بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

Tentunya hal ini berefek buruk bagi persatuan dan persaudaraan di antara umat Islam. Terkhusus untuk para mujahid, haruslah menjadi yang seharusnya. Karena mereka berada di depan, di mana persatuan dan penguatan adalah kebutuhan vital dalam perjuangan.Rasulullah SAW sendiri mencontohkan. Ketika menjejakkan kaki di Madinah, dia langsung mempersaudarakan antar sahabat Muhajirin dan Anshar.

Setelah itu, buat memusatkan seluruh aktivitas kaum muslimin di dalam satu masjid bernama Nabawi.Sekaligus, sebagai simbol persatuan dan kesatuan umat Islam pada saat itu. Kemudian, disusul ada perjanjian-perjanjian dengan orang-orang Yahudi di sekitar Madinah sebagai strategi pemilahan musuh, antara mana yang harus didahulukan atau diakhirkan. Hasilnya, Islam berjaya di seantero Jazirah Arab selama kepemimpinan Rasulullah SAW.

Tauladan lainnya adalah sosok Syaikh Abu Umar As-SaifRahimahullah . Manakala mujahidin Chechnya mulai rapuh karena lebih besar komandannya, apa yang dilakukan Syaikh As-Saif? Dia bersegera menyatukan hati para mujahidin sebelum tercerai berai karena perselisihan.Akhirnya, kekuatan mujahidin Chechnya tetap kokoh dan membuat komunis Rusia gentar.

Jadi, persatuan mujahidin harus selalu terpelihara demi keberlangsungan perjuangan. Oleh karena itu, setiap perselisihan yang terjadi harus segera di tangani dengan cepat dan tepat. Syaikh Abdullah Al-Adam memberikan beberapa adab dalam hal ini. Dia sadar, sebagian besar. Dien atau duniawi, ada yang ijtihadiah atau luas. Dapat dipastikan akan muncul perbedaan pendapat yang dimiliki. Maka, inilah yang sama-sama harus terlihat:

Pertama:   Menyerahkan semua urusan kepada Allah dan menghilangkan fanatisme.

Salah satu penghancur kebersamaan adalah sikap fanatisme seseorang pada kelompok atau pada pendapatnya pribadi. Sikap intoleransi terhadap pendapat orang lain dapat menyebabkan keretakan hubungan dan berujung pada perpecahan. Suatu hal yang sulit dihindari adalah rasa ego dalam diri Anda, yang dapat menimbulkan rasa paling benar dan berakhir pada rasa fanatisme.

Sudah semestinya, pembahasan yang dibicarakan dengan kepala yang dingin, membuang rasa fanatisme atas pendapatnya dan menyerahkan semua hanya kepada Allah. Jika seluruh lapisan anggota ada dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat, keutuhan tetap terjalin karena tujuan mereka hanya satu, yaitu ridha Allah SWT.

قل أطيعوا الله و أطيعوا الرسول فإن تولوا فإنما عليه ما حمل و عليكم ما حملتم و إن تطيعوه تهتدوا وما على الرسول إلا البلاغ المبين

Katakanlah: Turutilah olehmu perintah Allah dan turutilah perintah Rasul. Namun, jika Anda masih berpaling juga, namun hanya tugas pelaksananya yang dilaksanaklan untuk disetujui, dan kewajiban Anda pun harus dilakukan sesuai dengan tugas yang dipikulkan kepada Anda. Namun jika kamu patuhi dia, niscaya kamu akan mendapat petunjuk. Dan diberikan kepada Rasul tiada yang lain hanyalah hak untuk disampaikan dengan sejelas-jelasnya. (An-Nuur: 54)

Kedua: Bersikap lemah lembut kompilasi sulit pendapat

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Serta ucapkanlah kata-kata yang bai k.” (Al-Baqarah: 83)

Syaikh Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya makna makna ayat ini adalah perintah Allah kepada mereka untuk bertutur kata yang baik untuk semua manusia. Imam Hasan Al-Basri menambahkan, bertutur kata yang baik adalah dengan beramar ma’ruf dan nahi munkar, mendukung ilmu agama, menerjemahkan salam, tersenyum dan perkataan baik lainnya.

Dalam perintah bertutur kata yang baik untuk semua manusia, yang diminta oleh ihsan secara umum, baik dengan perkataan, tindakan, serta harta. Di sini, Allah SWT telah memberi keringanan, yaitu minimal berbicara dengan perkataan atau mengucapkan. Allah berfirman kepada manusia agar ucapan dan tindakannya bersih dari perkara keji, kotor, mencaci maki dan bermusuhan.

Sikap ini pun telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW manakala berkomunikasi dengan kaum kafir Quraisy.Rasulullah SAW menjawab dengan lemah lembut mereka menjawabnya dengan kata-kata kasar. Pada dasarnya, perkuatan lemah lembut itu memengaruhi muru’ah atau kehormatan seseorang.

Orang yang berkata lemah lembut tentu akan lebih menyukai orang yang berkata kasar. Begitu pula saat terjadi perselisihan, kata-kata yang lembut akan memengaruhi jalannya kebebasan atau perselisihan dengan dingin tanpa transisi yang menyala-nyala.

Ketiga: Mengedepankan husnudz an (baik sangka) dan bertutur kata yang baik

Husnudz dan pada orang lain adalah salah satu akhlak dasar dari pergaulan antar sesama muslim. Telah diakui tidak ada orang yang sempurna, jadi tidak sepantasnya orang yang percaya lebih baik dari yang lain.

Ketika seseorang memiliki pendapat tentang hal yang berseberangan dengan yang lain, maka rasa husnudzanharus dikedepankan antar sesama. Karena husnudz anpada Allah dan manusia adalah salah satu cabang iman.Seharusnya, seorang muslim menjauh dari prasangka buruk, karena hal ini merupakan perangai kejahatan yang dikecam Al-Qur’an dan Sunnah.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauh lebih besar dari prasangka, lebih besar prasangka itu adalah dosa.” Al-Hujurat: 12)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

Informasi tambahan: Pembaca

“Jauhilah prasangka (jelek), karena sangat prasangka (jelek) itu adalah omongan yang paling dusta.” (HR . Muttafaq Alaih)

Keempat: Tidak terdengar suara kompilasi terjadi perselisihan

Mengangkat suara kompilasi berdebat identik dengan bentuk logik yang meledak. Tentunya, hal ini diperbaiki adab yang baik berbicara di depan khalayak. Salah satu yang paling sulit dipahami karena tidak bisa berkomunikasi.

Syaikh Athiyatullah Al-Libiy Rahimahullah mengatakan ,“Tidak perlu lagi mengatakan bahwa tidak perlu diangkat sebagai sesuatu yang buruk.” Salah satu ad ab kompilasi berdiskusi, berdebat, berbicara yang baik adalah berbicara suara dengan tidak mengeraskannya kecuali karena kebutuhan agar para peserta dapat mendengarkan suaranya. “

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ

“Dan suaramu yang rendah.” (Luqman: 19)

Kelima: Saling bersepakat bahwa perselisihan yang terjadi hanyalah perbedaan dalam masalah khilafiyah saja dan merupakan bentuk karagaman. Bukan dalam bentuk yang serius dalam masalah ushuluddin yang berdampak pada keimanan seseorang.

Contoh Perbedaan menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah soal dialek dalam bacaan Al-Qur’an para shahabat, masalah takbir pada shalat ied, takbir shalat jenazah dan lainnya. Untuk itu, perselisihan yang terjadi hanyalah perbedaan yang biasa di dalam Islam, tidak perlu dilihat, lebih sampai menimbulkan perpecahan.

Penulis: Dhani El Ashim