PENGORBANAN BERBUAH SURGA
‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
‎‎﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾
‎‎‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾
‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
Dipagi hari yang syahdu ini, ditengah gemuruh lantunan takbir, tahmid dan tahlil, diiringi dengan tasbih para makhluk, burung-burung, pepohonan, lautan dan daratan serta seluruh yang ada di langit dan di bumi,
﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا﴾
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS. al-Isra’ : 44)
Tasbih berhias suka cita yang terkadang tumpah dalam linangan air mata bahagia, maka kata syukur dan pujianlah yang pantas kita ucapkan dan kita dendangkan sebagai wujud kebahagiaan atas segala nikmat yang tak terhingga dari Zat Yang Maha Memberi. Betapa banyak dosa yang kita angkat kepada-Nya sedang Dia (Allah) membalas dengan limpahan nikmat, rahmat serta ampunan yang tiada batasnya. Kita bersimbah dosa, Dia menutupinya dan senantiasa menyeru kita untuk kembali kepada-Nya..
﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ﴾
Katakanlah: “Hai wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”. (QS. az-Zumar : 53-54)
Atas segala nikmat itulah, apakah tidak sepantasnya kita lebih giat beribadah dan menyembah kepada-Nya?
Atas segala karunia itulah, apakah tidak sepantasnya kita semakin menghambakan diri kepada-Nya?
Atas segala pemberian itulah, apakah tidak pantas kita berkorban untuk meraih yang lebih tinggi yang telah dijanjikan-Nya? Itulah Surga Firdaus yang menjadikan lambung-lambung orang-orang shaleh terdahulu jauh dari pembaringan, mereka meninggalkan istirahat sejenak untuk beristirahat selamanya, mereka bersabar dengan payahnya ketaatan sesaat yang akan berganti dengan kenikmatan tiada tara, mereka bersabar meninggalkan maksiat demi diselamatkan dari penderitaan tak berpenghujung yaitu neraka..
﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴾
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan”. (QS. as-Sajadah : 16)
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil hamd...
PENGORBANAN BERBUAH SURGA…
Diantara pengorbanan yang tertulis indah dalam tinta sejarah adalah pengorbanan seorang hamba yang disifatkan sebagai ‘ummat’ dalam kesendiriannya..
﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ‘Ummat’”. (QS. an-Nahl : 120)
Diangkat menjadi kekasih Allah ‘khalilullah‘, bapak semua nabi dan rasul, Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam begitu pula putranya Ismail ‘alaihissalam. Keduanya mengajarkan kepada kita arti pengorbanan yang sebenarnya. Pengorbanan dalam melawan hawa nafsu, ajakan setan demi meraih keridhaan Tuhan yang berbuah Surga. Sejarah mengisahkan betapa hati beliau pilu bepuluh-puluh tahun lamanya sampai beliau menginjak usia senja memohon kepada Allah seorang anak, kepiluan seorang hamba yang terbisikkan dan tertumpahkan dalam doa-doa tulus, bisikan lirih namun menembus tujuh lapis langit..
﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. as-Shaffaat : 100)
Akhirnya, Allah.. Tuhan Yang Maha Mendengar mengabulkan permohonan hamba-Nya, Dia membuktikan kekuasaan-Nya ketika seluruh manusia menganggap bahwa sebuah kemustahilan beliau akan memiliki keturunan dengan usia beliau dan istrinya yang telah senja. Namun, tiada yang mustahil bagi Zat yang Maha Berkehendak…
Lahirlah sang bayi pelipur lara penyejuk jiwa, Ismail yang dikemudian hari diangkat menjadi seorang nabi yang mulia.
Ujian pengorbanan Ibrahim belumlah berhenti, datanglah titah Ilahi dalam mimpi, yang mana mimpi seorang nabi adalah ‘haq’, wahyu dari Allah, perintah untuk menyembelih putra kesayangannya ‘Ismail’… Ya Allah! Ujian apakah ini?! Anak yang lama dinanti, bertahun-tahun dipinta dalam doa, dan di usia yang sudah senja, setelah lahir Allah pun menyuruh beliau untuk menyembelihnya..
Namun Subhanallah! Semua itu dilaksanakan oleh Ibrahim dan putranya. Bisikan jiwa, godaan setan runtuh berhadapan dengan kekokohan iman dan rasa cinta pada Sang Pencipta pemilik langit dan bumi. Dan dengan segala pengorbanan itulah nama beliau diabadikan dalam kitab yang paling mulia (Al-Qur’an) yang terus dibaca hingga akhir zaman, bahkan menjadi qudwah bagi sekalian alam.
Dengan pengorbanan itulah, beliau telah mendahului kita dengan kenikmatan tiada hingga disisi Tuhan pencipta alam semesta..
﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ… ﴾
“Sungguh pada diri Ibrahim terdapat suri teladan yang mulia…”.(QS. al-Mumtahanah : 4)
Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd..
PENGORBANAN BERBUAH SURGA…
Kisah pengorbanan pun terus berulang, dari hamba-hamba yang shaleh…
Di suatu malam, Aisyah radhiallahu ‘anha terharu melihat kaki Rasulullah yang bengkak karena qiyam sepanjang malam, dengan penuh hiba beliau bertanya,“Ya Rasulullah, buat apa Anda sampai seperti ini, Anda yang telah mendapatkan jaminan ampun dari dosa-dosa masa silam dan yang akan datang, untuk apa semua ini?” Dengan penuh cinta beliau menjawab, “Tidakkah pantas aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan kekasih Allah, pemimpin semua nabi dan rasul melalui ujian demi ujian dalam kehidupannya. Beliau rela berkorban demi membuktikan cinta beliau pada Allah. Beliau terlahir dalam keadaan yatim piatu, selama beliau berada di Makkah beliau mendapatkan intimidasi tak berperi, segala tuduhan keji beliau dapatkan (tukang sihir, tukang syair, gila dsb), beberapa kali percobaan pembunuhan beliau dapatkan, beliau ke Thaif berdakwah namun disambut dengan sambitan batu dan cemohan, sahabatnya disiksa dan dibunuhi di depan matanya dan beliau cuma bisa mendoakannya, sebagaimana doa beliau pada keluarga Yasir (Sabran Ala Yasir fainna mau’idakum Al-Jannah) ‘bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Surga’. Paman beliau Abu Thalib yang merupakan pembela dan pengayom dakwah beliau meninggal, tak berselang lama sang istri tercinta ‘Khadijah’ juga meninggal di tahun yang sama, wanita yang mendampingi perjuangan beliau, wanita yang beriman ketika seluruh manusia mendustakan dakwah beliau, yang berkorban dengan segala jiwa, raga dan harta demi perjuangan dakwah Nabi, sehingga tahun itu dikenal dengan ‘tahun duka cita’, dan puncak ujian pengorbanan beliau ketika beliau dengan sedih meninggalkan kampung halaman, tempat kelahiran beliau, hijrah ke Medinah demi menolong agama Allah. Di perbatasan menuju Medinah dengan penuh kesedihan beliau seakan berbicara dengan Kota Mekah,“Sesungguhnya engkau tahu (wahai kota Mekah) engkaulah tempat yang paling aku cintai, andai pendudukmu tidak mengusirku niscaya aku tak akan meninggalkanmu).”
Setiba di Medinah ujian pun terus mendera, Sahabat-sahabat beliau berguguran di medan jihad, paman beliau Hamzah syahid di medan Uhud dengan dada terkoyak dan jantung terburai. Rumah tangga beliau diguncang fitnah ketika Aisyah dituduh melakukan perbuatan selingkuh oleh orang-orang munafik. Anak-anak beliau, beliau saksikan meninggal kecuali Fatimah yang meninggal beberapa bulan setelah kematian beliau. Sungguh ujian dan pengorbanan yang luar biasa, namun sekarang beliau telah kembali kepada Tuhannya, beristirahat dengan tenang dan di hari kiamat beliau menunggu umatnya di sebuah telaga yang jika seteguk air darinya diminum maka tidak ada rasa haus untuk setelahnya..
Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd
Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah..
PENGORBANAN BERBUAH SURGA..
Tak pernah berhenti di sepanjang masa..
Allah memilih diantara hamba-hamba-Nya yang dimuliakan dengan pengorbanan itu..
﴿مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا﴾
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)”. (QS. al-Ahzab : 23)
Ada yang berkorban dengan nyawa demi mempertahankan akidah yang kokoh seperti Asiah bintu Muzahim istri Fir’aun..
Ada yang berkorban dengan dibantai berjamaah seperti kisah Ashabul Ukhdud..
Ada yang berkorban membeli surga dengan hartanya seperti Abu Bakr, Utsman bin Affan, Khadijah dan Abdurrahman bin Auf..
Ada yang berkorban dengan masa mudanya seperti Mush’ab bin Umair, pemuda kaya raya yang diboikot oleh keluarganya karena mengikuti dakwah tauhid, yang diakhir hidupnya Rasululullah terharu karena tak ada yang menutupi jasadnya kecuali sepotong kain yang jika ditarik ke kepala tersingkap kaki beliau dan jika ditarik ke kaki tersingkap kepala beliau…
Dan masih banyak lagi hamba-hamba pilihan yang mengorbankan segalanya demi membuktikan cinta pada Allah..
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd..
PENGORBANAN BERBUAH NERAKA…
Ketika sejarah menorehkan kisah pengorbanan berbuah surga maka Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa sebagian manusia ada yang berkorban namun pengorbanan mereka berbuah azab yang pedih, kehinaan dan neraka.
Merekalah para pengusung kebatilan, mereka bekerja siang dan malam demi memadamkan cahaya agama Allah, mereka letih, begadang, dihina dan dicerca namun mereka bersabar..
﴿…فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ﴾
“…Betapa sabarnya mereka dengan neraka”.(QS. al-Baqarah : 175)
Dana besar tak ternilai pun mereka gelontorkan untuk memenangkan apa yang mereka serukan demi menyesatkan manusia. Apapun mereka bisa beli namun sungguh, semua itu sia-sia.
﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”. (QS. al-Anfal : 36)
﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. as-Shaf: 8)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd
PENGORBANAN BERBUAH SURGA…
Selanjutnya, mari kita melihat diri-diri kita…
Apakah yang sudah kita korbankan untuk sampai di surga Allah?!
Apakah yang sudah kita korbankan demi meraih keridhaan Allah?!
Apakah yang sudah kita korbankan untuk meraih ampunan Allah?!
Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan membuat kita merasa malu pada Allah dan pada diri kita sendiri..
Betapa sulitnya kita berkorban sampai untuk diri kita sendiri..
Shalat lima waktu sering kita lalaikan atau tidak mengerjakannya di awal waktu, Subuh terkadang kesiangan, sedangkan jika kita memiliki perjalanan bisnis dengan pesawat terbang, kita berusaha tidak terlambat untuk hadir di bandara walau waktunya dini hari sekalipun..
Begitu beratnya kita terbangun di malam hari untuk qiyamullail dan tahajjud, sedangkan untuk pertandingan sepakbola kita rela begadang semalam suntuk hanya untuk menyaksikan klub jagoan kita yang merumput di lapangan hijau.
Jika yang dibangun adalah mall-mall, ruko-ruko dan pusat perbelanjaan maka hanya dalam hitungan bulan sudah berdiri megah, namun untuk merampungkan pembangunan sebuah masjid terkadang pengurus harus setiap Jumat meminta sumbangan dari  jamaah, dan terkadang itu sampai bertahun tahun…
Subhanallah!..
Manakah bukti bahwa kita adalah para perindu surga yang rela berkorban dengan segala yang dimiliki untuk meraihnya?
Allahu Akbar,  Allah Akbar, Walillahil hamd...
Fenomena lain…
Hari ini, realita yang memilukan, dari sebagian oknum aktivis dakwah, justru yang dikorbankan adalah kawan sejalan yang sama-sama meniti jalan perjuangan para nabi, menyeru kepada yang makruf serta mencegah dari kemungkaran. Saling melempar tuduhan keji tanpa tabayyun, mencemarkan kehormatan sesama dai secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, saling berbalas hujatan di dunia maya dan nyata, vonis prematur yang keji pada sebagian ulama dan penuntut ilmu, merasa diri dan kelompoknya yang paling benar, menghukumi niat-niat orang yang menyelisihinya tanpa berusaha memberi udzur dan alasan Ukhuwah Islamiyah yang mulialah yang jadi korban, kehormatan sebagian ulama dan dai yang menjadi tumbal, waktu dan tenaga tergerus untuk hal yang sia-sia, padahal musuh-musuh agama semakin solid merapatkan barisan sedang sebagian kita masih berkutat dan berdebat pada masalah-masalah fiqhiyyah dan ijtihadiah atau saling klaim siapa yang berada diatas ‘manhaj yang kokoh.’ La hawla wala quwwata illa billah
Tidakkah seyogyanya kesemuanya itu kita akhiri? Marilah kita kembali pada tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Al-Qur’an memerintahkan kita untuk bersatu, berukhuwah, berbaik sangka, saling membantu antara yang satu dan lain. Al-Qur’an melarang perpecahan, perselisihan, saling memusuhi, mencari-cari aib, ghibah, namimah dan adu domba.
Semua sudah jelas, semua sudah gamblang.
Berbeda pendapat adalah sunnatullah, namun mari kedepankan adab dan nasihat yang bijak dan santun, dahulukan prasangka baik kepada saudara kita sebelum memvonis. Perkara-perkara yang bisa menyatukan kita lebih banyak dari hal-hal sepele yang terkadang membuat kita saling memusuhi antara yang satu dengan yang lain..
Fenomena lain..
Perebutan kekuasaan, kepentingan politik yang menjadikan persaudaraan sebagai korban. Fenomena saling cekal, saling hujat, saling mencurigai menjadi sajian rutin setiap waktu, Hoax berseliweran dimana-mana, rakyat kecil yang ikut menjadi korban yang mana semua  selalu mengatasnamakan ‘rakyat’ demi merebut simpati yang pada kenyataannya hanya untuk keserakahan pribadi dan golongan. Begitu mudahnya persahabatan yang telah terjalin lama menjadi korban demi kepentingan sesaat.Betapa murahnya harga diri dijual hanya untuk mengamankan kantong-kantong pribadi atau perusahaan-perusahaan pribadi.Bahkan betapa gampangnya agama digadaikan, idealisme menjadi tumbal hanya demi meraih sedikit keuntungan duniawi dan secuil kekuasaan semu.
Wallahul musta’an..
Tidakkah sepantasnya ini kita akhiri?
Bukankah harta, pangkat, jabatan bahkan dunia ini adalah sesuatu yang fana?! Dunia terlalu hina untuk membuat kita saling memusuhi antara yang satu dengan yang lain. Hanya karena beda pilihan dalam pilpres atau pilkada kita saling membelakangi, bahkan yang memilukan berita yang kita dengar ada sebuah rumah tangga yang terpaksa harus bubar hanya gara-gara beda pilihan dalam pemilihan kepala desa.Subhanallah..!
Saatnya kita mengorbankan sifat arogansi kita, saatnya kita kuburkan sifat-sifat jahiliah kita, dan sekaranglah saat untuk kita kembali merajut persatuan dan ukhuwah demi mencapai keridhaan Allah.
Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita kepada jalan-jalan kebenaran dan keistiqamahan dan menjaga kita dari segala fitnah dan ujian, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Amin Ya Rabbal ‘Alamin..
KHUTBAH KEDUA:
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
Sebelum kita menutup khotbah ini, sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa hari ini kaum muslimin di seluruh penjuru dunia melaksanakan sebuah ibadah yang mulia yaitu berkurban, oleh karenanya Khatib berpesan beberapa hal, diantaranya; hendaknya yang berkurban senantiasa menjaga keikhlasannya agar diterima disisi Allah. Hewan kurban lebih afdal disembelih sendiri namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Daging kurban dibagi menjadi tiga, yaitu untuk dimakan oleh yang berkurban, dihadiahkan, dan disedekahkan kepada fakir miskin. Waktu penyembelihan bisa sampai hari terakhir dari hari-hari tasyriq.
Akhirnya di penghujung khutbah ini marilah kita berdoa seraya menengadahkan jiwa memohon kepada Yang Maha Memiliki Segalanya.
‎الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَا لَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
‎﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ﴾
‎‎﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ﴾
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Gaffar..Ampuni dan maafkan segenap dosa kami, yang tampak maupun yang tersembunyi, jika Engkau tak memaafkan kami, kepada siapa kami akan memohon maaf dan ampunan.
Ya Allah, Ya  Lathif , yang Maha Lembut… Sayangi kami dan seluruh hamba-Mu yang beriman, dimanapun mereka berada.
Ya Allah, Ya Hafizh…Jaga dan berkati keluarga dan anak-anak kami dengan keimanan, keshalehan dan ketakwaan, karuniakan mereka Al-Quran yang berada dalam dadanya, menjadi cahaya menuntun langkah-langkahnya, satukan kami di dunia dalam ketaatan pada-Mu dan perjuangan dibatas Jalan-Mu, serta satukan kami di akhirat dalam Jannah-Mu yang kekal abadi.
Ya Allah,  Ya Rahim… rahmatilah setiap ayah yang senantiasa berkorban demi menuntun istri, anak-anak dan keluarganya diatas jalan-Mu, yang berusaha menyelamatkan mereka dari api neraka-Mu. Rahmatilah setiap ibu yang berkorban dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya dengan tak kenal lelah dan peluh. Rahmatilah setiap wanita yang senantiasa mempertahankan keistiqamahannya, menutup aurat dengan hijabnya. Rahmatilah setiap pemuda yang berusaha tumbuh diatas ketaatan kepadamu. Lindungilah mereka semua dari segala keburukan..
Ya Allah… Ampunilah  dosa-dosa  ayah  dan ibu kami, jagalah mereka yang masih hidup dan rahmatilah mereka yang telah meninggal, bantulah kami untuk senantiasa berbakti kepada mereka, demi meraih rahmat dan ridha-Mu.
Ya Allah, wahai Rabb kami, jadikanlah agama-Mu memandu kehidupan hamba-hamba-Mu di negeri ini dan seluruh negeri kaum muslimin. Jadikanlah penduduk negeri ini bahagia dengan tegaknya agama-Mu di atasnya.
Ya Allah!.. Anugerahkanlah kepada kami pemimpin yang saleh, yang senantiasa takut kepada-Mu dan sayang kepada kami, yang pada kebaikan senantiasa mengajak dan bukanlah mengejek, yang senantiasa merangkul dan bukanlah memukul, yang senantiasa membimbing dan bukanlah menggunjing, yang selalu menerima argumen dan bukanlah melemparkan sentimen.
Ya Allah, Ya Karim.. Jagalah negeri kami yang tercinta ini. Barangsiapa yang menginginkan kebaikan untuknya, maka alirkanlah kebaikan itu lewat tangannya. Dan barang siapa yang menyembunyikan niat buruk untuk berbuat kerusakan maka, kembalikanlan makar dan kerusakan itu kepadanya..
‎﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
‎وَصَلِّ اللّهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي آلِهِ وِ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here