainnya dari Fajar sampai datangnya Maghrib.

Lebih dari kaum Muslimin mengira bahwa kemenangan itu bisa diraih hanya dengan kemenangan fisik. Padahal, faktanya tidak selalu mujahidin mendapat kemenangan di medan pertempuran. Allah SWT berfirman,

إن يمسسكم قرح فقد مس القوم قرح مثله وتلك الأيام نداولها بين الناس وليعلم الله الذين آمنوا ويتخذ منكم شهداء والله لا يحب الظالمين

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sungguh kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang mirip. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan mengambil Allah menentukan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan mengambil sebagian kamu dibuat-Nya (jatuh sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim. ” (Ali Imran: 140)

Allah SWT telah menjelaskan bahwa Dia berhentinya memberikan kemenangan dan kekalahan. Namun, jika kita membahas tentang cakrawala berfikir, amalan puncak dalam Islam ini tidak pernah mengatasi kekalahan dan selalu menuai kemenangan, meskipun tidak selalunya merupakan kemenangan fisik. Jika demikian, apa makna kemenangan dalam Islam?

Pertama: Memenangkan Diri Sendiri atas Delapan Penghalang

Salah satu kemenangan terbesar adalah kompilasi seorang muslim yang mampu mengalahkan diri sendiri dari para penghalang. Delapan penghalang itu adalah yang tertera dalam surat At-Taubah ayat 24.

قل إن كان آباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدي القوم الفاسقين

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu inginkan, gunakanlah kamu cintai Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. ”Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah: 24)

Amalan jihad adalah amalan yang berat. Bukan hanya berat kompilasi yang telah tiba di gelanggang, dilepaskan saat berangkat pun banyak godaan. Kemenangan pertama yang diperoleh seorang Muslim adalah kompilasi yang mampu mengedepankan Allah dan Rasul-Nya dari penghalang tadi.

Bukanlah suatu hal yang mudah ditinggalkan istri dan anak di rumah. Selain meninggalkan kedua orang tua yang sedari kecil menyertai, begitu pula harta yang telah kita kumpulkan untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Sekali lagi itu menyenangkan hal yang mudah.

Kompilasi iman dan kecintaan pada Allah SWT telah tertancap di dada, semua hal itu merupakan sarana untuk mencapai keridhaan-Nya. Jika meninggalkan kedelapan penghalang untuk menggapai cinta-Nya, niscaya Allah SWT akan mengembalikannya dengan sesuatu yang lebih baik di akhirat nanti.

Kedua: Mengalahkan Setan

Jika seorang muslim telah memantapkan dirinya untuk keluar rumah dan berjihad fi sabilillah , maka ia telah berhasil mengalahkan godaan setan. Dalam hadits Rasulullah dari shahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan, Imam Ahmad mengatakan bahwa setan selalu menghembuskan keraguan pada hati manusia.

Salah satunya dalam masalah jihad fi sabilillah, setan tidak akan henti-hentinya mengubah manusia agar ragu dengan apa yang akan dia kerjakan. Dengan keraguan itu, akan membuat seorang muslim mengurungkan niatnya untuk melangkah di jalan Allah. Maka, susah beruntung jika kita sanggup melawan godaan ini. Tentunya, ini adalah bentuk kemenangan tersendiri.

Ketiga: Senantiasa Terbimbing untuk Jalan yang Benar

Allah SWT berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bergabung dengan orang-orang yang melakukannya dengan baik. ” (Al-Ankabut: 69)

Bagaimana suatu bentuk kemenangan jika diri kita dibimbing dan terlindungi? Apakah setiap dari kita membutuhkan petunjuk dan bimbingan? Maka dari itu, Allah SWT meminta orang-orang yang berjihad atas keridhaan-Nya, akan senantiasa mendapat bimbingan dan petunjuk dari-Nya. Apakah ada petunjuk yang terbaik selain dari Allah SWT?

Jika umat Islam saat ini telah tersadar kembali akan berjuang jihad dan berjuang di jalan Allah atas keridhaan-Nya, maka – subhanallah-  umat ini akan selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT dan siap mendapat gelar khairu ummah.

Keempat: Kemenangan Melawan Orang Munafik

Jika kita ingin melangkahkan kaki ke medan juang, pasti ada suara-suara sumbang yang ingin menggembosi.Suara-suara keluar dari orang-orang yang keluar seperti kita dan menuntut mendapat mujahid. Akan tetapi suara yang ia dendangkan berisi cemoohan dan penggembosan bagi para mujahid. Allah SWT berfirman:

لو خرجوا فيكم ما زادوكم إلا خبالا ولأوضعوا خلالكم يبغونكم الفتنة وفيكم سماعون لهم والله عليم بالظالمين

“Jika mereka pergi bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu saja mereka akan hancur-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk digunakan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. ” (At-Taubah: 47)

Orang-orang yang disebut dalam ayat ini juga berwujud sebagai seorang ulama. Yaitu kompilasi mengatakan saat ini belum selesai untuk berjihad. Padahal, perkataannya banyak didengarkan oleh kaum Muslimin. Maka dari itu, Allah SWT berfirman dalam ayatnya,

وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ

“Sedang di antara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan perkataan mereka.” (At-Taubah: 47)

Memang sulit. Jika kita mampu berjuang dengan keteguhan hati untuk berjuang di jalan Allah, maka itu adalah salah satu kemenangan.

Kelima: Ketegaran di Jalan Jihad

Ketika seorang mujahid mampu bertahan dan tegar di jalan jihad, maka itu adalah capaian kemenangan. Medan jihad menempuh berbagai macam godaan dan cobaan.Hanya orang-orang yang dirahmati Allah SWT saja yang mampu bertahan.

Zaman ini berbeda dengan zaman Rasulullah SAW. Dulu, kompilasi seorang mujahid yang kembali dari medan perang, maka ia akan dielu-elukan sebagai pahlawan Islam, kisahnya di medan perang akan diambil teladan, dan keluarga menanti di rumah dengan kebahagiaan.

Zaman ini semua bertolak belakang. Para mujahid yang berjuang sebagai orang terkuat dan media sekuler.Hingga, tidak sedikit kaum Muslimin yang terhasut dari berita bualan itu. Jadi, kompilasi mujahid kembali dari medan juang, maka dia akan dijauhi, dicemooh sebagai fasilitator dan mungkin akan ditangkap dan disiksa.

Begitu beratnya menjadi mujahid. Jadi, kompilasi pejuang mampu bertahan di medan juang dan tegar dengan segala rintangannya, maka itu salah satu bentuk kemenangan.Bagi kali ini menjadi ujian khusus bagi para mujahid masa kini. Jika ia benar-benar memiliki niat yang ikhlas dan lurus, niscaya mengalahkan apa pun cobaannya, atas izin Allah SWT pasti akan mampu dilewati.

Penulis: Dhani El Ashim