بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Jihad adalah perjalanan panjang. Tak dipungkiri kemenangan dan kejayaan harus ditebus dengan optimalisasi potensi diri. Jalan yang terjal nan penuh ujian akan diambil setiap mujahid yang melangkah di jalan mulia ini. Tentunya, diperlukan kesabaran dan ketabahan tambahan agar teguh dalam perhelatan di medan juang.

Syaikh Abdullah Azzam dalam “ Tarbiyah Jihadiyah ” meminta beberapa langkah agar tetap teguh dalam perjalanan jihad. Dia yang mengatakan bahwa jihad itu memang sulit, sedangkan jalannya panjang dan berat. Akan tetapi, setiap mujahid tentu harus siap siaga dalam menjalaninya. Menurut beliau ada empat langkah yang harus dicanangkan, yaitu

Pertama , risalah jihad itu selalu menyertai kehidupan. Kewajiban jihad tidak akan berakhir sampai ruh berpisah dengan badan. Jika kita ragu, maka “Di mana para sahabat Nabi SAW meninggal dunia? Di mana mereka dikuburkan? Di mana mereka? “

Kota Madinah yang menjadi tempat turunnya wahyu dan tempat tinggal para pembela Nabi tidak memendam di dalam tanahnya selain dua jasad para sahabat. Lalu di mana gerangan jasad para sahabat yang lain? Di mana jasad 114.000 sahabat yang melakukan ibadah haji bersama Nabi SAW saat Haji Wada ‘? Mereka tersebar di muka bumi. Kubur mereka memberikan bukti kepada kita hingga hari kiamat risalah jihad akan terus berlanjut sampai datangnya Dajjal. Sampai Allah mewarisi bumi dan semua makhluk yang menghuninya.

Jalan jihad adalah jalan para pendahulu kita. Mereka lebih menyukai kehidupan di akhirat, merindukan harumnya jannah dari hidup di dunia yang fana. Sudah tentu kita sebagai penerusnya mengambil jalan para salaf ini.Tidak gentar dengan apa pun yang melintang sepanjang perjalanan.

 

Sesungguhnya kita berjihad demi mempertahankan kehormatan muslimin, juga memenangkan dan melindungi golongan mustadh’afin. Allah SWT berfirman,

وما لكم لا تقاتلون في سبيل الله والمستضعفين من الرجال والنساء والولدان الذين يقولون ربنا أخرجنا من هذه القرية الظالم أهلها واجعل لنا من لدنك وليا واجعل لنا من لدنك نصيرا

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (menentang) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a:“ Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri (Mekah) yang zalim penduduknya ini dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau ”. (An Nisa ‘: 75)

Jangan sampai kita termasuk dalam orang-orang yang enggan melindungi mereka, para golongan lemah dari kaum lelaki tua renta, wanita dan anak-anak. Karena mereka tidak memiliki pilihan lain selain meminta pelindung dan penolong dari Allah Ta’ala setelah penduduk bumi mencuci tangan dari pertunangan menolongnya.

Semut akan melaknat mereka yang enggan berjihad. Ikan di laut hanya memintakan ampunan bagi mereka yang mau berjihad saja. Penyebab merekalah yang meminta kebajikan kepada manusia serta melindungi kebajikan dengan pedang, ruh dan darah mereka.

Serangga-serangga di liangnya akan mengadu kepada Allah akan kezhaliman mereka yang duduk-duduk di rumah dan enggan berjihad. Sebaliknya langit berhenti turun hujan, tumbuh-tumbuhan di bumi berkurang, kekeringan tambah meluas dan disimpanpun melanda karena keengganan mereka untuk berjihad.

Demikianlah Keterangan menurut dua ahli tafsir murid dari shahabat Ibnu Abbas, Mujahid dan Qatadah. Seharusnya Rasulullah SAW bersabda tentang ayat di bawah ini,

إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات والهدى من بعد ما بيناه للناس في الكتاب أولئك يلعنهم الله ويلعنهم اللاعنون

“Sesungguhnya orang-orang yang memecahkan apa yang telah Kami turunkan terdiri dari keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (temuan ) yang dapat mela’nat ”. (Al Baqarah: 159)

 

Dia MELIHAT DIRI sendiri oleh Ibnu Majah,

يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ. قَالَ دَوَابُّ الأَرْضِ.

“Mereka dilaknat oleh Allah, dan dilaknat (pula) oleh semua (kerajinan) yang bisa melaknat). Al Laa’inuun adalah binatang melata di bumi ”. (SDM. Ibnu Majah)

Jihad merupakan perkara yang sangat penting. Ketahuilah, kita adalah pelopor para kaum dan perintis perjuangan negeri. Kita laksana detonatoryang akan meledakkan bahan peledak di negeri kita. Bom yang tidak aktif membutuhkan detonator, dan kitalah detonator-detonator itu, dengan izin Allah.Beribu-ribu ton bahan peledak tanpa ada detonator yang kecil, tidak akan berarti apa pun.

Tidak berguna, tetapi sekecil sayap nyamuk untuk mengubah sesuatu.Kekuatan yang dahsyat ini tidak dapat digunakan, saat detonator yang kecil itu tidak ada. Karena itu, jangan biarkan jemu. Allah tiada akan membuat kita jemu sehingga kita sendirilah yang membutuhkan jemu. Dan janganlah kita berputus asa.

إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقٱوٱمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, membebaskan kaum yang kafir”. (Yusuf: 87)

Kedua, kita berperang tidak lain untuk mencari pahala. Sementara pahala jihad yang agung dan melimpah itu butuh kesabaran, niat budi juga keikhlasan hati.

Ketiga , kita berjuang bukan untuk meraih hasil yang segera. Perjuangan jihad adalah perjalanan panjang yang akan berlangsung sampai kiamat hari ini. Jadi sebuah keniscayaan bagi setiap muslim untuk selalu berjihad di jalan Allah sampai kemenangan yang dijanjikan-Nya tiba dan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

 

Keempat, kemenangan dan kekalahan adalah dua hal yang telah ditentukan Allah. Langkah derap kaki kita tetap tegap menang dan walau kekalahan mendera.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 ما من غازية أو سرية تغزو فتغنم وتسلم إلا كانوا قد تعجلوا ثلثى أجورهم وما من غازية أو سرية تخفق وتصاب إلا تم أجورهم

“Tidaklah seorang prajurit atau kumpulan pasukan yang berhasil mendapatkan ghanimah dan mereka selamat, melengkapi mereka telah menyegerakan duapertiga dari pahalanya. Dan membebaskan seorang prajurit atau kumpulan pasukan yang gagal dan tertimpa musibah, tetapi mereka akan mendapat pahalanya penuh ”. (SDM. Muslim)

Menentukan kemenangan dan kalah kalah tugas kita. Sebab takdir menang dan kalah itu ada di tangan Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, takdir ada di tangan Yang Maha Mengetahui lagi Maha Berkuasa.

Kita tidak dapat menentukan sendiri hasil dari usaha. Karena itu, niat haruslah murni seratus persen, tidak perlu bagi apapun yang ingin menang.Tidak membantu ke bumi, tidak mendukung untuk kebebasan. Hanya tujuan untuk hanya terbang ke surga dan surga. Demikianlah jual beli ini berlangsung.

إِنَّ اللَّـهَ اشْتَرَ‌ىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan Jannah untuk mereka …”. (At-Taubah: 111)

Allah tidak mengatakan, “Bagi mereka kemenangan” atau “bagi mereka ghanimah atau bagi mereka Daulah Islamiyah”, tetapi … ”dengan memberikan Jannah bagi mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh dan terbunuh ”.

Inilah empat hal yang harus kita camkan dalam diri kita agar setiap langkah yang kita jejakkan semakin mantap. Aral melintang tidak akan membuat kita gentar dan layu. Justru buat kita terbangun dan sadar jalan perjuangan memang berat haruslah perjuangan berjuang. Jannah telah dijanjikan pada kita di akhirat nanti dan sungguh Allah SWT pasti akan menepati janji-Nya.

Penulis: Dhani El Ashim